Pages

04 January, 2013

Hari ke-4: Enjoying Leiden, The City of History

            Watch out: It'd be a long-long-post! 

       Suatu saat kami cukup bingung untuk memutuskan mau kemana weekend kali itu. Hal pertama yang krusial adalah soal budget. Yah, karena budget untuk transport (selain bersepeda) disini cukup merogoh kocek kami dalam-dalam. Volendam. sempat terbersit di pikiran kami. Kota wisata yang sangat populer, dimana disana kamu bisa melihat perkampungan Belanda kuno, mengunjungi pabrik clog atau klompen, pembuatan keju, dan yang pasti foto dengan pakaian tradisional Belanda seperti yang kondang dilakukan oleh para turis-turis jika melancong kesini. Namun karena hanya akan foto studio (tujuan utama) dan lokasi yang cukup jauh dari penginapan (Utrecht), maka kami urungkan niat tersebut. Ada juga temen yang mau ke Friesland, tapi kami sama sekali nggak tertarik. Akhirnya pilihan kami jatuhkan ke Leiden, yang meskipun dipikir-pikir lagi, ongkos transportnya ya lumayan. Untuk sekali jalan naik kereta dari stasiun Driebergen (Zeist) ke Leiden Centraal kita butuh 10 euro, kalo PP ya jadi 20 euro -_- Alasan kami pilih ke Leiden, karena selain kota bersejarah, disana juga terkenal dengan universitasnya yang terkemuka (fyi: Universiteit Leiden adalah universitas  tertua di Belanda dan banyak alumni jurusan Sejarah melanjutkan sekolah disini, kampus impian mahasiswa lah), alasan lain sih pengen city tour aja. Disini sebenarnya juga ada KITLV atau Institut yang menyimpan dokumen/koleksi untuk kajian Kepulauan Karibia dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia! Sayangnya hari itu hari Minggu dan tentu saja libur :( Setelah kami atur rencana, kami pun berangkat besok paginya lebih kurang jam 9 atau 10 (lupa) Kami berangkat menggunakan minibus yang disediakan oleh panitia summercourse menuju stasiun Driebergen (stasiun terdekat dari Woudschouten, tempat tinggal kami). Perjalanan memakan waktu lebih kurang satu jam dengan cuaca yang cukup dingin namun tidak begitu basah.
Driebergen Station, Zeist, Utrecht.
suasana didalam kereta kelas ekonomi yang sangat nyaman
Sesampainya di Leiden Centraal, kami musti menunggu teman yang mau ke toilet, disini pake toilet juga bayar cin, lupa berapa harganya tapi nggak lebih dari 1 euro yang jelas. Kemudian sebelum mulai eksplore kotanya, kami berniat untuk mengisi perut, karena sarapan yang disediakan di hotel jarang sesuai daya tampung perut hehhe, kalo nggak roti, ham, scrambled egg, ya roti selai, dan buah hehe. Kami udah niat banget makan nasi!!! Nasi sungguhan!! Karena nasi yang dibikin di hotel pasti setengah matang, agak keras dan gak tasty banget! Maka dari itu kami berjuang mencari restoran Asia hari itu hanya untuk menikmati nasi atau masakan Asia yang se-la-yak-nya. Sialnya hari Minggu kebanyakan toko-toko disini menutup lapaknya. Kami diuntungkan dengan kehadiran restauran Asia yang telah buka ''di pagi-pagi buta'' ini. yes!!! Kami pun langsung pesan nasi goreng dengan porsi genderuwo alias nggak taunya banyak banget dan seharga 9 euro! *garuk-garuk dompet* Itu adalah makanan termewah yang kami beli pake kocek kami sendiri! -__- Usai perut penuh, kami kemudian mulai jalan-jalan ke kota berbekal peta dan insting.... insting nyasar. Dari centrum (pusat kota) kami memasuki beberapa outlet seperti H&M, (disini H&M itu kayak toko matahari yang umumnya di tiap kota ada sekaligus  brand umum yang nggak mahal-mahal amat alias standard) terus lanjut ke taman kota, gereja, Leiden University, Kantor Walikota, Taman Rembrandt, Museum Kincir Angin, dan itu kami lakukan semuanya hanya dengan jalan kaki! Iyalahhh! Sekecil gitu kotanya! Jalanan pun nggak ramai di hari minggu. Santay brayy


Stasiun Leiden Centraal
tempat parkir sepeda
           Di Leiden kami juga bertemu dengan seorang bapak warga negara Indonesia yang telah lama menetap disini dan sempat ngobrol bersama kami. Doi lagi sepedaan gitu nggak tahu mau kemana. Di Leiden ada restoran indonesia yang cukup kondang diantara mahasiswa Indonesia, ini juga yang direkomendasikan oleh temanku yang belajar disini, namanya Selera Anda restoran yang menjual makanan khas Indonesia. Sayangnya saat kami melintasi kedai tersebut belum buka, atau memang libur? Banyaknya warga Indonesia baik yang migrasi atau memang secara keturunan telah menetap disini membuat banyak restoran khas Indonesia bermunculan disini. What coincidence!

suasana kota yang lengang Hari Minggu
Molen museum (museum kincir angin) 'De Valk'
we really missed nasi!! Lihat porsinya! Rasanya worth it lah ya, harga 9 Euro dengan porsi segede itu hihii
salah satu sudut di Zeeman -toserba di Belanda- (kutangnya bra-nya gede-gede yah? o_O)
di pusat kota (centrum) ruko-ruko berjejeran
Leiden Stadhuis - Kantor walikota Ledien
Yang kami kunjungi ini adalah gedung akademiknyan Universitas Leiden
Nah di belakang gedung akademik ini, ada Hortus Botanicus atau taman botani tertua di Belanda
bertemu dengan orang Indonesia, menuju perjalanan pulang
Banyak restoran Indonesia :9
Rembrandtplein  


Leiden merupakan kota kelahiran pelukis terkenal, Rembrandt. Ia menghabiskan 25 tahun pertamanya disini. Beberapa keluarganya juga tinggal di sekitar area tersebut  (Rembrandtplein) dan neneknya sempat memiliki salah satu kincir angin di sana, Rembrandt juga turut membeli dua taman di daerah itu.
mungkin ini kincir angin yang dimaksud, karena berada tak jauh dari Rembrandtplein
mungkin juga ini taman warga yang dimaksud, ini berada di sebelah kincir angin di atas
nah, kalo ini salah satu rumah warganya
santai sejenak sebelum pulang, di depan Museum Volkenkunde
       Museum Volkenkunde merupakan museum etnologi yang menyimpan sejumlah koleksi yang dikumpulkan dari para kolekter kondang. Beberapa koleksinya antaralain lukisan Jepang, koleksi dari jaman akhir Edo, perhiasan India, tembikar Pueblo, bahkan koleksi wayang, batik, keris dari Jawa! Nah teman saya yang sekolah disini, si Trisa, pernah magang disana :)
           Okay! So that was our awesome trip in Leiden. Simpel sih, meski cuma jalan-jalan di kotanya aja -tanpa masuk tempat wisata atau hiburan- tapi banyak hal yang bisa kita tahu dari Leiden, kota impian dimana banyak orang ingin belajar disana! Ciao!

9 comments:

  1. Waah pengen deh suatu saat bisa ke museumnya yang isinya ada koleksi-koleksi barang kuno dari Jawa.
    Btw kalo ke dalem museumnya nggak boleh motret ya kak? Kok nggak ada fotonya pas di dalem museum, hehe

    ReplyDelete
  2. kita emang nggak masuk, karena itu hari Minggu dan tutup. Di Belanda emang banyak museum yg menyimpan koleksi Jawa, salah satunya yg juga terkenal adl Tropen Museum di Amsterdam, disana ada koleksi dari berbagai belahan Indonesia :)

    ReplyDelete
  3. kantor walikotane apik bangeti ihhh. eh kamu main ke tempat yg ada miniatur kota kecil2 itu ga sih tan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ember cyiiin.... iya itu namanya Madurodam, ada di Den Haag, nanti akan aku post berikutnya. Stay tune :*

      Delete
  4. blognya keren... jadi pengen jalan ke Eropa... doakan tahun depan tabungannya cukup

    http://dananwahyu.wordpress.com

    ReplyDelete
  5. leiden... apa benar pusat seni di belanda seperti yang banyak orang katakan? foto-fotomu membuat semangatku tetap menyala untuk bisa menginjakan kaki di belanda

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau untuk pusat seni aku kurang tau tepatnya di kota apa. Ayo tetap semangat injakkan kaki di Belanda!! Dream. Believe. and make it Happen! Kaya' kata Agnez.Kalau kita percaya akan mimpi kita, nggak peduli deh oranglain mau bilang apa :))

      Delete
  6. kereenn!
    tu kereta ekomnomi aja kaya gitu.. hoho., di Indoneia dah jadi eksekutip dah. :D

    ReplyDelete