08 november, 2013

Kopi dan Bola

derby mataram @ Maguwo Internasyenal Stadiyum
Kopi dan Sepakbola

Pasti banyak sudah yang tidak mendustakan dua kenikmatan ini. Nonton bola sambil ngopi. Atau ngopi sehabis main sepakbola? Sesukamu lah.

Everything has been changing. Kata saya. Dulu saya nggak biasa minum kopi. Minum kopi cuma nyruput kopi oranglain, jarang bikin kopi buat dinikmatin sendiri. Itu pun kopi sobek alias kopi saset. Kopinya pun kopi blend-blend an. Sekarang? Saya rutin ngopi. Paling nggak sehari satu atau dua kali. Wajib minum tiap pagi. Kopinya kopi gilingan dari biji kopi asli. Bukan lagi kopi sobek dan diminum tanpa gula.

Dulu saya benci bola. Sering saya rebutan channel tv, jamannya musim piala dunia. Sampai saya nangis karena ga bisa liat siaran lain selain bola. Suka heran banget, kenapa bola satu bisa-bisanya direbutin dan ditonton banyak orang. Sekarang? Saya bisa sering nonton tim bola lokal/timnas di stadion, nonton bareng liga italia dan timnas di warung kopi. Kadang baca kolom berita bola lokal, nasional maupun internasional.

Hmm… adakalanya ada hal yang dibenci namun tidak terelakkan untuk bisa disukai hehehe bisa jadi karena trend, yang memaksa kita menyukai sesuatu, atau bahkan disebabkan oleh seseorang, yang "meracuni" kita untuk menyenangi hal yang sama. Kalau mengaitkan dua hal di atas maka akan menemukan satu orang yang juga gila akan dua hal itu dan mengenalkannya kepada saya. Lagi-lagi, siapa lagi kalau bukan partner saya? :P Energinya di pagi hari berangkat dari kopi. Sudah seperti nasi, kopi jadi santapan wajib sehari-hari. Begitu juga dengan sepakbola, yang dianut setaat agamanya. He he he That's right, bener kalau dia lah yang punya andil dalam "meracuni" saya untuk hobi minum kopi dan rutin nonton bola. 


Seperti orang bilang, kita nggak pernah bisa jatuh cinta sama sesuatu tanpa kita pernah mencoba atau terlibat didalamnya, ibarat kata: cinta nggak pernah buta hehehe Maksudnya segala hal harus bisa dilihat, dirasakan, dan dilakukan *apasih* ya gitu deh intinya butuh sebuah proses untuk bisa mengubah perasaan benci menjadi jatuh cinta *tsaaah* Entahlah saya ini ngomong apa. Yang jelas sudah ada banyak hal yang berubah dalam kebiasaan saya saat ini.. wohooo.!

Kadang Nggak Butuh Alasan

Selamat malam, blog!

Dari salah satu kolong langit saya kembali menyapa, yay!

            Malam ini baru saja aku pulang dari menonton sepakbola di MIS (Maguwoharjo International Stadium). Sejak kapan jadi suka nonton bola? Sejak berpartner dengan seorang fans sepakbola? Bisa jadi. Benar memang semenjak berpartner dengan seorang Sleman fans, saya jadi rutin mengunjungi MIS untuk menengok PSS berlaga. Padahal dari kecil saya sudah terdoktrin untuk tidak pernah suka akan sepakbola. Hmmmm eng ing eng... siapa sangka saat ini saya jadi akrab dengan stadion dan sering ikutan nonbar laga sepakbola timnas ataupun liga italia :)) Now the world has been changing 
Malam ini istimewa, pasalnya PSS Sleman akhirnya resmi lolos ke Final Divisi Utama dengan unggul 3-0 dari Persitara. Akhirnya ya...setelah pertandingan demi pertandingan dilewati, kini saatnya gelar juara yang sesungguhnya telah dinanti oleh para Slemania, Brigatta Curva Sud, (keduanya adalah julukan untuk supporter Slemania) dan Sleman fans lainnya. 
Sedikit bercerita, barangkali ada beberapa yang mengherankan: kenapa saya yang notabene tinggal di kotamadya justru intens menonton dan mendukung PSS Sleman, yang jelas bukan kabupaten dimana saya tinggal, dan bukannya malah mendukung tim sepakbola asal kota Yogyakarta yaitu PSIM? Tidak munafik sih memang kalau pada awalnya saya mulai menonton PSS karena ajakan partner saya, yang memang orang Sleman dan fanatik akan PSS Sleman-nya. Kemudian sejak pertandingan sepakbola liga Indonesia pertama yang saya tonton itu, saya mulai intens menonton laga-laga berikutnya. Bukan lagi menonton karena ajakan partner tapi karena secara pribadi saya punya keinginan sendiri untuk menonton. Sudah bukan rahasia lagi kalau menonton PSS bertanding pasti akan mendapat sajian hiburan dari supporternya yang selalu riuh bernyanyi 2 x 45 menit non-stop plus koreografi yang tak pernah lelah disuguhkan. Poin plus ini yang membuat saya atau barangkali ribuan penonton lainnya betah mengikuti pertandingan tim kesayangan mereka. 
Oiya, ada satu hal yang belum kesampaian buat diwujudkan, yaitu ikut awaydays, menyaksikan PSS tandang ke kota lain merupakan kepinginan saya beberapa waktu lalu. Faktor keamananlah yang belum mengijinkan saya untuk ikutan awaydyas. Pingin sih liat atmosfer pertandingan PSS di kota lain, pasti akan berbeda dengan laga yang digelar di MIS.
Fanatik? Saya sih belum sampai fanatik buat mendukung PSS, so far, saya cuma senang bisa ikut menonton dan mendukung tim sepakbola kesayangan partner, meskipun bukan berasal dari kabupaten yang sama, setidaknya kami masih berada pada propinsi yang sama hehhehe *apasih* Maksudnya, masih dalam satu koridor cita-cita mulia: mendukung sepakbola lokal. ha ha ha
Berkali-kali pertanyaan di atas muncul di benak saya, kenapa saya begitu setia ya menonton pertandingan mereka? Padahal orang Sleman juga bukan. Ah entahlah. Kadang kesenangan itu tidak butuh alasan. Agree?

Goodnite all :-*