28 juni, 2014

What I miss most when I stop traveling

"the most hated thing while we travel is when we trapped in the discomfort zone, but who knows that is the one I miss most" (self-note)

source
Ada banyak hal yang nggak bisa kita beli begitu saja hanya dengan uang: kebaikan orang, kebahagiaan, kenangan. Mungkin saya akan membicarakan hal yang terakhir. Seringkali teman-teman saya yang hobi jalan-jalan, mengungkapkan kerinduannya akan momen-momen perjalanan setelah mereka vakum traveling. Yap, kenangan. Barang termahal yang nggak bisa begitu saja terbingkai dalam frame foto. Banyak orang yang menghabiskan uangnya bukan untuk membeli barang-barang mahal atau terkini, tapi justru hanya untuk membeli kenangan itu.
Kenapa saya tetiba ngomongin soal kenangan ini? Barusan seorang kawan posting salah satu sudut jalan di Khao San road, Bangkok, dimana disana lebih banyak dipenuhi orang-orang asing daripada orang lokalnya sendiri. Saya jadi ingat satu momen saat saya berada di sudut jalan yang sama. Saat tiba pertama kali di Khaosan road, saya dan teman-teman bersusah payah menenteng backpack dipunggung mencari penginapan dengan harga semurah mungkin. Jalan berratus-ratus meter dan bertanya sana sini hanya untuk mencari kenyamanan yang hanya akan disinggahi sesaat saja. Ketidaknyamanan. Ya, hal tersebut saya alami ketika itu dan sudah saya sadari bahkan jauh sebelum memulai perjalanan. Dimanapun kita akan menemui ketidakpastian, dan ketidakpastian itu akan berujung pada ketidaknyamanan. Karena orang semacam saya akan terus keep thinking, memikirkan hal-hal yang belum pasti saat berada dalam perjalanan. Hal ini berakibat buruk, saya jadi khawatir, ketakutan, hingga tidak enjoy saat melanjutkan perjalanan. Bertemu orang asing, seorang diri dalam perjalanan, ketakutan akan seorang kriminal, hal tersebut lazim terjadi saat kita berada jauh dari rumah, atau katakanlah jauh dari zona nyaman kita. Tetapi tiap kali saya teringat momen-momen itu justru semakin saya rindu. Beradu cepat dengan waktu untuk mengejar kereta, sebisa mungkin menghindari calo, berusaha sebisa mungkin percaya diri diantara orang-orang asing, dan mencoba tenang disaat segala hal tidak sesuai dengan rencana semula, sulit beradaptasi dengan teman seperjalanan, sulitnya menempatkan diri di tengah lingkungan baru adalah sejumlah hal yang sering membuat saya tidak nyaman yang ujung-ujungnya bikin saya nggak menikmati perjalanan. But the most important thing is how we solve all those things. Disitulah kita menemukan diri kita yang sesungguhnya, bagaimana kejadian-kejadian tersebut pada akhirnya membentuk jati diri kita. Tentunya masing-masing orang punya pengalaman yang berbeda sehingga hal inilah yang ikut membentuk karakter seseorang. Di perjalanan lah, sifat seseorang yang sesungguhnya akan muncul, tidak lagi ada kepura-puraan atau pembentukan citra diri. Tak sedikit orang yang justru lebih sering bertengkar dengan travel mate mereka karena seringkali tidak sejalan atau sependapat ketimbang menikmati perjalanan itu sendiri. Makanya tidak heran kenapa orang lebih memilih solo traveling daripada bepergian dengan beberapa orang.
Hadapilah ketidaknyamananmu karena sampai kapanpun kamu akan menemuinya. Biasakanlah sampai ketidaknyamananmu itu menjadi kenyamanan yang baru bagi dirimu. *macak Mario Teguk* Dare your self!

Pilpres teaches me many things



Kali ini saya mau ngomong serius. Tidak seperti postingan2 sebelumnya yang asal share beberapa aktivitas yang saya lakukan akhir2 ini. Otak saya baru saja memikirkan hal-hal yang saat ini sedang bikin ruwet suasana. Suasana di sekitar kita. Ya, ternyata energy kita banyak terbuang dengan percuma selama ini, khususnya di saat hiruk pikuk pilpres seperti sekarang. Sudah sering kita jumpai banyak status di sosial media yang mengeluhkan beberapa temannya sibuk dukung sana-sini, ngejelekin sana sini, yang berujung pada membanjirnya timeline mereka dengan hal-hal yang berbau capres-capresan atau newsfeed yang lebih banyak dipenuhi dengan berita2 pemilu. Ingat ada berapa orang lain juga yang sebetulnya jengah juga membaca keluhan Anda (mungkin saya salahsatunya). Seakan kita jengah dan malah ikut tersulut emosi. Bahkan fenomena ini berakhir pada sikap saling ‘unfriend’ teman mereka yang gengges banget tiap kali update status. Wajar sekali kalo seseorang sampai risih banget dengan sikap2 seperti di atas. Berita dan status di sosmed yang sering terupdate berulang-ulang membuat kita jenuh. Nonton tivi ketemunya berita itu-itu lagi, buka sosmed juga isinya itu-itu juga. Jadi wajar saja kalau kita bosan.
Tetapi sesungguhnya ada hal-hal yang menurut saya tidak perlu ditindaklanjuti sejauh itu (unfriend temen, ngeblock temen, atau bales2an argument soal siapa capres yg lebih unggul).
1.       Unfriend temen yang gengges di sosmed belum tentu keputusan yang benar
Kenapa? Kadang ada cara simple yang bisa lakukan tanpa harus melukai relasi kita dengan seorang teman melalui unfriend atau ngeblock akun lain. Misalnya dengan apa? Kita bisa mute setiap tweet mereka misalnya, atau tidak memunculkan update status mereka di newsfeed kita. Kenapa? Karena kita nggak tau lho kalau suatu saat kita ternyata masih butuh komunikasi dengan orang tersebut. Misalnya kita butuh si X ini dalam pekerjaan atau tugas kuliah kita, eh kita udah ga punya kontak dia lagi, kan susah juga kan? Mungkin secara sikap politik si X ini emang nyebelin tapi di sisi lain ada kemampuan dia yang kita butuhkan suatu saat. Jadi pikirkan baik2 kalau mau delete dia dari kehidupan kita, apalagi kalau kita emang nggak punya konflik yang berart. Ingat: jangan sampai Cuma beda pendapat, bikin kita putus hubungan dengan dia, lagian sifat orang2 yang nyebelin ini kan Cuma bersifat musiman atau sementara aja, ya Cuma pas musim pemilu kayak gini.
2.       Percuma buang tenaga dan pikiran buat nasihatin orang-yang-ga-bakal-berubah-sikap-dan-pikiran-hanya-dengan-ndengerin-ucapan-kita-terlebih-kalau-dia-adalah-publik-figur.
Ngetuit, mensyen, nyinyirin orang itu hak tiap individu. Tapi kadang kita nggak sadar, kalau pendapat kita ini nggak akan berefek banyak buat orang yang kita nyinyirin, terlebih lagi kalau kita nyinyirin public figure yg jelas2 udah banyak orang lain yg mensyen dia dan belum tentu dibalas pula. Di tengah hiruk pikuk pilpres sekarang ini, banyak artis, politisi, tokoh masyarakat, yang tingkahnya sering bikin betek kita, tak jarang menuai hinaan, makian, dari followernya. *udah tau nyebelin kenapa masih juga follow* niat hati pengen ngingetin, negur, atau maki2 tingkah laku mereka, tapi lihat deh, apa iya mereka bakal baca teguran kita di sosmed? Oke, mereka baca, tapi apa iya dibales? Kalopun dibales apa iya sikap mereka akan berubah hanya karena baca nasihat/pendapat kamu? Sebenernya bukan masalah besar sih mau dibales apa enggak, tapi ingat berapa menit waktu yg kamu habiskan buat ikut ngurusin kehidupan dia? berapa kalori yang kamu habiskan buat maki-maki dia? kecuali kalo hal tersebut bisa bikin perubahan signifikan sih oke-oke aja (missal akibat makianmu thd AHMADDhani karena video klip yang kontroversialnya itu bikin dia minta maaf sama public dan ngasih ganti rugi sama musisi yang lagunya udah dia jiplak itu). Tak jarang saya pun mudah tersulut sama sikap2 publik figure yang bodohnya nggak habis2. Tapi saya pikir2 ulang buat maki2 atau sekedar negur dia sosmed, “orang ini public figure. Sudah biasa dengan pro-kontra di sekitarnya. Mau dia dimaki sejuta followernya di timeline, hal itu bakal masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Artinya mau saya maki2 dia, ngata2in dia, nggak akan ada yang berubah dari dirinya” Jadi kadang saya suka senyum2 dalam hati saja kalo lihat orang bodoh yang nggak ada habisnya di negeri ini. Emang suka gemes mau nyinyirin orang macam itu, tapi kadang saya pikir2 lagi, nanti saya bisa2 ikutan “gila”. 
3.       Don’t take what media says seriously

 “Television is a box of toxic that may fill our mind any time by spreading hateful news and cheesy drama.” 

Like a toxic, we should detox it. Saya mungkin bukan satu2nya jengah sama siaran tv di Indonesia. Tapi gimana dong? Buat pasang tv kabel saya belum mampu, satu2nya hiburan kalo sinyal internet lagi ga ada yam au ga mau liat tivi. Tetapi selama kita masih bisa filter ataud detox hateful news di televise, it’s Ok lah ya… untungnya sekarang2 ini ada beberapa stasiun tv yang isi beritanya (katanya) nggak tendensius atau memihak salah satu capres (sebut saja Kompas tv atau rajawali tv).

Untuk hidup tenang di tengah hiruk pikuk pilpres tahun ini, masih mungkin kok. Harapan itu masih ada. Tinggal bagaimana kita bisa bersikap bijak untuk tidak senggol sana-sini and don’t take those hateful things seriously! Demi kenyamanan dan ketenangan hati tiap2 individu mari kita wujudkan kebebasan untuk memilih dan sikap saling toleransi satu sama lain. Salam 2 jari! (^-^)v *teteup*

oiya, semua poin-poin di atas saya tulis dengan segala kerendahan hati buah pikiran saya, tidak maksud buat menyinggung atau menyerang siapapun. Jadi tolong jangan diambil hati ya kalo ada salah2 kata :))

25 juni, 2014

#DIY Ombre Bag

Bahan:
Naptol 2 warna
air panas
tas kanvas
karet
ember

Cara Bikin:
1. Bahasi Tas Kanvas sebelum diceluk-celup
2. Panaskan air secukupnya untuk merendam tas
3. Naptol atau pewarna bisa dicampurkan kedalam air panas baik saat mendidih di atas kompor atau setelah di angkat. Note: semakin panas air, pewarna semakin mudah melakukan penetrasi ke permukaan tas. Kalau ingin warnanya kuat, rendamlah lebih lama, ingat, semakin air dingin semakin sulit pewarna meluntur dalam tas.
4. kalau ingin warna biru terlebih dahulu, celupkan tas sebagian dahulu. Kalau ingin gradasi warna terlihat berpola, bisa ikatkan karet untuk memberi batasan antara warna pertama dan kedua.


5. Lebih kurang 15-30 menit dengan kondisi air panas, biasanya warna sudah meresap sempurna dalam kain
6. Bilas dengan air dingin
6. Sekarang gantian sisi kedua yang direndam warna berbeda ya..
7. Kalau sudah kedua sisinya di celup warna, kali ini bilas dengan air dingin sampai bersih lalu keringkan.

Selamat Mencoba!

Make it fun by doing by yourself :)

Simple meals I make #DIY

Memenuhi kebutuhan serat dalam tubuh tidaklah sulit, sebetulnya. Awalnya memang susah mencari olahan makan sehat yang sesuai dengan selera kita. Berawal dari menghabiskan stok sayuran di kulkas yang bila tak segera habis akan membusuk, maka mau tak mau saya harus memasaknya. Dengan skill terbatas dan sense berkreasi ala kadarnya, maka saya memutuskan menumis sayuran-sayuran tersebut seperti biasanya. Ditambah dengan asupan karbohidrat dari roti tawar, rasanya olahan saya kali ini cukup membuat perut terisi :) Selamat Mencoba!

Kali ini saya akan membuat Tumis Sayur dan Roti Isi

Bahan untuk Roti Isi:
1. roti tawar
2. keju lembar
3. timun/tomat
4. telur orak arik atau sosis

Cara bikin
1. potong roti menjadi dua bagian secara diagonal, hasilnya maka berbentuk segitiga
2. susun isian sesuai selera, misalnya: keju, kemudian irisan timun/tomat, saus, kemudian telur/sosis.
3. tutup lapisan teratas dengan sisi roti tawar yang lain.

Jadi deh!

Membuat Tumis Sayur

Bahan:
1. Brokoli, iris rebus dengan air mendidih atau dikukus (karena sayuran saya bukan sayuran organik, maka ada baiknya merebus atau mengukusnya terlebih dahulu untuk menghindari sisa-sisa pestisida pada sayuran.)
2. Wortel
3. bawang putih 2 siung, kupas lalu cincang
4. jamur kancing
5. merica
6. garam
7. minyak sayur
8. jagung yang sudah dirontokkan dari bonggolnya (ini untuk pengganti karbohidrat bagi kalian yang tidak mengkonsumsi nasi putih atau makanan dengan susunan karbohidrat sederhana)


Cara bikin:
1. Panaskan minyak sayur
2. masukkan bawang putih cincang setelah minyak panas
3. masukkan sayuran dan jamur yang sudah direbus/ dikukus
4. masak sebentar, kira-kira sampai 1 menit, mengingat sayuran sudah matang sebelumnya, jangan terlalu lama karena nutrisi dalam sayuran bisa hilang.
5. tambahkan garam sedikit dan merica sesuai selera.
6. Angkat dan sajikan!

Short Escape to Berbah



Mengusir penat atau sekedar membuang waktu untuk berjalan-jalan, sekarang tidak lagi butuh perjalanan dengan waktu tempuh lama atau destinasi dengan jarak yang jauh. Jika punya waktu senggang 2 atau 3 jam, cobalah berjalan-jalan ke kawasan timur kota Jogjakarta. Sore tadi saya dengan partner baru saja pergi ke daerah Berbah, Sleman. Kali ini kami ingin mengunjungi kembali Candi Abang, candi yang reruntuhannya belum direkonstruksi seutuhnya karena masih berupa gundukan padang ramput yang menyerupai bukit teletubbies. Dari beberapa sisinya bisa terlihat batu bata merah yang menandakan keberadaan Candi Abang. Konon saat mencari tahu lewat internet, ada Yoni yang ditemukan di dekat Candi Abang dan batu yang menyerupai kodok di sebelah selatan candi, sayangnya kami tidak dapat menemukannya. Cuaca siang itu sedikit mendung meski matahari masih mengintip, dan angin berhembus cukup dingin. Kali ini papan petunjuk candi sudah dipasang, sehingga orang bisa lebih mudah mengetahui keberadaannya tidak seperti waktu kami kesini pertama kali.



 Sebelum masuk ke area Candi Abang, di mulut jalan masuk anda akan menemukan papan bertuliskan “Gua Sentono” dan situs ini dari pinggir jalan sudah bisa terlihat. Kami dulu tidak tahu kalau ada situs gua disana, akhirnya kami memutuskan untuk singgah sebentar. Gua sentono diduga sebagai tempat bertapa umat hindu, hal ini dilihat dengan adanya bongkahan yoni di salah satu dari tiga bilik goad an relief dewa-dewa hindu yang terpahat di dinding-dinding goa.
salah satu dari 3 bilik goa di situs ini

lingga yoni di depan relief dewa hindhu

23 juni, 2014

Sweet Escape to Paradise Fall #2

Setelah sekian lama tidak meluangkan waktu untuk bervakansi, akhirnya beberapa waktu saya dan beberapa kawan berhasil menjalankan missi piknik dadakan. Anyway, saya tidak lagi aktif jalan-jalan terhitung sejak Bulan Maret dengan pertimbangan biaya dan waktu. Klasik. Tapi ini sudah waktunya saya harus menyelesaikan tugas akhir saya. Meskipun saya tidak ada kesibukan berarti seperti ikut komunitas atau berorganisasi lagi, saya termasuk orang yang sulit membagi waktu untuk betul-betul fokus pada satu pekerjaan, then you may call me as procrastinator. A critical procrastinator. Dan agenda bulan Maret lalu sudah cukup menguras isi tabungan sehingga saya harus mendulang rupiah lagi kalau -masih- mau jalan-jalan. Jadilah pada suatu pagi saya mengirim sms pada seorang teman yang isinya akan mengajak pergi hari ini untuk berlibur sejenak. Kali ini saya mengajak beberapa teman untuk ke -lagi-lagi- air terjun rahasia. Another Paradise Fall
 

Menempuh jarak ber puluh-puluh kilometer ke arah selatan Jogjakarta selama satu jam. Hanya informasi itu nampaknya bisa saya bagi. Air terjun ini belumlah menjadi tempat wisata komersial (dan jangan sampai) melihat saat itu hanya ada kami saja setelah sebelumnya ada sepasang sejoli disana, dan belum ada fasilitas seperti kamar mandi (sepertinya ada namun belum lengkap fasilitasnya), tidak ada pedagang dan tidak ada karcis masuk.


Ada beberapa tingkatan air terjun disini, dari yang curam, sedikit dalam, dan yang cukup luas. Soal kedalaman sih tergantung curah hujan rasanya. Namun katanya tiap musim selalu ada air, meskipun di musim hujan waktunya lebih cocok mengingat debit air lebih banyak. Menariknya air terjun ini memiliki air berwarna hijau dan pada dasar airnya terdapat batu-batu yang licin dan tajam. Ada area bebatuan yang cukup datar dan luas sehingga memungkinkan untuk merebahkan diri sambil menikmati bunyi gemercik air. Sayangnya, seperti di kebanyakan objek wisata yang belum terawat, masih banyak sampah di kawasan ini. Inilah yang membuat saya ragu untuk membagi informasi dimana letak persis air terjun ini, karena jika diketahui oleh orang 'yang tidak bertanggungjawab' maka hanya akan menambah kotor saja. *No offense*




14 juni, 2014

I saw happiness

I saw happiness through his smile, his eyes, and the words he said, I am happy today. Literally happy. So do I, dude. Then I replied with smile.


Minggu lalu, partner saya berulangtahun. Berbeda dari ulangtahun yang pertama kali kami rayakan, kali ini tidak ada lagi kejutan atau hal-hal besar yang khusus saya persiapkan. Sederhana saja, saya ajak dia piknik. Membawa serta bekal makan, minum, dan kain pantai, kami berencana piknik ke candi tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Ijo.
Saya sendiri pernah kesini sebelumnya, saat itu sepi saja dan tidak seramai kali ini. Pertemuan dengan seorang teman dari jurusan Arkeologi, Hareza namanya, membuat partner saya antusias bertanya ini itu. Ya, partner saya sangat senang dengan situs-situs bersejarah seperti candi dan relief-relief yang menempel di dindingnya. Hareza yang datang bersama seorang teman asal Hongkong ternyata sudah berkelana sejak pagi tadi. Sebelum sampai di Candi Ijo, dirinya sempat singgah ke Candi Plaosan. Partner saya terlihat sangat penasaran sekali akan Candi Plaosan begitu saya bilang saya pernah kesana dan memang tempatnya masih berada di sekitar Candi Prambanan. Menuju pukul 5 sore secara insidental kami bergegas menuju Candi Plaosan.





I saw happiness on his face. A simple happiness, as simple as that smile.


Bekal yang saya bawa terpaksa tidak kami makan di Candi Ijo karena kami mengejar waktu menuju Candi Plaosan. Yang menarik disini adalah adanya stupa yang mirip dengan stupa-stupa Candi di Borobudur hal ini menunjukkan candi ini merupakan candi Buddha. Menariknya candi ini turut dibangun oleh Raja Rakai Pikatan yang beragama Hindhu.