28 augustus, 2014

Biar Jadi 'Orang'

Sebuah artikel bikinan media online dengan segmentasi pembaca anak muda, cukup bikin aku geli malam ini. Judulnya "13 Cara Biar Lo Jadi Kayak 'Orang'"

Bagaimana tidak? Artikel itu memuat beberapa ciri perilaku manusia yang biasa dilakukan agar kelihatan seperti 'orang'. Diantara sejumlah ciri perilaku tersebut antara lain: 
1. mengunggah foto kaki saat traveling di pantai,
2. foto makanan yang akan kita makan dan mengunggahnya di sosmed, 
3. suka olahraga (dari lari, pilates, yoga, dan muangthai), 
4. hobi traveling, 
5. gemar wisata kuliner, 
6. bermain ukulele, dan 
7. berambut pendek (bagi cewek), serta 
memelihara kucing masuk list perilaku-perilaku tersebut. 
(Tiga catatan yang terakhir tadi jujur aku baru tau dan agak kaget)

Pada intinya perilaku-perilaku tersebut adalah apa yang sering dilakukan oleh para hipster atau ya kira-kira sekumpulan orang yang punya hobi atau gemar melakukan hal-hal yang lagi ngeheits masa kini. Ini berdasarkan kata artikel tersebut lho. Komentar aku cuma satu: geli

Aku nggak terlalu ngikutin trending topic saat ini, sampai-sampai aku baru tau kalo berambut pendek jadi ciri-ciri biar jadi 'orang', karena aku sendirinya sudah lama berambut pendek dan nggak tau harus berkata apa soal opini itu. Ditambah lagi memelihara kucing dianggap sebagai perilaku yang menandakan seseorang telah jadi 'orang' hahahaha karena aku salah satu dari golongan ini, meskipun sekarang kucingku sudah jadi kucing liar.
Membaca artikel ini bikin aku keingetan sama obrolan bareng pacar belum lama ini. Tetiba doi ngomongin soal deskripsi dirinya yang nggak pernah terseret arus untuk mengikuti gaya yang lagi ngetrend atau membeli barang-barang/aksesoris yang lagi ngehits. Semua yang ia gunakan dan ia beli adalah berdasarkan kenyamanan dan kebutuhan dirinya. I'm totally agree with him. 
Sama halnya di ujung artikel tersebut, tulisanku kali ini cuma mau klarifikasi kok kalo kami bukanlah kelompok yang demikian? kelompok yang berusaha keras buat jadi 'orang'! hahahahahaha

"Hipster itu tuh semacem gaya hidup yang selalu pengin menjadi beda dari orang kebanyakan. Nah, tapi istilah hipster tuh dianggap sebagai ejekan. Maka dari pada itulah, untuk jadi kayak orang yang mencoba menjadi beda tapi dengan cara yang sama itu, lo harus risih kalau ada yang bilang lo hipster. Tiap ada yang ngejek lo hipster lo harus jawab, "nggak kok, ini gue apa adanya kaliii."

Tapi kalau dipikir-pikir, pada intinya aku termasuk dalam sekumpulan manusia-manusia ini. Ini berdasarkan kriteria perilaku aku yang sesuai dengan daftar-daftar dalam artikel tersebut: berambut pendek, melakukan olahraga (seperti lari, yoga, namun untungnya berenang tidak termasuk dalam list tersebut), memelihara kucing, dan traveling. Mau aku nyangkal apa juga orang yang percaya artikel itu bakalan mengklaim kalau aku termasuk dalam sekumpulan orang-orang ini.

Oh, dunia, hidup kok makin dibikin ribet ya...


Ciao!

Making Money

Hai, pals!

Seminggu terakhir kemarin saya sedang disibukkan dengan segala kerempongan dan prekentengan dalam rangka berjualan di stand Pasar Kangen Jogja 2014. Ini kali pertama saya jualan makanan hasil olahan sendiri dan harus melayani pembeli yang cukup membludak.
'Cari duit itu gak gampang', adalah hal yang selalu terngiang di kepala saat harus menjual sebuah produk demi satu tujuan: menyejahterakan isi dompet. Sebenarnya ini bukanlah kali pertama saya berjualan. Riwayat berdagang saya dimulai semenjak SD kelas 4 dimana saya mulai menjajakan aksesoris milik tetangga nenek saya, mulai dari bros, peniti jilbab, tuding alquran, sampai tasbih. Jazakillah ya ukhti :) Buat anak seumuran saya waktu itu punya duit hasil jualan sendiri, seberapapun pendapatnya pastilah sudah senang. Beberapa tahun kemudian semasa SMA saya ikut teman jualan pin dan stiker yang saat itu lagi nge-heits di kalangan remaja (sampe sekarang dagangannya masih saya bawa hehehe...) Oiya selain itu di rumah saya punya warung, jadi berurusan dengan hal-hal berbau niaga sebetulnya sudah tidak asing lagi, meskipun kerap kali saya tidak terampil atau cekatan saat melayani customer. Menginjak masa perkuliahan, saya tertarik buat jualan kamera plastik, kamera yang terbuat dari plastik dan masih menggunakan film negatif untuk mengambil gambar. Lagi-lagi benda tersebut lagi nge-heits pada jamannya ketika kamera lomo dan kawan-kawannya menjajah pasar anak muda. Keuntungannya sangatlah lumayan, karena saya menjadi reseller dan supplier saya masih memasang harga yang sangat rendah. Namun lama kelamaan -mungkin- supplier saya sadar bahwa ''barang ini makin nge-heits dan saya harus mengoptimalkan keuntungan''. Jadilah harga jual reseller dinaikin hampir setengah persen sehingga saya juga males ambil barang.
sumber: tralalaaa

Memasuki masa akhir-akhir kuliah, yang seharusnya lekas berakhir, saya kembali melihat peluang untuk berjualan baju-baju 2nd hand yang merupakan dagangan seorang teman. Sebut saja Juwita, dia dan teman-temannya membentuk sebuah kongsi dagang yang menjual baju-baju 2nd namun seiring dengan kesibukan mereka, maka kongsi dagang ini sudah tidak ada lagi aktif berjualan. Maka saat ada event garage sale saya coba menghubungi teman saya ini dan hasilnya saya diijinkan menjual kembali barang-barang mereka. Terhitung sudah 3 kali saya menjual barang mereka di event semacam itu. Keuntungannya lumayan, pengalaman dan rekan baru pun saya peroleh.
Hal yang mungkin banyak mahasiswa lakukan saat di bangku perkuliahan mereka adalah berjualan untuk mencari pendanaan sebuah event atau program. Sering kita melihat di perempatan anak-anak muda menjual bunga, atau ngamen di tempat-tempat makan pinggir jalan. Biasanya mereka sedang mencari dana untuk membiayai KKN, makrab (malam keakraban untuk mahasiswa baru), atau fund raising buat pensi mereka. Kalau saya waktu itu sempat ngalamin yang namanya ngamen di sepanjang jalan kaliurang (sebelah barat GSP), kemudian jualan makan dan minum saat pendaftaraan ulang mahasiswa baru, sampai mau bikin trip keliling jogja naik sepeda tapi akhirnya gagal. Tujuannya macem-macem, ada yang buat dana KKN atau bikin acara buat maba. Susahnya nyari duit versi jualan ginian itu, capek dan nggak gampang nyari customer yang datang ke kita, karena kita model jualannya jemput bola alias keliling datengin orang satu-satu buat njajain barang kita. Nah hal ini cukup berbeda dengan event yang saya ikutin kemarin.
Nah event yang terakhir saya ikutin kemarin ini adalah event tahunan yang dengan mudah dibanjiri pengunjung. Namanya Pasar Kangen. Banyak penjual yang menjajakan barang-barang jadul, makanan dan minuman jadul, majalah bekas, kerajinan tangan, dan lain-lain. Selain letaknya di tengah kota dan dekat dengan tempat wisata maka faktor ini menjadi pengaruh yang signifikan terhadap ramainya pengunjung setiap hari terutama weekend. Bedanya dengan jualan-jualan saya periode sebelumnya, jualan di Pasar Kangen, ga usah rempong-rempong nyari pembeli karena dengan sendirinya mereka datang ke venue, beda dengan model jualan ngamen atau jemput bola.
Apa yang kita jual? Saya dan seorang teman, sebut saja Linggar, berjualan es jamu, Sate Keong, sate usus, sate telor, ceker mercon, dan spicy wing. Awalnya kita harus melalui perdebatan panjang hanya untuk memutuskan barang apa yang akan kita jual. Dari mau jualan roti cane, mendoan bakar, es setup, dan lain-lain. Mendekati hari H, saya kepikiran buat jualan sate keong dan teman saya mengusulkan ceker mercon, kebetulan dia bisa masaknya. Event ini berjalan selama 1 minggu, jadi cukup sangat menyita waktu saya apalagi 'me time' saya :(
Hari pertama dan kedua temen saya yang memasak ceker mercon, mulai tidak kuat lagi maka kami berbagi beban mau tidak mau, bisa tidak bisa saya harus mencoba memasak! Sebenarnya bukan soal berani atau malas memasaknya, tetapi kali ini porsi yang disuguhkan dalam skala besar dan harus layak jual! Sehari-hari masak nggak enak pun tetep dilahap juga. Sialnya lagi, kompor saya yang nyala cuma satu doang, padahal saya harus memasak berkilo-kilo sayap dan ceker ayam (padahal cuma 2 kilo aja!) Hasilnya tidak begitu buruk. Ceker dan sayap kita tetep ada yang beli dan mereka malah reorder lagi alias suka! Meski banyak yang bilang juga terlalu pedas sampai bibir mereka moncor-moncor hehehehe
Kerempongan demi kerempongan pun berdatangan, dari tiap pagi saya harus sudah belanja di pasar, siang hari mulai masak, mulai bikin packaging alias pincuk, sampai pada sore hingga petang hari mulai berjualan. Banyaknya customer yang datang ke stand kita cukup bikin rempong, karena kita hanya bertenaga 2 orang dan harus melayani segala macam pembeli dari yang annoying sampai yang nyenengin hehehehe tapi semua itu jadi pelajaran yang berharga banget! Gimana kita harus ngapalin order masing-masing pembeli, mencari mereka yang tiba-tiba menghilang saat pesanan sudah jadi, ceker dan sate yang seringkali jatuh dari panggangan, kesel juga kalo inget semua itu tapi sangat beruntung bisa mengalami itu semua.. cieee cieee cieee Untungnya nggak lumayan lagi! Tapi yang jelas bikin nggak manyun! hahahahaha Oiya, malahan beberapa kali customer kami udah ada yang nanyain dimana warung kita biasa buka, padahal ini adalah debut pertama kami berjualan makanan hehehehe... Saya heran juga ada beberapa customer bahkan banyak dari mereka yang tidak hanya jajan ke tempat kami satu atau dua kali saja tetapi hampir tiap hari bahkan beli dalam skala yang tidak kecil, misal beli buat dibawa pulang sampai 5 porsi, sampai saya hapal 'dia lagi dia lagi yang dateng' tapi dalam arti postifi, alias seneng banegt! Karena mereka telah mempercayakan kesejahteraan lidah dan perut pada kami! hahahahaha
Dari semua pengalaman di atas, hal yang paling tidak bisa dihindari adalah percekcokan rumah tangga dengan rekan bisnis kita. Jadi persiapkan mental, rohani, dan jasmani kalian sehingga pada waktunya kalian berjualan semua hal yang enak dan tidak mengenakkan dari partner kita bisa diatasi. Ingat, jangan sampai walkout ya! hehehehe

Oke, sekian dulu pengalaman kali ini semoga memberi pencerahan bagi kita semua.

Grazie belle!
 

03 augustus, 2014

For those who love love swimming a lot!

         Kemampuan yang patut saya banggakan selama setahun terakhir ini adalah berenang. Kenapa harus ''bangga''? Ya, setelah saya tahu ternyata banyak juga yang belum bisa berenang. *no offense
Tekad buat berenang muncul seiring dengan kecintaan saya akan laut, pantai, dan kolam. Butuh tekad kuat buat belajar berenang. Ternyata tekad kuat dan percaya akan kemampuan sendiri bikin kita cepat bisa belajar lho. I experienced it. hehe nggak sampai sebulan, yah, hanya 2-3 kali nyebur kolam alhamdulillah bisa berenang, tak lain berkat bantuan dan dorongan para sahabat :)

        Kali ini saya mau bagi-bagi info tempat berenang di Jogjakarta. Sharing is caring, r8?
Sebenarnya kalau mau informasi lengkap bisa tengok disini . Tetapi saya mau share sedikit review dari kolam-kolam yang pernah saya coba saja. Enjoy!

1. Kolam Tirta Sari Hotel Brongto
Lokasi: Hotel Brongto
HTM: Pelajar 7000 (bonus Teh Botol)
Open: jam 6 am - 6 pm
Di sinilah saya pertama kali belajar berenang ditemani Aura. Yang nggak enak dari tempat ini, kalau weekend atau weekdays (sore hari) bakal banyak anak-anak kecil yang berenang sehingga cukup padat dan riweuh apalagi kalau banyak orang dewasa juga yang lagi renang. Timing yang tepat ya pagi hari karena suasananya masih sepi. Terdiri dari dua kolam anak dan dewasa meskipun ukurannya tidak terlalu besar namun yang menarik minat banyak orang barangkali harganya yang murah meskipun terletak di dalam hotel. Di sini juga disediakan penyewaan pelampung bagi mereka yang belum bisa berenang.

2. Salsabiela
Lokasi: SD Budi Mulia, Seturan, Depok, Sleman
HTM: Pelajar 8000
Open: dari pagi s.d. jam 8 malam
Kolam renang yang dirancang memang untuk kegiatan berenang massal, karena untuk pelajaran berenang bagi murid-murid SD BM, sehingga memiliki kolam yang cukup luas hingga kedalaman 1,75 meter. Di sini disewakan baju berenang, kacamata, dan pelampung, jadi memang lokasi yang tempat bagi mereka yang masih belajar berenang atau belum punya peralatan renang.

3. The Club House Casa Grande
Lokasi: Perum Casa Grande, Ringroad Utara
HTM: 15000
Open: dari pagi sampai malam (jam 8 mungkin ya)
The Club House merupakan kompleks gym yang diperuntukkan bagi penduduk Casa Grande dan publik. Selain ada gym di sini juga disediakan kolam renang. Kolam yang dikelilingi pepohonan membuat suasana rindang dan sejuk meskipun seringkali dedaunan dan rantingnya berjatuhan mengotori kolam. Ada dua kolam renang, untuk dewasa dan anak-anak. Di sini sepertinya tidak disewakan peralatan renang namun ada cafetaria yang siap mengisi perut yang kosong selepas berenang. Untuk mencari lokasi Club House tidaklah sulit, dari gerbang perumahan langsung masuk saja lurus mengikuti jalan utama sampai menemukan persimpangan, di situlah Club House berada. 

rooftop pool at The Cube
4. The Sahid Rich Hotel
Lokasi: Hotel Rich Sahid, Jalan Magelang
HTM: Member Only
Hanya karena seorang teman yang menjadi member, saya bisa berenang di sini. Pertama kalinya saya berenang di ketinggian gedung. Tempatnya nyaman dan kolamnya cukup luas.
The Rich Sahid
5. Depok Sport Centre (DSC)
Lokasi: Sebelah Superindo Seturan
HTM: 15000
Selain memiliki kolam yang cukup luas, ada 2 kolam (indoor dan outdoor), di DSC kamu juga bisa menikmati olahraga lain seperti beladiri, badminton, dan gabung di klub-klub tersebut. Untuk kolam renang outdoor ukurannya lebih luas dibanding yang indoor. Bagi yang nggak mau kepanasan renang di siang hari, bisa mencoba indoor pool di DSC meskipun saat itu saya rasakan airnya lebih dingin! brrr

6. Hotel Jambuluwuk Malioboro
Lokasi: Hotel Jambuluwuk Jogjakarta
HTM: Member 175000 /bln (coorporate 5 persons. Include swimming, gym, aerobic, yogalates, & sauna)
Baru nyobain gabung jadi member satu bulan selama puasa kemarin. Menurut saya harga coorporate member yang ditawarkan cukup murah dengan fasilitas yang lumayan disamping bonus diskon spa buat member yang mendaftarkan diri di atas 3 bulan. Kolam renangnya cukup sejuk dengan dikelilingi pepohonan yang membuat rindang sehingga tidak begitu panas jika renang di pagi hari. 
Hotel Brongto pool

7. Infinity Pool a la The Cube Hotel
Lokasi: The Cube Hotel, Jalan Parangtritis, Yogyakarta
HTM: 30000 (include towel & soft drink)
Hotel ini mencantumkan label ''infinity swimming pool'' sebagai salah satu fasilitas yang di tawarkan. Meskipun pemandangan di atas kolam tidak semenarik infinity pool ''sesungguhnya'' dengan suguhan pemandangan laut atau pantai. Selain itu kolamnya juga tidak luas, tetapi untuk ukuran kota Jogjakarta, pool di Cube Hotel bisa menjadi alternatif bagi mereka yang hobi hunting kolam renang. Dari sini anda bisa melihat suasana kota Jogja dengan pemukiman yang cukup padat dengan belum banyaknya gedung-gedung tinggi seperti di Ibukota.

Untuk referensi berikutnya, kolam renang di Rumah Budaya Tembi sedang menunggu untuk dicoba. See you there soon! And dont forget to let me know where is your favorite pool?

02 augustus, 2014

Catatan 23

Hasrat untuk menulis tidak bisa dibendung lagi, padahal entah mau menulis soal apa. Oiya, bagaimana kalau menulis soal hal-hal yang berkaitan dengan pergantian usia kita, seperti ritual para penulis pada umumnya, para blogger setidaknya, yang sering membuat catatan atau posting di usia baru mereka. Tepat satu hari setelah hari raya Idul Fitri, usia saya bertambah satu tahun lagi, 23. Bukanlah usia yang tidak lagi muda juga belum juga tua. Anyway, Alhamdulillah, masih diberi usia sampai detik ini. Harapannya sih semoga bisa mencapai hal-hal baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan sekitar. Anyway, bicara mengenai usia baru pastilah bicara tentang pencapaian-pencapaian yang sudah kita buat sampai pada detik kita menghirup nafas saat ini. Kalau saya sih, tentu belum cukup puas dengan perjalanan saya, namanya juga manusia. Nggak akan pernah puas. But literally, saya memang belum melakukan 'apa-apa' sejauh ini, kecuali -masih- berusaha menuntaskan tugas akademis terakhir saya. Semoga lekas selesai ya. Amin.Tahun ini saya juga tidak melakukan banyak pekerjaan yang menghasilkan materi namun setidaknya saya punya pertemanan baru dan pengalaman. 

Selain hal-hal yang kurang memuaskan itu, untunglah ada hal-hal baru yang bisa saya capai, meskipun tidak besar. Setidaknya membuat saya bahagia dan tetap bersyukur. Saya masih bisa melakukan perjalanan, ke tempat-tempat baru, melihat keindahan alam dan budaya negeri orang dan negeri sendiri. Patut disyukuri. Sisanya, saya masih bersyukur, masih memiliki keinginan dan keberanian untuk menulis. Mungkin itu semua masih berupa 'hal-hal kecil' namun paling tidak saya masih bisa bersyukur dan bahagia dapat melakukannya.

Hal lain yang patut disyukuri ialah didampingi oleh orang-orang baik di sekitar meski saya kadang saya luput untuk bersyukur atas kehadiran mereka. Salah satunya, pacar saya. Yang tetap sabar dan terus menenangkan saya saat kegelisahan dan kekhawatiran melanda. Grazie, ti amo per sempre sara. Tentunya teman-teman dekat saya, yang meskipun sudah tersebar di kota lain dan beberapa yang tinggal di Jogja, masih bisa meluangkan waktu hanya untuk saling bertemu. Those are priceless! 

Banyak hal-hal baru yang saya lakukan satu tahun sebelum menjelang usia 23. Saya kembali rutin workout, gabung di klub gym dengan teman SMA yang tidak diduga sebelumnya, kembali berenang meski kadangkala sendirian, dan mencoba yoga dan zumba dengan para sahabat. Harapannya aktivitas ini akan menjadi gaya hidup, tidak hanya sementara saja seperti sebelum-sebelumnya hehehehe... Oiya, saya kembali terlibat dalam aktivitas volunteering, meskipun baru sesekali waktu, saya ikutan program Save Turtle. Yup, sudah lama saya ingin bergabung di organisasi atau aktivitas penyelamatan lingkungan seperti itu. Semoga berlanjut dan mendapat manfaat. Amin.


Semoga di usia saya yang baru ini saya banyak mencapai hal-hal bermakna lainnya yang bisa terus saya syukuri dan saya senangi. Amin.