16 maart, 2015

Perkawinan sebagai Pola Penyebaran Agama Katholik di Jawa Awal Abad XX

            Suara guruh yang bersahut-sahutan pada Rabu sore (11/3) tidak menyurutkan niatku dan seorang teman untuk menghadiri diskusi sejarah di sebuah UNY. Diskusi sejarah tersebut diklaim sebagai diskusi perdana yang kembali diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah UNY setelah sekian lama vakum. Yang menjadi magnet bagiku dan teman untuk datang adalah pembicara dalam diskusi yang merupakan senior kami semasa kuliah, Eka Ningtyas namanya. Eka saat ini sedang menempuh pendidikan Pascasarjana Ilmu Sejarah di alamameternya dahulu, UGM.
               Sore itu acara terlambat berjalan selama 30 menit. Pada awalnya tidak banyak peserta diskusi yang hadir di Ruang Studio Musik Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi UNY, namun seiring berjalannya waktu ruang tersebut cukup dibuat penuh oleh massa yang datang.
              Diskusi tersebut dimoderatori oleh alumni Hima Ilmu Sejarah UNY sendiri yaitu Mas Kuncoro yang kebetulan teman sekelas Eka di sekolah pascasarjana. Dalam presentasinya, Eka mengangkat judul "Surat Cinta Dari Mendut: Lahirnya Keluarga Katolik Pertama di Jawa Awal Abad 20" sebagai topik diskusi yang tidak lain merupakan salah satu bab dalam skripsinya terdahulu. Pada awal pembahasannya, Eka menceritakan mengenai awal kehadiran misi Katolik di Muntilan, kota kecil di Jawa Tengah yang mendapat sebutan Bethlehem van Java. Adalah Hovenars dan Van Lith, dua tokoh misi yang menjadi pionir lahirnya umat Katolik di Muntilan melalui ordo Serikat Jesus. Disini Eka menjelaskan beberapa metode yang dilakukan oleh para pewarta Injil dalam menyebarkan agama Katolik di Muntilan. Metode pertama yang dilakukan namun pada akhirnya gagal, yaitu Katekismus. Katekismeus merupakan langkah untuk 'merekrut' orang-orang bumiputra untuk menjadi calon pemeluk Katolik melalui pertemuan-pertemuan rutin yang mengarah pada pewartaan Injil. Namun pada akhirnya cara ini gagal karena mereka yang kemudian memeluk Katolik semata-mata hanya karena menginginkan santunan yang kerap diberikan oleh pihak misionaris.


                     Metode kedua yang lalu dianggap sebagai karya nyata misi adalah pendidikan. Dengan mendirikan sekolah di Muntilan melalui yayasan Kanisius pada tahun 1908, untuk menjaring bumiputra agar dapat menjadi umat Katolik yang berpendidikan. Sekolah ini kemudian menjadi sarana mobilitas kelas bagi rakyat kecil yang disekolahkan oleh Van Lith sehingga nantinya mereka memiliki kedudukan tinggi sebagai broeder atau kaum intelektualditengah-tengah masyarakat. Sekolah yang didirikan ini hanya fokus pada pendidikan laki-laki namun kebanyakan masih merupakan anak dari pamong desa. Berdirinya sekolah dan asrama perempuan di Mendut dirintis oleh para suster Fransiskanes van Huythuzien yang dimintai tolong oleh Serikat Jesus. Sekolah ini dulunya menempati sebelah barat Candi Mendhut yang saat ini sudah menjadi Vihara. Munculnya rintisan sekolah perempuan ini muncul sebelum adanya surat-surat Kartini (1911). Gagasan sekolah keputrian muncul saat alumni sekolah laki-laki Muntilan merasa kesulitan untuk menemukan gadis Katholik Jawa yang juga berpendidikan. Selain itu juga perkawinan di Jawa yang diatur oleh penghulu yang beragama Islam. Para murid dipersiapkan untuk nantinya dapat menciptakan keluarga Katholik seutuhnya, yang ayah atau ibunya sama-sama Katholik namun juga berpendidikan. Bahkan setiap satu kali dalam seminggu mereka dipertemukan bersamaan misalnya saat menonton film kemudian mereka diperbolehkan untuk saling mengirim surat jika menemukan seseorang yang mereka sukai. Dari sinilah kemudian para siswa saling jatuh cinta dan di kemudian hari membentuk keluarga Katholik di Jawa. Dari sinilah Eka kemudian menyimpulkan bahwa selain melalui pendidikan, perkawinan yang sengaja "didesain" oleh para broeder dan suster di Muntilan dan Mendhut juga merupakan  satu cara untuk menyebarkan benih-benih umat Katholik di Jawa. Salah satu keluarga Katholik Mendut-Muntilan yang dilahirkan yaitu Y. B Mangunwijaya yang di kemudian hari merintis perkampungan di bantaran Sungai Code. Tokoh lain yang dibesarkan dari pendidikan Muntilan yakni Pahlawan Nasional Yos Sudarso yang wafat di perairan Aru.
                     Di akhir pembahasannya Eka juga menguraikan permasalahan yang dihadapi misionaris Katholik saat menyebarkan agama. Misalnya saja saat Muhammadiyah berdiri di tahun 1912 di Yogyakarta, hal tersebut ternyata turut mempengaruhi iklim penyebaran missi di Jawa Tengah. Tantangan zaman membuat misionaris lebih bekerja keras lagi untuk menyebarkan misi contohnya melalui karya sosial dan kesehatan yang didirikan yakni panti asuhan, rumah sakit, dan gereja yang pola ini diadopsi oleh Muhammadiyah. 

Geen opmerkingen:

Een reactie plaatsen