14 mei, 2015

Menuju Bali untuk Kedua Kali

 Perjalanan pertama yang aku lakukan di tahun 2015 yakni plesiran ke Pulau Bali, tepatnya di Nusa Lembongan. Perjalanan kali ini dilakukan dengan sistem Duet Maut, alias hanya berdua saja, aku dan seorang teman sebut saja Linggar. Namanya perjalanan jauh banyak aja kejadian diluar prediksi, apalagi yang nggak enak-enak. Kesialan yang pertama terjadi yaitu ketika kita berdua ketinggalan kereta tujuan Jogja-Banyuwangi. Ini kali kedua aku pergi ke Bali setelah study tour jaman SMP, satu dekade yang lalu. ((( D E K A D E )))

Petugas 1: "Temen mbak sampe mana?"
Saya: "Masih di jalan pak."
Petugas 1: "Coba telpon."
Saya: "Nggak ada pulsa pak."
Petugas 1: "Waaah. Soalnya kita udah telat 2 menit ini."
Petugas 2: "Udah mbaknya mau naik apa tinggal?"
Saya: "Udah pak, duluan aja. Saya juga nggak enak ninggalin temen saya karena dia yang beliin saya tiket ini." (Dalam hati aku juga bergulat dengan pikiranku. Kasihan juga kalau penumpang kereta lainnya terlambat jalan hanya karena nunggu 2 onggok manusia ini)

Kira-kira begitulah percakapan saya dengan sejumlah petugas kereta api. Dan dengan berat hati kulihat kereta api berjalan perlahan menuju Banyuwangi. Beberapa menit kemudian datanglah temanku ini dan mau tidak mau kita harus mencari alternatif kendaraan lain, yang berarti akan jauh lebih lama sampai ke tempat tujuan dari prediksi semula.


Malam hari, habis maghrib lah ya, kami sampai di terminal Purbaya, Surabaya. Disana kami stuck cukup lama karena diuber-uber sama calo dan sempet disorientasi kemana harus mencari angkutan yang tepat agar tidak terjebak calo. Kita sempat bertemu dan bertanya-jawab dengan bapak-bapak yang dengan baik hati menasehati kita agar tetap hati-hati sama calo disana. Sebenarnya aku dan Linggar pernah di terminal ini beberapa tahun yang lalu namun kita cukup kebingungan saat tidak tahu arah, mana utara mana selatan. Akhirnya dengan berani kami menerobos hiruk pikuk calo yang menghampiri kita dan bis tujuan Jember jadi pilihan angkutan kita.

Desa Jungut Batu (Nusa Lembongan) diselimuti kabut tipis dilihat dari Panorama Point

Hal cukup menakutkan bagiku saat diturunkan di terminal Jember. Saat itu pukul 2 pagi di Terminal Jember masih sangat lengang dan kami mau tidak mau ngikut bus tujuan denpasar yang ditawari oleh seorang laki-laki. Di dalam bis itu hanya ada 2 penumpang dan kami berdua. Sempat didatangi oleh pengamen dan diajak ngobrol aneh-aneh aku putuskan pergi ke mushola. Tak berapa lama kemudian menjelang jam 3 atau 4 pagi bis berangkat dan akhirnya berhenti (lagi) di sebuah terminal. Siang jam 7 pagi bis baru benar-benar berangkat menuju Denpasar. 

Jadilah kami diturunkan di terminal Mengwi, dari sana kami ngeteng naik angkutan umum 2 kali lagi dengan tujuan Ubung, kemudian tujuan Sanur, Salah turun halte, waktu naik Sarbagita (bis punya pemerintah), membuat kami menyerah pada keadaan. Nyetop taksi dan mencari hostel di Jalan Danau Tamblingan (Sanur). Sekitar jam 5 sore kami resmi merebahkan badan di hostel dengan total perjalanan darat 32 jam! Jika dihitung dari Jogja, kami berangkat Selasa pagi jam 9 dan tiba di Sanur Rabu jam 5 sore. Duh nggak lagi-lagi deh ketinggalan kereta! 

Geen opmerkingen:

Een reactie plaatsen