06 augustus, 2015

Melewati Perbatasan Thailand-Kamboja

Menjelang jam tidurku, tepatnya pada malam terakhir di Bangkok, aku sudah berpesan kepada pemilik hostel bahwa aku akan check out pukul 4 pagi. Begitu pagi? Ya kereta menuju Aranyaprathet berangkat sekitar jam 6 pagi jadi aku tidak mau kena macet dijalan maka aku berangkat sangat pagi dari hostel.

Hari yang kutunggu tiba. Persiapan berangkat menuju Aranyaprathet (distrik diThailand yang berbatasan dengan Kamboja) cukup membuatku gugup dan sangat khawatir. Kenapa:
1.      Kali ini aku akan melewati perbatasan Thailand-Kamboja secara mandiri alias sendirian. Seorang travel buddy saya sedang berada di Phuket dan baru akan menyusul ke Siem Reap keesokan harinya.
2.      Perbatasan antar dua Negara ini terkenal banyak scammers atau semacam calo yang bisa “menyesatkan”mu sewaktu-waktu atau menguras uangmu jika kamu tidak dibekali informasi yang cukup.
Perjalanan memakan waktu 12 jam. Di dalam kereta para penumpang akan diperiksa identitasnya. Kamu akan lihat beberapa orang akan dibawa petugas entah kemana. Usut punya usut banyak warga Kamboja yang bekerja di Thailand dan diantara mereka ini mungkin memasuki Negara secara illegal sehingga pemeriksaan ketat di dalam kereta perlu dilakukan. Termasuk bagi kita yang memiliki wajah tipikal alias 11-12 ini, tak luput dari kecurigaan petugas. Paspor diperiksa dan mereka bilang “Ah ya, Indonesia.” Lalu selesai saja.


Tentunya informasi teknis bagaimana agar aku sampai di perbatasan dengan aman dan sesuai prosedur sudah aku cari jauh-jauh hari. Tapi seperti biasanya, begitu sampai di stasiun tujuan aku celingukan mencari transportasi mana yang seharusnya aku tumpangi untuk menuju perbatasan (masih 6 kilometer lagi).

Pertama, ada tuk tuk dan kemudian sebuah angkutan semacam truk tertutup atap (yang seharusnya ini aku tumpangi mengingat ongkosnya lebih murah dibandingkan dengan tuk-tuk). Seperti di Indonesia, para pengemudi angkutan cukup agresif mencari penumpang, tinggal bagaimana kamu percaya diri dan tidak terlihat bingung disana. Awalnya aku melihat truk tadi di kejauhan namun masih sepi penumpang. Aku sempat ragu-ragu menaikinya dan aku tidak melihat turis atau bule yang menghampiri kendaraan tersebut. Tidak jauh dari posisi aku berada ada dua orang bule perempuan yang sepertinya hendak naik tuk-tuk. Aku pun mendekatinya dan bermaksud mengajak patungan naik tuk-tuk. Berhasil.

Aku sudah tahu kalau supir tuk-tuk ini akan menurunkan kami ke sebuah agen pengurus visa. Saat sampai di lokasi, aku bilang kepada dua bule ini kalau kalian tidak seharusnya disini dan sebaiknya mereka langsung ke “kantor imigrasi” saja (tempat dimana kita akan diperiksa kelengkapan dokumen kita untuk memasuki Kamboja). Bagi kita orang Indonesia tidak perlu visa untuk masuk ke Kamboja.
Setelah berargumen dengan si supir aku berjalan keluar dari kantor agen tersebut dan kelihatannya si bule itu juga. Aku sudah mempunyai denah lokasi perbatasan, dimana kantor imigrasi, pintu masuk, pintu keluar, dan aku menunjukkan kepada si bule itu entah dia memperhatikan betul atau tidak. aku sempat salah masuk pintu, namun kemudian diberitahu oleh petugas kemana seharusnya aku masuk.
Untuk informasi, suasana di perbatasan ini cukup ramai (sekali lagi akan banyak calo yang agresif) dan aku tidak melihat papan petunjuk yang jelas kemana aku harus pergi (mungkin karena aku sudah penuh dengan kecemasan dan tidak tenang).

Proses masuk ke imigrasi lancar dan aku melihat 2 bule tadi juga sudah sampai disitu, syukur mereka tidak ‘tersangkut’ di calo/agen.
Setelah dari keimigrasian kita harus menuju terminal untuk menuju kota Siem Reap dan disana ada bus gratis yang disediakan untuk mengantarkan. Karena masih penuh dengan kecemasan, aku sangat berhati-hati kendaraan mana yang harus kutumpangi. Lagi-lagi ada seseorang yang menghampiriku dan menyuruhku menaiki sebuah bus yang dia bilang itu akan mengantarku ke terminal. Aku awalnya ragu dan enggan mengikutinya, (karena aku terlalu waspada kepada setiap orang). Saat memasuki bus, baru aku dan 2-3 orang turis yang duduk tapi akhirnya bus penuh juga dan berangkat menuju terminal.
Suasana perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Foto dokumentasi pribadi.
Di terminal ini aku sempat menukarkan uang, dan sebetulnya aku masih bingung kendaraan mana yang kutumpangi: ada taksi, ada shuttle bus atau semacam elf begitu. Suasana disini sama seperti pada umumnya terminal di Indonesia, calo yang agresif namun suasana saat itu cukup lengang sehingga mudah bagi pengemudi bus untuk menyisir para calon penumpang untuk menaiki angkutan mereka. Akhirnya aku menaiki sebuah shuttle bus yang juga sudah dipenuhi oleh turis lainnya.
Perjalanan dari sini (Poipet) menuju ke Kota Siem Reap ditempuh selama -+ 4 jam. Selama perjalanan kamu akan melihat hamparan tanah merah dengan pemukiman penduduk yang jarang-jarang. Seperti out of nowhere entah kamu berada dimana saat itu, aku lupa-lupa ingat juga sih jalanannya sudah di aspal atau belum tapi memang banyak jalanan yang masih berupa tanah di Siem Reap.
Kejutan selalu muncul di perjalanan ini. Taraaa…! Benar saja bus ini menurunkan penumpang di ‘pangkalan tuk-tuk’ yang mau nggak mau kita harus menaikinya. Lagi-lagi aku mencari tumpangan bersama 2 orang turis lainnya.
Dan masalah lainnya adalah: apakah aku harus menginap di hostel “A” -yang telah aku sepakati dengan travel buddy ku? Ataukah aku ikut saja kemana 2 turis ini menginap. Aku masih ragu-ragu saat kami berkompromi dengan pengemudi tuk-tuk. Parahnya lagi, aku dan travel buddy ku ini hanya berkomunikasi via wassap which is wassapku hanya menyala saat ada wifii. Xixixixixi. Jadi kalaupun aku pindah hostel aku baru memberitahu travel buddy ku saat sudah check in di hotel.

Aku     : Dimana kalian mau menginap?
Bule    : Disini (melihatkan kartu nama sebuah hostel). Disini katanya murah, temanku yang memberitahukan.
Aku     : Oke aku ikut dengan kalian.

Alasan lain yang membuatku tidak jadi ke hostel “A” adalah karena aku tidak yakin jika aku kesana sendirian akan sampai (lebih tepatnya karena takut jika ongkos tuk-tuknya akan lebih mahal). Setelah hari ini aku pikir-pikir, sebetulnya saat itu bisa saja aku tetap satu tumpangan dengan 2 bule ini hanya saja nanti  kita diturunkan di hostel masing-masing. Sayang aku baru menyadarinya sekarang.
Harga yang disepakati 3 dolar untuk sampai ke hostel itu sehingga masing-masing dari kami membayar 1 dollar saja.
Jalanan menuju hostel kami masih berupa tanah sehingga cukup berdebu saat ada kendaraan melintas. Hostelnya cukup luas dan kamarnya memang murah!! Ada kamar yang semalamnya ‘cuma’ 1 dollar saja! Tapi tempat tidurnya yagitudeh. Dan aku mengambil kamar yang semalamnya 1,5 dollar. Tertulis fasilitasnya: Cambodian bed atau Khmer Bed aku lupa, yang jelas artinya tempat tidur ala ala orang Kamboja, dan ternyata itu adalah kasur dengan kelambu
 -,- aku menempati lantai dua, semacam loteng dan tanpa sekat diletakkan sejumlah kasur berjejeran dengan masing-masing dipasang kelambu. Terdapat satu buah fan menempel di dinding di atas tiap-tiap dua kasur. Masalah berikutnya muncul… Aku kehilangan kontak dengan travel buddy ku!

                                                                                            

Geen opmerkingen:

Een reactie posten