15 mei, 2015

Dua Nusa Bersaudara: Lembongan dan Ceningan

      Pasti Anda semua setuju kalau setiap tempat yang kita kunjungi, baik untuk tujuan bisnis maupunberlibur, pasti meninggalkan kenangan entah itu kenangan indah ataupun tidak. Kenangan tercipta karena ada cerita muncul didalamnya. Tidak selalu cerita  pemandangan indah yang mampu menghipnotis kita selama beberapa saat mammpu menciptakan memori tersendiri di benak kita.
         Lalu kenangan indah apa yang membekas dari dua nusa bersaudara, Lembongan dan Ceningan? Tentulah tiga hari saja tidak cukup untuk menggambarkan seluruh detail gambaran yang dimiliki kedua pulau yang bersebelahan dengan Nusa Penida ini. Tapi aku akan coba menggambarkan apa saja yang kulihat, kurasakan, dan kubawa dari kedua pulai cantik ini. Bukan sebuah cerita panjang yang menggerakkan hati tapi setidaknya cukup untuk menjadi refleksi. *tsaaahh*

 Kampung Turis

Kayaknya nggak perlu dijelasin lagi kenapa aku tulis satu poin pertama di atas. Bali. Pulau Dewata yang -barangkali- jadi rumah kedua bagi para turis mancanegara dan menjadi tujuan utama bagi mereka pencinta vitamin sea. Sama seperti Bali pada umumnya, di Lembongan ini aku temukan banyak turis manca berwisata disini, bahkan ada yang tinggal disini ya. Hampir tiap sudut jalan bisa kau temui turis ini berjalan kaki, naik sepeda motor, atau naik angkutan. 
Ada dua spot populer tujuan turis di Lembongan, yakni Desa Jungut Batu dan Desa Lembongan. Nah buat turis-turis backpacker ini, Jungut Batu lebih 'ramah' alias jadi tujuan utama ketimbang di Mushroom Bay yang banyak didirikan resort/hotel yang sangat merogoh kocek dalam-dalam.
Saking banyaknya turis manca disini, salah satu warung di Jungut Batu menjual beragam produk impor seperti mayones, nuttela, paprika, bir (tentu saja! yay!), dan lain-lain untuk memenuhi kebutuhan turis manca. Meski harga barang disini jelas lebih mahal dari pulau Bali karena butuh ongkos transport tambahan untuk sampai ke Lembongan. (Fyi: untuk sampai ke Lembongan butuh waktu 30 menit dari Pantai Sanur)
Ada satu angkutan box tersendiri yang rutin berkeliling ke warung-warung di Jungut Batu untuk menyetok barang-barang kebutuhan disini.

Desa Jungut Batu atau dikenal dengan Santorini-nya Bali. Tampak penginapan dan restauran menghiasi sudut-sudut pulau ini.

14 mei, 2015

Menuju Bali untuk Kedua Kali

 Perjalanan pertama yang aku lakukan di tahun 2015 yakni plesiran ke Pulau Bali, tepatnya di Nusa Lembongan. Perjalanan kali ini dilakukan dengan sistem Duet Maut, alias hanya berdua saja, aku dan seorang teman sebut saja Linggar. Namanya perjalanan jauh banyak aja kejadian diluar prediksi, apalagi yang nggak enak-enak. Kesialan yang pertama terjadi yaitu ketika kita berdua ketinggalan kereta tujuan Jogja-Banyuwangi. Ini kali kedua aku pergi ke Bali setelah study tour jaman SMP, satu dekade yang lalu. ((( D E K A D E )))

Petugas 1: "Temen mbak sampe mana?"
Saya: "Masih di jalan pak."
Petugas 1: "Coba telpon."
Saya: "Nggak ada pulsa pak."
Petugas 1: "Waaah. Soalnya kita udah telat 2 menit ini."
Petugas 2: "Udah mbaknya mau naik apa tinggal?"
Saya: "Udah pak, duluan aja. Saya juga nggak enak ninggalin temen saya karena dia yang beliin saya tiket ini." (Dalam hati aku juga bergulat dengan pikiranku. Kasihan juga kalau penumpang kereta lainnya terlambat jalan hanya karena nunggu 2 onggok manusia ini)

Kira-kira begitulah percakapan saya dengan sejumlah petugas kereta api. Dan dengan berat hati kulihat kereta api berjalan perlahan menuju Banyuwangi. Beberapa menit kemudian datanglah temanku ini dan mau tidak mau kita harus mencari alternatif kendaraan lain, yang berarti akan jauh lebih lama sampai ke tempat tujuan dari prediksi semula.


Malam hari, habis maghrib lah ya, kami sampai di terminal Purbaya, Surabaya. Disana kami stuck cukup lama karena diuber-uber sama calo dan sempet disorientasi kemana harus mencari angkutan yang tepat agar tidak terjebak calo. Kita sempat bertemu dan bertanya-jawab dengan bapak-bapak yang dengan baik hati menasehati kita agar tetap hati-hati sama calo disana. Sebenarnya aku dan Linggar pernah di terminal ini beberapa tahun yang lalu namun kita cukup kebingungan saat tidak tahu arah, mana utara mana selatan. Akhirnya dengan berani kami menerobos hiruk pikuk calo yang menghampiri kita dan bis tujuan Jember jadi pilihan angkutan kita.

Desa Jungut Batu (Nusa Lembongan) diselimuti kabut tipis dilihat dari Panorama Point

Hal cukup menakutkan bagiku saat diturunkan di terminal Jember. Saat itu pukul 2 pagi di Terminal Jember masih sangat lengang dan kami mau tidak mau ngikut bus tujuan denpasar yang ditawari oleh seorang laki-laki. Di dalam bis itu hanya ada 2 penumpang dan kami berdua. Sempat didatangi oleh pengamen dan diajak ngobrol aneh-aneh aku putuskan pergi ke mushola. Tak berapa lama kemudian menjelang jam 3 atau 4 pagi bis berangkat dan akhirnya berhenti (lagi) di sebuah terminal. Siang jam 7 pagi bis baru benar-benar berangkat menuju Denpasar. 

Jadilah kami diturunkan di terminal Mengwi, dari sana kami ngeteng naik angkutan umum 2 kali lagi dengan tujuan Ubung, kemudian tujuan Sanur, Salah turun halte, waktu naik Sarbagita (bis punya pemerintah), membuat kami menyerah pada keadaan. Nyetop taksi dan mencari hostel di Jalan Danau Tamblingan (Sanur). Sekitar jam 5 sore kami resmi merebahkan badan di hostel dengan total perjalanan darat 32 jam! Jika dihitung dari Jogja, kami berangkat Selasa pagi jam 9 dan tiba di Sanur Rabu jam 5 sore. Duh nggak lagi-lagi deh ketinggalan kereta! 

13 mei, 2015

Kembali

Olla!
Akhirnya bisa lagi nyempetin nengok blogku yang makin usang karena udah jarang ada postingan. What I have been doing so far?
Akhir Maret lalu aku baru aja jatuh dari tangga gegara ngambil kucing dari atas genteng tetaangga depan rumah. Tangganya tangga berbahan alumunium yang bisa dilipat itu, nekat aku naik sendirian tanpa dijaga oleh bapakku dari bawah. Setelah menunggui kucingku agar mudah kuambil, kemudian aku bawa turun tapi sayangnya tangga terpleset dan aku jatuh. Aku sempat menahan kucingku agar tak lari karena kalau sampai berlari menyebrang jalan, aku takut di tertabrak. Singkat cerita setelah dirontgen, kata dokter tanganku patah tapi kondisinya bagus, mungkin disebut retak ya. Sayang sekali pagi harinya, tetangga menemukan kucingku tertabrak motor, dan meninggal. Disitu aku merasa sangat sedih banget! Aku nangis, ibuku juga dan aku susah memaafkan diriku. huhuhuhhu Tapi namanya musibah yang sudah digariskan aku tidak bisa menghindar, apalagi kucingku.
Naah.. tanganku jadilah di gips selama sebulan dan sekitar 3 minggu lalu gipsnya baru saja dibuka. Sekarang aku masih menjalani fisioterapi sebanyak 8 kali, semoga cepat sembuh :)