07 september, 2017

Mentabukan Menstruasi

India girl kills herself over 'menstruation shaming'

31 August 2017, India

A 12-year-old schoolgirl from southern India has killed herself after a teacher allegedly humiliated her over a blood stain from menstruation.
In a suicide note, she accused the teacher of "torturing" her.
Although the girl did not mention period shaming in her letter, the mother says her daughter was asked to leave the class because of the stain.
Menstruation is taboo in parts of rural India. Women are traditionally believed to be impure during their periods.
Police say they have registered a case of suicide and are investigating. The incident took place early on Sunday in Tirunelveli district in the state of Tamil Nadu.
"I do not know why my teacher is making complaints against me. I still can't understand why they are harassing and torturing me like this," the student said in her suicide note.
It began: "Amma [mother], please forgive me."
Her mother accused the teacher of having beaten her daughter in the past for not doing her homework.
''My daughter got her periods while she was in school last Saturday," her mother told BBC Tamil. "When she informed the teacher, she was given a duster cloth to use as a pad.
"The teacher made my daughter stand outside the class. How can a 12-year-old withstand such humiliation?" she asked.
The girl killed herself a day later.
The school told the BBC it was co-operating with police.

Sumber: http://www.bbc.com/news/world-asia-india-41107982


Hallo semua!
Berita memilukan datang dari seorang gadis berusia 12 tahun dari India Selatan yang mengakhiri hidupnya setelah dipermalukan oleh seorang guru saat ia menstruasi. Gadis itu adalah adik, teman, anak dan saudari kita. Gadis itu adalah kita.
Siapa yang mendengar berita tersebut sudah pasti akan marah, kesal, jengkel dan tidak habis pikir, seperti aku. Aku tahu betul rasanya mendapat perlakuan serupa di usia-usia tersebut.

.
.
.

Aku termasuk diantara mereka yang mengalami menstruasi di usia lebih awal, yakni sepuluh tahun. Aku adalah salah seorang diantara anak perempuan yang tidak mendapatkan informasi soal pubertas; apa yang harus dilakukan dan bagaimana menghadapi masa-masa pubertas. Segala informasi seakan datang terlambat padaku.
Hal ini membuatku ‘salah’ memperlakukan tubuhku sehingga aku tidak pernah nyaman saat menstruasi tiba, misalnya. Hal ini jauh berbeda ketika aku sudah dewasa.
Aku risih menggunakan pembalut, bahkan aku pernah salah memakainya. Ketidaknyamananku menggunakan pembalut menyebabkan cara berjalanku yang aneh, dan aku lebih sering duduk, membatasi gerak tubuh untuk beraktivitas sebab takut darah menstruasi menembus hingga ke celana atau rokku.
Di kalangan sebayaku, menstruasi dianggap tabu, sesuatu yang kotor, memalukan bahkan mungkin menjijikkan. Aku ingat betul saat aku dan teman-teman harus berbisik-bisik atau menggunakan kata lain untuk menyebut “menstruasi”. Kami seperti malu mengakui kalau diri kami sedang menstruasi. Mungkin kami malu karena dianggap dewasa terlalu dini (?), selain karena memang menstruasi adalah hal yang tabu untuk dibicarakan.
Sekolahku ketika itu adalah sekolah dasar berbasis agama Islam, di mana ibadah berjamaah dan membaca Alquran menjadi kegiatan yang rutin dilakukan. Ada kalanya bagi siswi perempuan tidak mengikuti kegiatan tersebut karena sedang menstruasi atau haid.
Saat tidak ikut sholat berjamaah atau mengaji bersama, kadang aku harus pura-pura ikut membaca Alquran agar tidak disangka sedang haid. Entah kenapa aku malu jika teman-teman, khususnya laki-laki, tahu bahwa aku sedang haid.
Belum lagi kalau sampai darah haid menembus pakaian. Malunya akan minta ampun!

Kupikir-pikir setelah sekian tahun ini, puncak dari segala situasi yang tidak nyaman itu terjadi saat aku kelas satu SMP. Tahun kedua atau ketiga aku mengalami menstruasi.
Di sekolah kami, sebagian siswi yang sedang haid kadangkala tidak mengikuti jam pelajaran olahraga. Seperti aku yang pernah tidak mengikuti kelas olahraga karena saat haid badanku terasa tidak fit dan aku masih belum terbiasa bergerak secara leluasa ketika menggunakan pembalut. Maka saat itu aku ijin untuk tidak mengikuti kelas kepada guru olahragaku, yang juga seorang perempuan.
Aku tidak menyangka respon yang kudapat atas permohonan ijin yang kusampaikan. Bukannya pemahaman atau simpati yang kudapat, justeru sentimen dan tuduhan yang tidak menyenangkan. Aku dianggap berbohong dan dituduh menghindari mata pelajaran olahraga dengan alasan haid. Baginya, haid tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak mengikuti olahraga atau dalam hal ini ‘menghindari’ kelasnya.

Reaksiku saat itu jengkel, sampai-sampai aku menangis (yang ini aku menyesal banget!) karena respon tidak ramah dari guruku tersebut. Aku heran kenapa ia sampai tega menuduhku berbohong? Salahkah jika aku tidak ikut olahraga ‘hanya’ karena nyeri haid?
.
.
Sebagaimana umumnya, ketidakhadiran murid dalam kelas atau mata pelajaran, turut mempengaruhi penilaian guru. Hal ini menjadi dilematis bagi siswi perempuan ketika menghadapi guru yang tidak sensitif seperti guru olahragaku. Siswi berhak untuk mendapatkan ijin tidak mengikuti kelas karena kondisi biologisnya, yang mana hal ini tidak bisa dihindari. Akan tetapi bagi guru yang tidak mentolerir kondisi tersebut dapat seenaknya menurunkan nilai siswi.

Kini ketika lebih dari satu dekade berlalu, mengingat pengalaman itu semakin membuatku marah dan menyesal karena tidak pernah bisa membalas sikap apatis guruku.
Haid bukanlah hal yang tabu, menjijikkan dan memalukan.
Haid adalah kondisi biologis yang alamiah terjadi.
Tidak sepatutnya kita mentabukan dan menyembunyikannya seolah aib atau kotoran.
Lagi-lagi, ini semua terjadi karena tabunya seksualitas dan kesehatan reproduksi, yang selalu disimpan rapat-rapat seperti bangkai yang jangan sampai terendus baunya!

02 januari, 2017

When I was in Gent

Happy new years for all of you,

I am welcoming this 2017, by writing old stories from 2011. Yes, this is quite a proof that I am so lazy until I decide to write my so-long-ago trip after six years.

The story began when I visited Netherland in 2011, for joining the annual Dutch summer course organized by Taal Unie. Right after the course ended, I went for a short trip, to Belgium.

I still remember how I took the wrong line from Amsterdam to Gent, just because I didn't understand (or not sure) about info that I got from a official in Amsterdam Central Station.

Soon I arrived in Gent station, a friend of mine would pick me up. That was the plan.
But then, it was just the matter of my bad ability to read a map, given by a woman officer in the station.
I was lost when I was looking for the way out. And unfortunately one of the wheels of my suitcase was broken. It's understandable, due to the heat caused by its long run on the street. That was quite problem for me, since I could reach my friend and the it drizzled. I felt so miserable at that time. Waiting on the corner of the street, alone, with my broken suitcase, and had no idea where to go, in the middle of the rain. (In fact, a part of the story above has been posted in 2014, LOL. I just dont remember. Please see here)



After few minutes, I met my friend and we reunited, after a year I guessed. He was staying in Gent for the same course, as well.

Get Lost

I spent like 4 days here and people were wondering what I did since Gent is not quite popular among other big cities in Belgium. The day after my arrival, I went to the centrum, or the middle of the town, by cycling. That was ramadhan when I visited Gent. I spent the whole day by cycling around the city, and not to forget here again I lost and had no guts to ask the natives the way back home. Until I stopped in a shop and planned to ask where the hell I was. Since I found it was not friendly attitude, when you enter a shop only for asking and not to buy, then I decided to walk around the aisles looking for something to buy. Then I frowned for a moment, found out that the prices of some goods is far from cheap. I walked again, back and forth, until the shop keeper suspected me (I could see the way she looked at me). Finally I decided to buy water and still, I got no clear answer from her when I asked the way heading to my place. pffft.

I think, getting lost was my big problem in this trip. On the third day, again, I was lost when I was walking around the town. It was really exhausting, really. I bet this won't happened if you could read the map much better than I did :p and of course have guts to ask natives.


Individual Life of Westerners

The social life of westerners are quite different from the easterners, when it comes about the "friendliness" or awareness. We, the Indonesians mostly "care" about what you do, what happen to you and how people greet someone or even strangers as if they know each other. On the other hand, western people are most likely individual persons who rarely pay attention to everyone's business.
I did realize this thing, when I walked and carried my broken suitcase with so inconvenience and no one I passed asking or giving a hand to me. It's so contrast here, people most probably would pose question to you "What happen?" or "Let me help you" or even though the most hated one you would hear "Mau kemana, neng?" or "Where are you going, lady?". The last one is more to gender-based verbal harassment.



I think I don't remember much, the time when I was in Gent. It's quite a lively city especially in the centrum, I must say and it has so many beautiful-old buildings. To be honest I didn't plan or make any list like 'where to go' or 'what to see' during my stay there. Even on my third day, I just stayed half day in the boarding house, did nothing instead of read a travel-guide book hahaha that was because of the rain so you barely could go outside and enjoy the city.   



xoxo

26 augustus, 2016

Een klein stukje over mijn grote familie

Hola amigas! Como estas?

In deze post probeer ik zoveel mogelijk of zelfs alles in het Nederlands te scrijven. Nu ga ik over een klein stukje over mijn grote familie bespreken. En waar gaat het over voornaamelijk? Ik zal over onze speciaale familie-bijeenkomst praten terwijl in het suikerfeest. 

Het wordt al een gewoonte in Indonesie, ook in de andere landen vooral die veel Islamische mensen hebben- geloof ik, dat in het suikerfeest is de tijd wanneer veel mensen met hun eigen familie vergaderen. Meestal vergaderen zij bij hun ouders of grootouders hoewel in de stad of in het dorp. Dat gebeurt wel in mijn grote familie. Nadat we aanbidden en ontmoeten onze buren, gaan we meestal naar het dorp waarin mijn oma -de moeder van mijn vader- woont, in Kulonprogo -het ligt in het west van Yogyakarta. Ja, daar woont mijn oma alleen sinds mijn opa in 2008 (?) stierf.
Mijn oma heeft eigenlijk vijf kinderen, maar een van haar dochters stierf toen zij nog jong was. Dus nu zijn er vier kinderen; twee dochters en drie zonen. Mijn vader is nummer twee.

Er zijn heel veel spullen die we moeten brengen, zoals hapjes, voedsel, en paar keukengereedschap want mijn moeder verantwoordt voor de keuken-zaak. Zij heeft extra keuken-set nodig omdat er onvolledige keukengereedschap is bij mijn oma. Daarom zijn we -vader, ik, en mijn twee broers- lastig.

Dit jaar is een beetje anders dan de afgelopen jaren. In de ramadan verloren we onze lieve oom. De hartaanval heeft de dood ten gevolge. Hij was de schoonbroer van mijn vader. Hij verlaat 3 zontjes en 2 dochters. Ik was daar toen mijn oom in het ICU werd behandeld, tot hij voor de laatste keer uitademde.

Begint dit jaar, hebben we een gehele familie bijeenkomst op de eerste dag van Ied Mubarak/ suikerfeest. De bijeenkomst worden door alle families van mijn grootvader zaliger (de vader van mijn vader) bijgewoond. En voor dit jaar, deze bijeenkomst werd bij mijn oma plaatsgevonden.
Paar weken geleden bereidden mijn moeder en tantes jurken voor de meiden in onze grote familie. Die jurken moesten we dragen tijdens de bijeenkomst, dat hebben we nooit eerder gedaan. Het was gezellige middag, haden we lekker eten hoewel we er niet alle gezins kennen (daarom staat zulke bijeenkomst, zodat we elkaar leren kennen). Na de bijeenkomst, maakten we ook veel fotos.

oma en haar dames
Met mijn lieve nichtjes 

De volgende ochtend, waren we -de dames- bezig in de keuken om de ontbijt te bereiden. Na het ontbijt, meestal hebben we nog onze eigen familie-bijeenkomst. Nichtjes, neefjes, tantes, ooms, en natuurlijk mijn oma, alles vergaderden in het terras. Meestal gaven mijn ooms of vader advies over hoe uitvoeren we wel de Islamische leer en later vergaten we niet om fotos te maken.

Ik ben de jongste kinder. Ik heb twee oudere broers.


Dat was het klein stukje over mijn grote familie activiteit tijdens het Suikerfeest. We haden gezellige tijd tijdens het Suikerfeest en ik geloof jullie wel, net zoals degenen die hun feestdagen met families vieren.

Tot volgend jaar!



Lieve,
Tantri :)


19 juni, 2016

Riuhnya PSS Sleman Menyambutmu



      Dari jauh terdengar keriuhan yang berasal dari Stadion Maguwoharjo. Aneh, karena pertandingan baru akan dimulai lebih dari satu jam lagi. Sebagai satu-satunya bule yang berada di area stadion, aku berjalan menuju tribun utama dengan penuh rasa penasaran. Ketika aku benar-benar memasuki stadion, aku terkejut: kedua sisi tribun yang lebih kecil sudah penuh. Terutama tribun selatan atau Curva Sud. Para supporter disana betul-betul bergelantungan di pagar, sementara lapangan masih kosong. Aku duduk di bangku beton dan mengamatinya selama 5 menit.

PSS Sleman merupakan sebuah klub asal Indonesia, tepatnya dari Yogyakarta. Klub ini merupakan juara bertahan dan sangat populer di kalangan anak muda. Selain itu Sleman juga terkenal akan suporternya; Brigata Curva Sud. Terinspirasi oleh Curva Sud AC Milan, mereka mencoba mendukung klub mereka.

Pertandingan yang aku tonton adalah pertandingan antara PSS Sleman melawan Persenga Nganjuk (3-1). Pertandingan ini merupakan pembuka dari kompetisi Liga Premier Indonesia 2014. Pesepakbola Kristian Adelmund, mantan pemain muda Feyenoorder dan sekarang bermain untuk PSS Sleman, berkata padaku sebelum pertandingan. Ia mengatakan bahwa kondisi di tribun bisa sangat gila. Bagi Adelmund, setiap pertandingan terasa menyenangkan saat ia memasuki lapangan, ujarnya.

Sumber: dari sini

Semangat

Dapat kamu perhatikan langsung ketika sampai di pintu masuk, bahwa orang-orang Indonesia sangat bersemangat. Meskipun sepakbola disini tidak berada pada level yang tinggi, namun orang-orang mendukung 110 persen klub mereka. Selama pemanasan, hujan rintik-rintik mulai turun. Seorang pria berlari dengan menggendong anak laki-laki berusia sekitar 1 atau 6 tahun di pundaknya. Keduanya turut bernyanyi dengan lantang: “Sleman till I die! Sleman till I die!” dengan pancaran dimata mereka seolah ini pertandingan kejuaraan. Mereka berada di tribun utama.

Saat tim lawan  memasuki lapangan, suara terdengar sedikit menghentak. Dari yang tadinya penuh dengan euphoria, kemudian menjadi penuh kebencian. Pertandingan segera dimulai dengan bunyi siulan kencang dan potongan-potongan kertas, lumpia, botol minum, serta gulungan tisu toilet yang menghujani lapangan. Lawan pun 'disambut'.



Koreografi

Aku tahu kalau Curva Sud telah menyiapkan sesuatu, bahkan sebelum aku memasuki stadion. Di pintu masuk para gadis berdiri, mereka mengumpulkan uang untuk menyemarakkan pertandingan. "Ini untuk tujuan baik", pikirku. Dan aku memberikan 20,000 rupiah, atau senilai 1,30 Euro. Gadis tersebut heran melihatnya, bagi orang Indonesia jumlah tersebut merupakan jumlah yang besar.

Sesaat sebelum pertandingan dimulai, sejumlah anggota Curva Sud mengelilingi stadion. Disana dibagikan kertas ukuran A3 dengan bermacam-macam warna, semua orang mengerti maksudnya. Tapi khusus di tribun Brigata Curva Sud, koreo sudah dimulai sebelum pertandingan berlangsung. Dengan menggunakan kertas-kertas berukuran A3, orang-orang memperlihatkan gambar sebuah piala besar. Mereka dengan jelas menunjukkan bahwa PSS Sleman adalah juara liga tahun lalu dan akan memenangkannya kembali pada tahun ini.
Saat para pemain bermunculan di lapangan, seluruh stadion turut menyambutnya. Kertas-kertas berhamburan keatas dan kebawah, dilambaikan dan dilemparkan. Bagi supporter sepakbola Eropa, hal tersebut merupakan sesuatu yang menakjubkan.

Menit '85
Sebelumnya aku telah diberitahu oleh Kristian Adelmund, dia berkata padaku bahwa aturan mengenai kembang api selama pertandingan diperketat. Sebelum dan selama pertandingan dilarang menyalakan flare/ kembang api. Sebaliknya, setelah pertandingan kembang api boleh dinyalakan. "Seluruh stadion menyala", kata Adelmund. Inilah saat yang kunantikan.
Menit ke-85. Disana-sini muncul nyala api.  "Mendebarkan", pikirku. Sejauh 15 meter, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun mulai melambaikan tangan dengan sebuah bom asap. Hal ini tampaknya menjadi tanda bagi seluruh stadion untuk menyalakan obor, kembang api, dan bom asap. "No Pyro, No Party", kata seorang penonton Indonesia dalam bahasa Inggrisnya yang bagus, sambil menengok kearahku dari belakang. Jelas sudahseperti apa yang telah dikatakan Adelmund dan aku akan menikmatinya.  Sangat jarang kamu melihat fenomena ini secara langsung. Pun di seberang tribun Curva Sud, dimana kelompok pendukung lainnya berada, yakni Slemania, telah menyalakan obor dan bom asap. Stadion menjadi lautan asap dan api.  Menyenangkan dan membuatku merinding.
Sumber ada di sini






Penuh Keriuhan, Kurang Pengalaman

Yang menarik perhatian saat di stadion adalah sedikitnya respon yang diberikan pada permainan. Memang saat itu penuh dengan keriuhan, 90 menit para pendukung Sleman bernyanyi dan berteriak. Namun jika ada sebuah pelanggaran serius, dan pelanggaran-pelanggaran itu terjadi, maka suara para pendukung PSS nyaris tidak terdengar. Mereka tetap ‘teguh’ terus bernyanyi dan melambai-lambaikan bendera. Pun selama gol-gol dicetak, dimana terdapat satu gol indah (yakni sebuah tendangan dari jarak 25 meter kearah sudut atas gawang), tidak banyak reaksi seperti yang kubayangkan. Tentu saja semua orang berlompatan, namun setelah itu mereka hanya terus bernyanyi di sisa menit berikutnya, kali ini lebih lantang.
Ungkapan “hanya bernyanyi ketika tim-mu unggul” tidak berlaku bagi mereka.

Kualitas
Dari permainannya, tampak bahwa para pemain Indonesia tidak punya banyak pengalaman. Level Liga Premier Indonesia tidak lebih dari liga di Belanda. Meskipun begitu pertandingan tersebut cukup menarik untuk disaksikan. Banyak yang terjadi dalam pertandingan ini: empat gol tercetak, satu diantaranya merupakan gol yang indah, pelanggaran-pelanggaran berat serta serangan kecil tiki-taka dari tim Sleman.
Para pendukung di atas tribun adalah yang terbaik. Hal ini tidak pernah aku alami sebelumnya. Berdiri di belakang timmu selama Sembilan puluh menit, merupakan sesuatu yang luar biasa. Menjadi hal baru bagiku ketika kumpulan orang-orang dengan penuh semangat bisa ikut bersorak untuk tim mereka. Sebagian besar penonton duduk dengan merinding di Stadion Maguwoharjo. Banyak klub Eropa bisa belajar sesuatu dari sini.


Artikel tamu ini ditulis oleh Sven Wanders, yang telah tinggal di Indonesia (dan menikmatinya) selama 3 minggu dalam rangka studi di bidang jurnalistik.

----
Artikel ini merupakan hasil terjemahan dari laman:
Apabila ada kesalahan atau ketidaksesuaian maupun kekurangan dalam penerjemahan, harap sampaikan kepada penulis melalui kolom komentar dibawah ini atau email ke: swastika.tantri@gmail.com.