25 oktober, 2015

Negara Belum Pergi dari Rahimku

Intervensi Negara Terhadap Rahim Perempuan


               Tepatnya empat bulan lalu, tidak sengaja saya melihat cuplikan program televisi Mata Najwa yang saat itu tengah mengangkat topik bupati-bupati berprestasi di sejumlah daerah. Para bupat ini dianggap sosok yang berbeda dari pemimpin daerah kebanyakan karena memiliki gaya kepemimpinan yang dekat dengan rakyat. Satu sosok yang cukup menarik perhatian saya saat itu adalah Bupati Gorontalo, David Bobihoe Akib. Hal yang menarik adalah ketika Najwa Shihab menyoal program ibu hamil yang dijalankan oleh pemerintah daerah Gorontalo yang tidak hanya melibatkan tenaga medis atau dinas terkait saja namun juga aparat keamanan seperti TNI dan polisi. Menurut keterangan sang bupati, tingginya angka kematian ibu (AKI) di Gorontalo membuat pemerintah membentuk petugas khusus dalam menjalankan program perawatan ibu hamil, yakni G-gas atau Gugus Petugas. Satuan petugas ini terdiri atas tokoh agama, tokoh masyarakat, Polsek, Polres, Ramil, dan Babinsa yang siap ‘menggiring’ para perempuan yang enggan mengakses layanan kesehatan modern. Ya, masyarakat Gorontalo enggan mengakses layanan kesehatan modern karena mereka masih memiliki kepercayaan yang kuat terhadap bidan kampung daripada tenaga medis profesional. Bupati juga menambahkan, kalau dengan menempatkan tenaga-tenaga medis professional di desa-desa ini akan menjadi hal yang percuma karena kepercayaan masyarakat saja masih rendah terhadap mereka. Lalu apakah tugas aparat keamanan atau tenaga para militer ini? Aparat keamanan ini bertugas untuk memaksa ibu-ibu hamil agar mau mengakses layanan rumah bersalin atau Puskesmas.
         Dalam kerangka SDG’s, sustainable development goals yang merupakan bentuk penyempurnaan dari Millennium Development Goals, di tahun 2015 ini Indonesia menargetkan turunnya rasio kematian ibu hingga 102 per 100.000 per kelahiran hidup. Sebelumnya, sampai tahun 2007 rasio kematian ibu di Indonesia mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup. Untuk mencapai tujuan tersebut maka, pemerintah Indonesia memastikan bahwa semua kelahiran akan ditangani oleh tenaga bidan profesional. Jika berkaca pada data profil dinas kesehatan propinsi Gorontalo, Kabupaten Gorontalo dapat dikatakan memiliki angka kematian ibu tertinggi dibandingkan dengan kabupaten/kota di Propinsi Gorontalo lainnya. Penyebab dari kematian ini umumnya dikarenakan perdarahan, hipertensi, infeksi, dan abortus. Maka untuk menekan AKI ini pemerintah memilih cara yang opresif terhadap perempuan daripada menggunakan pendekatan yang berprespektif kesetaaraan gender. Melalui kebijakan semacam ini pemerintah daerah kabupaten Gorontalo telah melanggar hak perempuan yang menjadi bagian dari hak asasi manusia. Hal ini seperti yang telah tercantum dalam Instruksi Presiden No.9 Tahun 2000 Tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Dalam instruksinya, presiden menghimbau lembaga-lembaga Negara termasuk pemerintah daerah agar pengarusutamaan gender digunakan sebagai pendekatan untuk menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi kebijakan serta program pembangunan nasional sesuai dengan bidang tugas dan kewenangan masing-masing.       

How's Life?

Dag, de mooie wereld...van mij!

It's been such a long time, since the last time I wrote on this 'dirty pages'. Moreover I have promised to myself that I should be 'productive' in writing, both in English or Bahasa, even in Dutch! I thought by having some future-plans to be realized, then put it into the ''to-do-list'', would keep my life on the track. But in the end, idleness always wins my heart. Until I realize that I am not 'young' anymore, future haunts me, and I should take my self back on the track: pursue what I need and what I want. Sometimes I feel sick of those things as if I can't enjoy my life for a moment, well in fact there has been plenty of leisure time I have spent. 

Well, what's up then? It's supposed to be something new or special, which you're gonna tell at the moment, isn't it?

 Yea, for the first time since I was born, I just got my first full time job! I have been working for these two months in a museum, as a secretary, for sure. Something that I have never imagined before.
As a newbie in this kind of full time job, (because in the recent past I used to work as freelancer) there are many new things I found, I experience. It's normal when sometimes we find things going good or bad. That is a life. I just simply warn my self when I start to complain about things in life. 

Well, I work from Monday till Saturday, from 9.00 to 16.00, only on Monday and Saturday I work from 9.00 to 12.00. In fact I can still do my usual activity like attend the Dutch Class -which will be ended next week, even though I often miss my class due to my work- or even still get side job from a friend. The thing about full time work is how to avoid boredom during the office days. Some people enjoy their work, some say they still learn to enjoy, get excited, even learn to adapt the  different environment like I do. Anyway learning is about the time, until we find (or even create) another comfort zone as a place to live. 

Love life?

At least I have lessened the 'drama' that I used to make, however sometimes I still say silly/ unworthy things which my love doesn't like to hear that.
But anyway, it's been a week since he went back to this city. It seems unusual that he got 2 weeks of leave, usually he only gets 5 days until a week of free time. Wish everything goes better for us..


06 augustus, 2015

Melewati Perbatasan Thailand-Kamboja

Menjelang jam tidurku, tepatnya pada malam terakhir di Bangkok, aku sudah berpesan kepada pemilik hostel bahwa aku akan check out pukul 4 pagi. Begitu pagi? Ya kereta menuju Aranyaprathet berangkat sekitar jam 6 pagi jadi aku tidak mau kena macet dijalan maka aku berangkat sangat pagi dari hostel.

Hari yang kutunggu tiba. Persiapan berangkat menuju Aranyaprathet (distrik diThailand yang berbatasan dengan Kamboja) cukup membuatku gugup dan sangat khawatir. Kenapa:
1.      Kali ini aku akan melewati perbatasan Thailand-Kamboja secara mandiri alias sendirian. Seorang travel buddy saya sedang berada di Phuket dan baru akan menyusul ke Siem Reap keesokan harinya.
2.      Perbatasan antar dua Negara ini terkenal banyak scammers atau semacam calo yang bisa “menyesatkan”mu sewaktu-waktu atau menguras uangmu jika kamu tidak dibekali informasi yang cukup.
Perjalanan memakan waktu 12 jam. Di dalam kereta para penumpang akan diperiksa identitasnya. Kamu akan lihat beberapa orang akan dibawa petugas entah kemana. Usut punya usut banyak warga Kamboja yang bekerja di Thailand dan diantara mereka ini mungkin memasuki Negara secara illegal sehingga pemeriksaan ketat di dalam kereta perlu dilakukan. Termasuk bagi kita yang memiliki wajah tipikal alias 11-12 ini, tak luput dari kecurigaan petugas. Paspor diperiksa dan mereka bilang “Ah ya, Indonesia.” Lalu selesai saja.


Tentunya informasi teknis bagaimana agar aku sampai di perbatasan dengan aman dan sesuai prosedur sudah aku cari jauh-jauh hari. Tapi seperti biasanya, begitu sampai di stasiun tujuan aku celingukan mencari transportasi mana yang seharusnya aku tumpangi untuk menuju perbatasan (masih 6 kilometer lagi).

Pertama, ada tuk tuk dan kemudian sebuah angkutan semacam truk tertutup atap (yang seharusnya ini aku tumpangi mengingat ongkosnya lebih murah dibandingkan dengan tuk-tuk). Seperti di Indonesia, para pengemudi angkutan cukup agresif mencari penumpang, tinggal bagaimana kamu percaya diri dan tidak terlihat bingung disana. Awalnya aku melihat truk tadi di kejauhan namun masih sepi penumpang. Aku sempat ragu-ragu menaikinya dan aku tidak melihat turis atau bule yang menghampiri kendaraan tersebut. Tidak jauh dari posisi aku berada ada dua orang bule perempuan yang sepertinya hendak naik tuk-tuk. Aku pun mendekatinya dan bermaksud mengajak patungan naik tuk-tuk. Berhasil.

Aku sudah tahu kalau supir tuk-tuk ini akan menurunkan kami ke sebuah agen pengurus visa. Saat sampai di lokasi, aku bilang kepada dua bule ini kalau kalian tidak seharusnya disini dan sebaiknya mereka langsung ke “kantor imigrasi” saja (tempat dimana kita akan diperiksa kelengkapan dokumen kita untuk memasuki Kamboja). Bagi kita orang Indonesia tidak perlu visa untuk masuk ke Kamboja.
Setelah berargumen dengan si supir aku berjalan keluar dari kantor agen tersebut dan kelihatannya si bule itu juga. Aku sudah mempunyai denah lokasi perbatasan, dimana kantor imigrasi, pintu masuk, pintu keluar, dan aku menunjukkan kepada si bule itu entah dia memperhatikan betul atau tidak. aku sempat salah masuk pintu, namun kemudian diberitahu oleh petugas kemana seharusnya aku masuk.
Untuk informasi, suasana di perbatasan ini cukup ramai (sekali lagi akan banyak calo yang agresif) dan aku tidak melihat papan petunjuk yang jelas kemana aku harus pergi (mungkin karena aku sudah penuh dengan kecemasan dan tidak tenang).

Proses masuk ke imigrasi lancar dan aku melihat 2 bule tadi juga sudah sampai disitu, syukur mereka tidak ‘tersangkut’ di calo/agen.
Setelah dari keimigrasian kita harus menuju terminal untuk menuju kota Siem Reap dan disana ada bus gratis yang disediakan untuk mengantarkan. Karena masih penuh dengan kecemasan, aku sangat berhati-hati kendaraan mana yang harus kutumpangi. Lagi-lagi ada seseorang yang menghampiriku dan menyuruhku menaiki sebuah bus yang dia bilang itu akan mengantarku ke terminal. Aku awalnya ragu dan enggan mengikutinya, (karena aku terlalu waspada kepada setiap orang). Saat memasuki bus, baru aku dan 2-3 orang turis yang duduk tapi akhirnya bus penuh juga dan berangkat menuju terminal.
Suasana perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Foto dokumentasi pribadi.

22 juli, 2015

Cita-cita

[Kamus Besar Bahasa Indonesia] 
ci.ta-ci.ta n 1 keinginan (kehendak) yg selalu ada di dl pikiran; 2 tujuan yg sempurna (yg akan dicapai atau dilaksanakan). 



Aku ingat sekali ketika itu aku berjalan dibawah teriknya panas matahari sepulang sekolah. Saat itu aku masih duduk di bangku SMP. Jarak sekolah dengan rumah memang tidak jauh, lebih kurang empatratus-an meter. Sambil berjalan, aku berangan-angan, menggambarkan kelak aku besar ingin jadi apa. Saat itu aku bercita-cita menjadi seorang diplomat. Kerjanya enak, di luar negeri. Kayaknya sih enak tinggal di luar negeri. Hehehe

Beranjak SMA, aku masih bercita-cita menjadi seorang diplomat. Disinilah aku bertemu dengan dua orang teman yang juga punya cita-cita sama. Kami pun berrencana mengambil jurusan Hubungan Internasional saat kuliah nanti. Dan itupun benar mereka lakukan. 

Selepas SMA, benar saja dua orang temanku sukses melanjutkan studinya di jurusan Hubungan Internasional, bahkan saat ini ada yang melanjutkan studinya di jenjang S2.
Melenceng dari tujuan awal, aku tidak melanjutkan studi di bidang yang aku inginkan. Gagal pada program studi pilihan pertama, aku justru diterima pada pilihan ketiga, yaitu Ilmu Sejarah. Ya, sesaat sebelum ujian akhir nasional, aku sedang senang-senangnya belajar sejarah. Saat mampu menghafal tahun dan mengingat peristiwa, membuat aku menjadi siswa paling kece saat itu. Hahahaha! Aku ingat sekali betapa orang disekitarku, bahkan guru dan orangtuaku mensangsikan atas pilihan studiku. "Kelak kamu akan jadi apa?" Tanya mereka setiap kali mengetahui pilihan studiku.
Saat itu aku sebenarnya juga sudah diterima di program studi Manajemen, di sebuah sekolah tinggi swasta. Namun -tidak munafik- mengingat aku diterima di kampus negeri favorit di Jogja membuatku untuk memilih Ilmu Sejarah sebagai destinasi selanjutnya.

Tak disangka-sangka, karena Sejarah-lah aku dipertemukan dengan Bahasa Belanda. Ya, di program studi Sejarah ini kami diwajibkan untuk mengambil mata kuliah Bahasa Belanda selama 4 semester berturut-turut. Ini pun aku ketahui setelah aku membaca Buku Panduan Akademik sebelum kegiatan perkuliahan dimulai. Saat itu juga aku mengambil kursus Bahasa Belanda. Tak disangka juga aku menyukainya dan masih belajar hingga sekarang, meski sempat autodidak karena kelas Bahasa Belanda tidak selalu rutin dibuka.



Semasa kuliah, aku memiliki cita-cita untuk menjadi pekerja lepas atau freelancer atau kalau kata Jenny Jusuf, bebastusuk (free: bebas, lance: tusuk). Lebih jauh mengenai dunia bebastusuk, bisa lihat di blog ini. Gara-garanya, saat itu aku sedang asyik mengikuti sepak terjang (tsaaahh) para travel writer yang memang pekerja lepas ini, kerjaannya -keliatannya- asyik. Keliatannya ya... hehehe. Jalan-jalan doang, promo produk, nulis di blog, dapet duit deh!

Lalu kini apa cita-citaku setelah -hampir- delapan bulan menyandang gelar sarjana sastra? (Di kampusku, Ilmu Sejarah berada dibawah naungan Fakultas Ilmu Budaya yang gelar sarjananya adalah S.S, alias Sarjana Sambal Sastra).

Sebetulnya sempat keturutan juga sih ngerasain freelancer selepas lulus kuliah. Meski bisa dibilang cukup serabutan, karena ngerjain kerjaan apa aja selama aku bisa, tetapi seengaknya aku mengamini bahwa jadi freelancer itu enak-enak susah. Enaknya bisa kerja dimana aja (nggak perlu ngantor), nggak terikat jam kerja, tapi deg-degan juga kalau pas kantong kering dan bayaran seret hehehe.. Dari jadi transcriber, relawan di LSM, notulensi, jadi Liaison Officer, sampai ngajarin Bahasa Belanda. 
Lebih dari itu, hasrat buat kerja kantoran dan terikat kontrak, pengen juga ngerasain tapi mungkin belum rejekinya aja hehehe


Sukses buat semuanya... see you on top, readers!
xoxo 

15 mei, 2015

Dua Nusa Bersaudara: Lembongan dan Ceningan

      Pasti Anda semua setuju kalau setiap tempat yang kita kunjungi, baik untuk tujuan bisnis maupunberlibur, pasti meninggalkan kenangan entah itu kenangan indah ataupun tidak. Kenangan tercipta karena ada cerita muncul didalamnya. Tidak selalu cerita  pemandangan indah yang mampu menghipnotis kita selama beberapa saat mammpu menciptakan memori tersendiri di benak kita.
         Lalu kenangan indah apa yang membekas dari dua nusa bersaudara, Lembongan dan Ceningan? Tentulah tiga hari saja tidak cukup untuk menggambarkan seluruh detail gambaran yang dimiliki kedua pulau yang bersebelahan dengan Nusa Penida ini. Tapi aku akan coba menggambarkan apa saja yang kulihat, kurasakan, dan kubawa dari kedua pulai cantik ini. Bukan sebuah cerita panjang yang menggerakkan hati tapi setidaknya cukup untuk menjadi refleksi. *tsaaahh*

 Kampung Turis

Kayaknya nggak perlu dijelasin lagi kenapa aku tulis satu poin pertama di atas. Bali. Pulau Dewata yang -barangkali- jadi rumah kedua bagi para turis mancanegara dan menjadi tujuan utama bagi mereka pencinta vitamin sea. Sama seperti Bali pada umumnya, di Lembongan ini aku temukan banyak turis manca berwisata disini, bahkan ada yang tinggal disini ya. Hampir tiap sudut jalan bisa kau temui turis ini berjalan kaki, naik sepeda motor, atau naik angkutan. 
Ada dua spot populer tujuan turis di Lembongan, yakni Desa Jungut Batu dan Desa Lembongan. Nah buat turis-turis backpacker ini, Jungut Batu lebih 'ramah' alias jadi tujuan utama ketimbang di Mushroom Bay yang banyak didirikan resort/hotel yang sangat merogoh kocek dalam-dalam.
Saking banyaknya turis manca disini, salah satu warung di Jungut Batu menjual beragam produk impor seperti mayones, nuttela, paprika, bir (tentu saja! yay!), dan lain-lain untuk memenuhi kebutuhan turis manca. Meski harga barang disini jelas lebih mahal dari pulau Bali karena butuh ongkos transport tambahan untuk sampai ke Lembongan. (Fyi: untuk sampai ke Lembongan butuh waktu 30 menit dari Pantai Sanur)
Ada satu angkutan box tersendiri yang rutin berkeliling ke warung-warung di Jungut Batu untuk menyetok barang-barang kebutuhan disini.

Desa Jungut Batu atau dikenal dengan Santorini-nya Bali. Tampak penginapan dan restauran menghiasi sudut-sudut pulau ini.

14 mei, 2015

Menuju Bali untuk Kedua Kali

 Perjalanan pertama yang aku lakukan di tahun 2015 yakni plesiran ke Pulau Bali, tepatnya di Nusa Lembongan. Perjalanan kali ini dilakukan dengan sistem Duet Maut, alias hanya berdua saja, aku dan seorang teman sebut saja Linggar. Namanya perjalanan jauh banyak aja kejadian diluar prediksi, apalagi yang nggak enak-enak. Kesialan yang pertama terjadi yaitu ketika kita berdua ketinggalan kereta tujuan Jogja-Banyuwangi. Ini kali kedua aku pergi ke Bali setelah study tour jaman SMP, satu dekade yang lalu. ((( D E K A D E )))

Petugas 1: "Temen mbak sampe mana?"
Saya: "Masih di jalan pak."
Petugas 1: "Coba telpon."
Saya: "Nggak ada pulsa pak."
Petugas 1: "Waaah. Soalnya kita udah telat 2 menit ini."
Petugas 2: "Udah mbaknya mau naik apa tinggal?"
Saya: "Udah pak, duluan aja. Saya juga nggak enak ninggalin temen saya karena dia yang beliin saya tiket ini." (Dalam hati aku juga bergulat dengan pikiranku. Kasihan juga kalau penumpang kereta lainnya terlambat jalan hanya karena nunggu 2 onggok manusia ini)

Kira-kira begitulah percakapan saya dengan sejumlah petugas kereta api. Dan dengan berat hati kulihat kereta api berjalan perlahan menuju Banyuwangi. Beberapa menit kemudian datanglah temanku ini dan mau tidak mau kita harus mencari alternatif kendaraan lain, yang berarti akan jauh lebih lama sampai ke tempat tujuan dari prediksi semula.


Malam hari, habis maghrib lah ya, kami sampai di terminal Purbaya, Surabaya. Disana kami stuck cukup lama karena diuber-uber sama calo dan sempet disorientasi kemana harus mencari angkutan yang tepat agar tidak terjebak calo. Kita sempat bertemu dan bertanya-jawab dengan bapak-bapak yang dengan baik hati menasehati kita agar tetap hati-hati sama calo disana. Sebenarnya aku dan Linggar pernah di terminal ini beberapa tahun yang lalu namun kita cukup kebingungan saat tidak tahu arah, mana utara mana selatan. Akhirnya dengan berani kami menerobos hiruk pikuk calo yang menghampiri kita dan bis tujuan Jember jadi pilihan angkutan kita.

Desa Jungut Batu (Nusa Lembongan) diselimuti kabut tipis dilihat dari Panorama Point

Hal cukup menakutkan bagiku saat diturunkan di terminal Jember. Saat itu pukul 2 pagi di Terminal Jember masih sangat lengang dan kami mau tidak mau ngikut bus tujuan denpasar yang ditawari oleh seorang laki-laki. Di dalam bis itu hanya ada 2 penumpang dan kami berdua. Sempat didatangi oleh pengamen dan diajak ngobrol aneh-aneh aku putuskan pergi ke mushola. Tak berapa lama kemudian menjelang jam 3 atau 4 pagi bis berangkat dan akhirnya berhenti (lagi) di sebuah terminal. Siang jam 7 pagi bis baru benar-benar berangkat menuju Denpasar. 

Jadilah kami diturunkan di terminal Mengwi, dari sana kami ngeteng naik angkutan umum 2 kali lagi dengan tujuan Ubung, kemudian tujuan Sanur, Salah turun halte, waktu naik Sarbagita (bis punya pemerintah), membuat kami menyerah pada keadaan. Nyetop taksi dan mencari hostel di Jalan Danau Tamblingan (Sanur). Sekitar jam 5 sore kami resmi merebahkan badan di hostel dengan total perjalanan darat 32 jam! Jika dihitung dari Jogja, kami berangkat Selasa pagi jam 9 dan tiba di Sanur Rabu jam 5 sore. Duh nggak lagi-lagi deh ketinggalan kereta! 

13 mei, 2015

Kembali

Olla!
Akhirnya bisa lagi nyempetin nengok blogku yang makin usang karena udah jarang ada postingan. What I have been doing so far?
Akhir Maret lalu aku baru aja jatuh dari tangga gegara ngambil kucing dari atas genteng tetaangga depan rumah. Tangganya tangga berbahan alumunium yang bisa dilipat itu, nekat aku naik sendirian tanpa dijaga oleh bapakku dari bawah. Setelah menunggui kucingku agar mudah kuambil, kemudian aku bawa turun tapi sayangnya tangga terpleset dan aku jatuh. Aku sempat menahan kucingku agar tak lari karena kalau sampai berlari menyebrang jalan, aku takut di tertabrak. Singkat cerita setelah dirontgen, kata dokter tanganku patah tapi kondisinya bagus, mungkin disebut retak ya. Sayang sekali pagi harinya, tetangga menemukan kucingku tertabrak motor, dan meninggal. Disitu aku merasa sangat sedih banget! Aku nangis, ibuku juga dan aku susah memaafkan diriku. huhuhuhhu Tapi namanya musibah yang sudah digariskan aku tidak bisa menghindar, apalagi kucingku.
Naah.. tanganku jadilah di gips selama sebulan dan sekitar 3 minggu lalu gipsnya baru saja dibuka. Sekarang aku masih menjalani fisioterapi sebanyak 8 kali, semoga cepat sembuh :)

16 maart, 2015

Perkawinan sebagai Pola Penyebaran Agama Katholik di Jawa Awal Abad XX

            Suara guruh yang bersahut-sahutan pada Rabu sore (11/3) tidak menyurutkan niatku dan seorang teman untuk menghadiri diskusi sejarah di sebuah UNY. Diskusi sejarah tersebut diklaim sebagai diskusi perdana yang kembali diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah UNY setelah sekian lama vakum. Yang menjadi magnet bagiku dan teman untuk datang adalah pembicara dalam diskusi yang merupakan senior kami semasa kuliah, Eka Ningtyas namanya. Eka saat ini sedang menempuh pendidikan Pascasarjana Ilmu Sejarah di alamameternya dahulu, UGM.
               Sore itu acara terlambat berjalan selama 30 menit. Pada awalnya tidak banyak peserta diskusi yang hadir di Ruang Studio Musik Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi UNY, namun seiring berjalannya waktu ruang tersebut cukup dibuat penuh oleh massa yang datang.
              Diskusi tersebut dimoderatori oleh alumni Hima Ilmu Sejarah UNY sendiri yaitu Mas Kuncoro yang kebetulan teman sekelas Eka di sekolah pascasarjana. Dalam presentasinya, Eka mengangkat judul "Surat Cinta Dari Mendut: Lahirnya Keluarga Katolik Pertama di Jawa Awal Abad 20" sebagai topik diskusi yang tidak lain merupakan salah satu bab dalam skripsinya terdahulu. Pada awal pembahasannya, Eka menceritakan mengenai awal kehadiran misi Katolik di Muntilan, kota kecil di Jawa Tengah yang mendapat sebutan Bethlehem van Java. Adalah Hovenars dan Van Lith, dua tokoh misi yang menjadi pionir lahirnya umat Katolik di Muntilan melalui ordo Serikat Jesus. Disini Eka menjelaskan beberapa metode yang dilakukan oleh para pewarta Injil dalam menyebarkan agama Katolik di Muntilan. Metode pertama yang dilakukan namun pada akhirnya gagal, yaitu Katekismus. Katekismeus merupakan langkah untuk 'merekrut' orang-orang bumiputra untuk menjadi calon pemeluk Katolik melalui pertemuan-pertemuan rutin yang mengarah pada pewartaan Injil. Namun pada akhirnya cara ini gagal karena mereka yang kemudian memeluk Katolik semata-mata hanya karena menginginkan santunan yang kerap diberikan oleh pihak misionaris.

10 januari, 2015

Tetap Sehat Meski LDR

Yap, tahun 2015 ini saya awali dengan membuat sedikit catatan mengenai hal-hal ‘menyehatkan’ yang bisa kita ambil dari hubungan jarak jauh atau LDR. Kenapa tiba-tiba ngomongin LDR? Karena kalau merefleksikan apa yang telah terjadi di 2014 kemarin, menjalani hubungan jarak jauh merupakan pengalaman yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Seringkali saya menemukan banyak pelajaran di dalamnya, maka berikut saya beberkan beberapa catatan yang menurutku cukup memberi refleksi di awal tahun ini.

1.       Menjadi orang yang lebih menghargai waktu
Sebuah pasangan yang menjalani relasi LDR, akan memiliki sedikit waktu untuk saling bertemu. Mengingat bahwa keduanya memiliki aktivitas/ bekerja di dua daerah yang berbeda sehingga mereka hanya akan memiliki waktu terbatas untuk cuti atau pulang ke tempat tinggal mereka. Makanya untuk mengelola quality time ini, pasangan LDR akan dilatih untuk selalu on time saat menemui pasangan mereka agar selalu menghargai momen-momen yang tidak mungkin dilewatkan ini. Agar quality time terjaga biasanya pasangan akan menjauhkan diri dari gadget saat bersama dan menghindari percekcokan remeh temeh yang sering terjadi di hari-hari biasanya. Bagaimana mungkin jika salah satu pasangan yang hanya punya ijin cuti pulang 2 minggu dalam 3 bulan, lalu saat keduanya saling bertemu waktu hanya terbuang untuk cekcok saja? hehehe
  
2.       Being Independent is not impossible anymore
Mau jomblo atau berpasangan, mau LDR atau enggak, being independent is a must, isn’t it? Nah tapi kita tidak bisa menutup mata ya kalau banyak loh pasangan yang saling tergantung satu sama lain. Nggak mau makan kalau nggak ditemenin, nggak mau pergi belanja kalau nggak dijemput, nggak mau pacaran kalau nggak malam minggu *eh*
Konteks independen ini sangatlah umum, semua person pun bisa menjadi independen tanpa LDR misalnya. Namun pasangan yang LDR saat menemui kesulitan dalam mengerjakan sesuatu, maka akan terbiasa bekerja tanpa bantuan pasangannya, bagaimana pasangannya mau membantu wong terpisah jarak dan waktu? Hehehe  mungkin ada juga orang yang terbiasa meminta bantuan oranglain daripada pasangannya saat ada kesulitan namun kalau pelaku LDR mau tidak mau dituntut agar tidak bergantung pada partnernya sekalipun ada kesulitan yang terjadi.

3.       Jadi pribadi yang mudah mengelola emosi dan kesabaran
Bagaimana tidak, Jarak dan waktu adalah medan tempur untuk mengelola emosi dan    kesabaran setiap manusia, termasuk para pelaku LDR. hehehehe. Sepertinya semua setuju ya kalau kesabaran dan emosi pelaku LDR ini harus tahan uji. Tidak bertemu pasangannya selama berbulan-bulan, hanya bisa bersua lewat layar kaca atau frekuensi telepon, maka saat terjadi persoalan penyelesaiannya tidak semudah jika dilakukan dengan tatap muka. Kesabaran dan emosi yang bisa dikelola dengan baik akan membentuk pribadimu juga dalam bekerja.     
 
ilustrasi via ini
4.       Membentukmu untuk memiliki mental pejuang
Yang ini mungkin terlalu lebay, tapi orang yang nggak LDR pun juga rasa-rasanya harus punya mental pejuang, memperjuangkan pasangannya yang sedikit-sedikit bilang putus kalau lagi bosan dan bertengkar hehehehe Bedanya pelaku LDR ini harus punya mental pejuang dalam menaklukan jarak, waktu, dan emosi yang meluap-luap. Karena kendala-kendala ini yang nggak dimiliki oleh mereka yang tidak LDR. Perjuangan ekstra keras harus dilakukan jika kamu tidak mau jarak menjadi penghalang putusnya hubungan kalian hehehehe. Mereka yang tidak LDR bisa menyelesaikan persoalan dengan bertemu setiap saat, berbeda dengan pelaku LDR yang harus sabar dengan sinyal internet yang naik turun, pulsa henpon yang kembang kempis, hanya untuk menyelesaikan persoalan kecil misalnya.

Berkata jujur tentu pasti harus dimiliki setiap orang, tapi bagi pelaku LDR yang betul-betul mempertahankan relasinya, akan cenderung berkomitmen untuk saling jujur dan menjaga kepercayaan tersebut *tsaaaah* Karena hanya dengan modal tersebut hubungan bisa dibina dengan baik. Mungkin sementara itu yang menjadi catatan untuk berefleksi di tahun yang baru ini. Bagi kalian yang mau menambahkan atau sekedar mengkritik bisa tulis melalui kotak komentar di bawah, terimakasih!