17 december, 2013

CRPD


Siang ini (17/12) baru saja dilaksanakan Rapat Koordinasi Kewajiban Internasional Indonesia Kepada Komite Pemantau Hak-hak Penyandang Disabilitas PBB di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta. Acara yang diadakan oleh Direktorat HAM dan Kemanusiaan di bawah Kementerian Luar Negeri tersebut mengundang instansi pemerintah dan non pemerintah yang menggeluti isu disabilitas. Pokok dari diadakannya pertemuan yang menurut saya lebih berisikan “diskusi” atau Tanya jawab tersebut mengkritisi sikap pemerintah dan masyarakat terhadap Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) sebagai Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN HAM). RAN HAM ini yang kemudian menjadi instrument penting dalam mengarusutamakan isu-isu disabilitas dalam pembangunan nasional.

Agenda rapat koordinasi tersebut menghadirkan tiga narasumber yaitu Direktur HAM dan Kemanusiaan Kemenlu, Muhammad Anshor, Biro Hukum Setda DIY, Bapak Sukamto, dan Setyo Adi dari ketua Dria Manunggal. Presentasi cukup menarik ketika Bapak Setya memaparkan banyak informasi mengenai kendala dan apa saja program-program yang telah berjalan di Yogyakarta terkait  pengarusutamaan isu disabilitas. Diantaranya yang menarik yaitu saat beliau memaparkan betapa pemerintah kita menghiraukan kerentanan seseorang mengalami disabilitas, misalnya bagaimana penggunaan pestisida berlebihan pada pertanian bawang di Brebes bisa membuat para petani mengalami kelumpuhan otak atau bagaimana pencemaran limbah timbang pada ikan-ikan di Tanjung Priok yang berpotensi pada kecacatan seseorang. Selain itu beliau juga menyampaikan kurangnya kesadaran aparat pemerintah dalam mengakomodir hak-hak kelompok difabel dalam mengakses layanan public seperti layanan kesehatan, transportasi, ataupun hukum.

Pak Setya juga memaparkan berbagai program pemerintah yang telah melibatkan Organisasi Penyandang Disabilitas seperti dalam Musrenbang, pemberian kuota tenaga kerja, latihan kerja, jaminan kesehatan khusus, dan lain-lain meskipun belum optimal.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab yang tentu saja menarik banyak audiens untuk mengungkapkan segala ide dan kritik terhadap sikap pemerintah terkait CRPD. Ternyata tidak hanya pemerintah saja yang berperan aktif dalam mengakomodir hak-hak kelompok difabel namun masyarakat juga perlu memiliki kesadaran untuk saling menghargai akan kebutuhan kelompok tersebut. Kita masih bisa melihat misalnya di trotoar Jalan Malioboro misalnya, guiding block bagi tuna netra justru digunakan untuk berjualan atau tempat parkir kendaraan. Ada juga audiens yang mengeluhkan bahwa Bank Indonesia tidak menyediakan layanan ATM bagi para penyandang tuna netra atau masih banyak fasilitas bangunan yang tidak aksesible bagi kelompok difabel.

Rekomendasi dari acara tersebut bermaksud menyinergikan kebijakan lintas sektor dalam mengakomodir kepentingan kelompok difabel. Tentunya banyak audiens juga berharap bahwa keterlibatan pemerintah dalam pengarusutamaan isu disabilitas ini tidak hanya sebatas dilakukan untuk memenuhi “laporan” kerja mereka saja namun program yang ada juga betul-betul sesuai dengan kebutuhan kelompok difabel.



Tantri Swastika

08 november, 2013

Kopi dan Bola

derby mataram @ Maguwo Internasyenal Stadiyum
Kopi dan Sepakbola

Pasti banyak sudah yang tidak mendustakan dua kenikmatan ini. Nonton bola sambil ngopi. Atau ngopi sehabis main sepakbola? Sesukamu lah.

Everything has been changing. Kata saya. Dulu saya nggak biasa minum kopi. Minum kopi cuma nyruput kopi oranglain, jarang bikin kopi buat dinikmatin sendiri. Itu pun kopi sobek alias kopi saset. Kopinya pun kopi blend-blend an. Sekarang? Saya rutin ngopi. Paling nggak sehari satu atau dua kali. Wajib minum tiap pagi. Kopinya kopi gilingan dari biji kopi asli. Bukan lagi kopi sobek dan diminum tanpa gula.

Dulu saya benci bola. Sering saya rebutan channel tv, jamannya musim piala dunia. Sampai saya nangis karena ga bisa liat siaran lain selain bola. Suka heran banget, kenapa bola satu bisa-bisanya direbutin dan ditonton banyak orang. Sekarang? Saya bisa sering nonton tim bola lokal/timnas di stadion, nonton bareng liga italia dan timnas di warung kopi. Kadang baca kolom berita bola lokal, nasional maupun internasional.

Hmm… adakalanya ada hal yang dibenci namun tidak terelakkan untuk bisa disukai hehehe bisa jadi karena trend, yang memaksa kita menyukai sesuatu, atau bahkan disebabkan oleh seseorang, yang "meracuni" kita untuk menyenangi hal yang sama. Kalau mengaitkan dua hal di atas maka akan menemukan satu orang yang juga gila akan dua hal itu dan mengenalkannya kepada saya. Lagi-lagi, siapa lagi kalau bukan partner saya? :P Energinya di pagi hari berangkat dari kopi. Sudah seperti nasi, kopi jadi santapan wajib sehari-hari. Begitu juga dengan sepakbola, yang dianut setaat agamanya. He he he That's right, bener kalau dia lah yang punya andil dalam "meracuni" saya untuk hobi minum kopi dan rutin nonton bola. 


Seperti orang bilang, kita nggak pernah bisa jatuh cinta sama sesuatu tanpa kita pernah mencoba atau terlibat didalamnya, ibarat kata: cinta nggak pernah buta hehehe Maksudnya segala hal harus bisa dilihat, dirasakan, dan dilakukan *apasih* ya gitu deh intinya butuh sebuah proses untuk bisa mengubah perasaan benci menjadi jatuh cinta *tsaaah* Entahlah saya ini ngomong apa. Yang jelas sudah ada banyak hal yang berubah dalam kebiasaan saya saat ini.. wohooo.!

Kadang Nggak Butuh Alasan

Selamat malam, blog!

Dari salah satu kolong langit saya kembali menyapa, yay!

            Malam ini baru saja aku pulang dari menonton sepakbola di MIS (Maguwoharjo International Stadium). Sejak kapan jadi suka nonton bola? Sejak berpartner dengan seorang fans sepakbola? Bisa jadi. Benar memang semenjak berpartner dengan seorang Sleman fans, saya jadi rutin mengunjungi MIS untuk menengok PSS berlaga. Padahal dari kecil saya sudah terdoktrin untuk tidak pernah suka akan sepakbola. Hmmmm eng ing eng... siapa sangka saat ini saya jadi akrab dengan stadion dan sering ikutan nonbar laga sepakbola timnas ataupun liga italia :)) Now the world has been changing 
Malam ini istimewa, pasalnya PSS Sleman akhirnya resmi lolos ke Final Divisi Utama dengan unggul 3-0 dari Persitara. Akhirnya ya...setelah pertandingan demi pertandingan dilewati, kini saatnya gelar juara yang sesungguhnya telah dinanti oleh para Slemania, Brigatta Curva Sud, (keduanya adalah julukan untuk supporter Slemania) dan Sleman fans lainnya. 
Sedikit bercerita, barangkali ada beberapa yang mengherankan: kenapa saya yang notabene tinggal di kotamadya justru intens menonton dan mendukung PSS Sleman, yang jelas bukan kabupaten dimana saya tinggal, dan bukannya malah mendukung tim sepakbola asal kota Yogyakarta yaitu PSIM? Tidak munafik sih memang kalau pada awalnya saya mulai menonton PSS karena ajakan partner saya, yang memang orang Sleman dan fanatik akan PSS Sleman-nya. Kemudian sejak pertandingan sepakbola liga Indonesia pertama yang saya tonton itu, saya mulai intens menonton laga-laga berikutnya. Bukan lagi menonton karena ajakan partner tapi karena secara pribadi saya punya keinginan sendiri untuk menonton. Sudah bukan rahasia lagi kalau menonton PSS bertanding pasti akan mendapat sajian hiburan dari supporternya yang selalu riuh bernyanyi 2 x 45 menit non-stop plus koreografi yang tak pernah lelah disuguhkan. Poin plus ini yang membuat saya atau barangkali ribuan penonton lainnya betah mengikuti pertandingan tim kesayangan mereka. 
Oiya, ada satu hal yang belum kesampaian buat diwujudkan, yaitu ikut awaydays, menyaksikan PSS tandang ke kota lain merupakan kepinginan saya beberapa waktu lalu. Faktor keamananlah yang belum mengijinkan saya untuk ikutan awaydyas. Pingin sih liat atmosfer pertandingan PSS di kota lain, pasti akan berbeda dengan laga yang digelar di MIS.
Fanatik? Saya sih belum sampai fanatik buat mendukung PSS, so far, saya cuma senang bisa ikut menonton dan mendukung tim sepakbola kesayangan partner, meskipun bukan berasal dari kabupaten yang sama, setidaknya kami masih berada pada propinsi yang sama hehhehe *apasih* Maksudnya, masih dalam satu koridor cita-cita mulia: mendukung sepakbola lokal. ha ha ha
Berkali-kali pertanyaan di atas muncul di benak saya, kenapa saya begitu setia ya menonton pertandingan mereka? Padahal orang Sleman juga bukan. Ah entahlah. Kadang kesenangan itu tidak butuh alasan. Agree?

Goodnite all :-*

31 augustus, 2013

Sajak untuk sebuah bibir

Aku rela menjadi yang terakhir
yang terakhir kali mencecap bibirmu
setelah kopi dan rokok yang kau nikmati terlebih dahulu

Aku rela menjadi yang terakhir
yang terakhir membasuh jejak rasa yang ditinggalkan kedua benda itu
kedua benda yang kau sebut-sebut sebagai sumber energi untuk mengawali kerasnya hari
aromi kopi yang sedikit asam dan filter yang manisnya menggelikan
kedua aroma yang selalu kurindukan, setelah manisnya bibirmu 

Aku rela menjadi yang terakhir
yang terakhir menghapus jejak aroma rokok dan kopi bibirmu
karena dengan begitu aku telah menjadi penguasa tunggal,
penguasa tunggal atas sebuah kenikmatan sederhana yang berbuah dari tiap jengkal bibirmu

Aku rela
meskipun harus menjadi yang terakhir

21 augustus, 2013

Intermeso

          Beberapa waktu lalu, sudah lama, aku pernah nge-post interview kecil-kecilan bersama seorang teman kuliah. Saat itu, aku pengen menyuguhkan bentuk lain dari sekian postingan2 nggak mutu-ku -..- Ya, diantaranya dengan memunculkan sebuah interview terhadap sosok yang meskipun nggak populer atau melegenda, ingin aku hadirkan disini. Setidaknya jadi legenda di blogku yang makin hari makin kusut ini. Kali ini niat jahat untuk mengosak-asik blog ini kembali mencuat. Dan kali ini aku berhasil membujuk seseorang yang telah lalai mau nulis di blog ini. Siapa dia? Tunggu besok ya :)

19 augustus, 2013

Paradise Fall


 Mengulang kesuksesan kemah pantai beberapa tahun lalu, weekend kemarin saya dan kawan-kawan SMA pergi bermalam ke sebuah spot tersembunyi di selatran kota Jogja. Semua sudah dipersiapkan lengkap. Dari tenda, logistik, pokoknya segala uba rampe buat hepi-hepi. Sialnyaaa... setelah mendirikan tenda malam itu, saya baru teringat kalau kompor yang saya bawa ketinggalan di Sekolah (meeting point kami sebelum berangkat). Akhirnya mau tak mau kami harus memasak logistik yang sudah terbeli dengan kayu bakar dan tong yang kami sewa dengan harga yang cukup fantastis. Btw, kemajuan pariwisata di pantai ini mulai memunculkan kapitalis-kapitalis kecil bagi warga yang berjualan disana. Segala apapun disewain, kita nggak boleh beli kayu bakar aja alias kalo mau bebakaran ya harus sekalian sewa tong-nya, dengan alasan agar pantai tidak kotor. Tapi lagi-lagi harga sewanya yang nggak ramah ini membuat kami cuma bisa mengeluh.



Sebetulnya tujuan camping ground kita ini ada di pantai sebelah, sebutlah pantai X, disana ada air terjunnya, dan memang bukan objek pariwisata alias sangat sepi dari pengunjung. Karena kita terlalu malam sampai di lokasi, akhirnya kami direkomendasikan warga untuk menginap di Pantai Y karena kalau malam hari begini Pantai X pasang dan tidak ada lokasi parkir disana. Untuk menuju Pantai X ini, sama seperti perjalan menuju Pantai Y, jalannya masih jelek. Karena jalannya adalah jalan setapak, maka motor tidak bisa lewat dan harus diparkirkan di pinggir jalan. Butuh waktu 30 menit untuk berjalan kaki menuju pantai X. Jalannya cukup landai dan saat akan sampai di pantai kita akan disambut oleh gonggongan anjing warga yang bermukim di dekat pantai. Begitu pagi harinya kami sampai di lokasi, betul saja pengunjung disana hanyalah rombongan kami. Sangat sepi. Bersih. dan inilah sepotong Paradise di bumi.






15 augustus, 2013

grumble

pernah nggak kalian merasa
atau percaya
kalau tubuh yang kalian punya sekarang ini,
bukan hanya punyamu sendiri, tapi ada orang lain yang punya otoritas
atas tubuhmu?

Nggak ada?
Coba pikir lagi deh.

ada yang mengontrol seperti apa seharusnya bentuk tubuh dan warna kulitmu?
ada yang menyuruhmu bagaimana seharusnya berpakaian?
ada yang menghendaki seberapa panjang seharusnya rok yang kamu pakai?
ada yang mengatakan sejauh mana tubuhmu boleh diumbar?
ada yang memerintahkan seperti apa bentuk kerudung yang harus kamu kenakan?



Arti seorang pejalan

    Pada kesempatan ini, saya hanya sekedar ingin melebarkan pandangan dan mengurai pengalaman dari apa yang selama ini kita sebut dengan berwisata piknik, tamasya, jalan-jalan, atau mungkin kalian lebih nyaman menggunakan istilah traveling. Yup. Semua orang sedang berada dalam euforia ini. Tidak ada maksud untuk menghakimi atau menyudutkan siapapun dalam curhatan kali ini. Ini semua pure hanya untuk memproyeksikan segala buah pikiran dan segala yang pernah saya jumpai dalam sebuah kegiatan yang bernama perjalanan. 
Please be relax... 
   Beberapa waktu lalu, seorang teman membagi sebuah laman  yang berisi interview seorang tokoh sosmed yang kemudian mengulas banyak soal makna seorang pejalan. Yaaah, intinya sih kalau dalam interview tersebut, si tokoh yang bernama Arman Dhani -bisa disimpulkan- hampir-hampir mengkalim kalau pariwisata atau kegiatan melancong ini cenderung membawa mudharat bagi alam, bersifat eksploitatif dan tidak selalu mendatangkan keuntungan bagi lingkungan maupun masyarakatnya. Sebelumnya seorang kawan juga pernah men-suggest sebuah laman soal green traveler kepada saya, isinya lebih kurang sama yaitu bagaimana kita sebagai seorang pejalan seharusnya bisa bertanggungjawab terhadap alam atau tempat yang dikunjungi. Salah satu yang ditekankan adalah dengan tidak mempromosikannya kepada khalayak luas, karena dengan begitu kita telah memicu kerusakan yang akan ditimbulkan jika banyak orang datang ke tempat tersebut. Karena nggak semua orang bisa bersikap bijaksana dalam memperlakukan suatu tempat. Pada kesempatan yang lain, seorang teman juga pernah berkomentar bahwa tourism atau traveling merupakan salah satu bentuk hedonisme yang paling rendah. Dia juga mengatakan bahwa banyak ulasan travel blogger/ writer yang tidak berbobot, mereka hanya menulis soal keindahan suatu objek, akses menuju tempat tersebut, apa yang bisa dilakukan disana, namun tanpa pernah mengkajinya secara humanis atau edukatif. Cetek. Dangkal, katanya. Iya. Saya mengamini seluruh pendapat tersebut.
 Betul juga sih semua itu. Bayangkan saja saat ada ribuan orang camping di Ranukumbolo, yang beberapa waktu lalu diadakan oleh brand outdoor ternama, seperti apa kerusakan alam yang akan terjadi disana? Kegiatan yang mengundang banyak peminat itu melebihi kapasitas yang ditentukan oleh Taman Nasional tersebut. Saya juga menjadi saksi mata saat wisatawan di Pahawang bersnorkeling ria tanpa rasa bersalah berdiri di atas terumbu karang! Dan dengan sangat menyesal saya akui, saya dulu memang pernah mengunjungi Pulau Sempu, dan benar saja semakin ramainya tempat tersebut oleh para 'pelancong gelap' membuat Sempu semakin kotor. Banyak sampah di Segara Anakan. Di sisi lain, warga tetap menjalankan pekerjaan mereka, mengantar tamu dengan kapal mereka menuju Pulau. Ini soal uang. Soal perut yang harus mereka isi. 
Pada kesempatan yang lain, saya -sebagai person yang (tidak munafik) juga senang berwisata- menjumpai berbagai perspektif dari teman pejalan lainnya.
Suatu kali seorang teman bercerita dengan sangat bangga bahwa dia bisa makan gratis dari penduduk lokal di suatu pulau, juga bisa menginap tanpa biaya. Nggak heran sih, dia menamakan dirinya 'pejalan gembel' dimana semakin murah atau kalau bisa gratis sesuatu yang kita peroleh, maka semakin keren label yang kita sandang. Saya kembali teringat pada perkataan seorang teman bahwa seringkali kita lupa bagaimana memanusiakan manusia. Saat kita diberi, meskipun secara gratis, ya seharusnya kita balik memberi... bukannya dengan bangga menerima begitu saja apa yang diberikan oleh orang lain. Contohnya saja, saat kita diperbolehkan menginap di rumah penduduk lokal, maka paling tidak kita memberikan kontribusi kepada mereka juga. Tidak hanya observasi atau menikmati alamnya, namun kita seharusnya juga ikut 'memberi' mereka, yang telah memberikan kita tempat tinggal. Bahkan seringkali kita tidak memperhatikan risiko yang kita berikan kepada oranglain yang telah membantu kita. Misalnya saja saat ada pejalan yang ngompreng atau nebeng gratisan di sebuah truk. Kalau duitnya beneran ga ada atau habis kecopetan sih beda ceritanya ya...tapi kalau nebeng angkutan cuma untuk meminimalisir bajet? Saya rasa itu juga nggak bijak. Misalnya nih, kalau kita nebeng, -meskipun dengan persetujuan sopir- kita secara tidak langsung memberi risiko pada si sopir, kalau -amit2- ada kecelakaan atau razia polisi, otomatis si sopir lah yang mau tidak mau harus ikut bertanggungjawab atas 'tumpangannya'.  
Pernah suatu kali saya menginterupsi seorang teman yang memilih untuk ''mengkompor-kompori'' oranglain agar mau berwisata ke tempat yang ia kunjungi melalui upload-an foto-foto di facebooknya. Saya saat itu bilang justru kalau begitu kamu sama saja mengundang mereka untuk merusak alam tersebut, karena nggak semua orang bisa bertanggungjawab lho. Dia tetep kekeuh dengan alasan promosi wisata Indonesia lebih baik dilakukan daripada orang-orang menghabiskan uang ke luar negeri, katanya. 
    Pada kesempatan yang lain seorang teman berpendapat juga kalau sebaiknya tempat yang indah itu disimpen buat sendiri aja, nggak perlu dipublish atau dikoar-koarin ke oranglain. Sama seperti yang dikatakan mas Arman Dhani. 
Gawatnya lagi, seorang teman pernah terobsesi untuk membangun bisnis (resort) di suatu pulau yang pernah kami kunjungi dimana saat ini belum banyak orang tahu keberadaan pulau tersebut *tepok jidat*
Seperti Arman Dhani bilang, banyak traveler yang tujuan jalannya 'cuma' untuk pencapaian destinasi semata, upload di sosmed kemudian publish di blog. Orang-orang semacam ini pernah juga saya jumpai, barangkali juga saya sendiri, bahkan.
        Bagi mereka yang pro terhadap kunjungan Pariwisata, alasan keberdayaan ekonomi masyarakat (dan investor) lah yang diagungkan. Di sisi lain, alam perlu dijaga keseimbangan ekosistemnya. Cukup kompleks kalau kita mau mengkaji persoalan ini. Nggak bisa kita lihat hanya dari satu sudut pandang saja.
      Kemudian saya merefleksikan pengalaman tersebut terhadap apa yang sering saya lakukan. Tulisan perjalanan saya di blog ini, boleh dikatakan sama sekali tidak berbobot. Cuma bercerita soal catatan perjalanan saya semata, meskipun kadang saya sisipi informasi. Foto-foto saya bersifat 'pamer', barangkali. Bersifat eksploitatif. Tetapi saya tidak mau munafik, tujuan saya dari awal ya untuk menuliskan catatan perjalanan, sebagai memoir belaka, sedangkan untuk foto saya bermaksud mendokumentasikan saja dan tell a friend. Mungkin alasan yang terakhir ini yang tidak manusiawi. Seolah-olah saya menceritakan bahkan mengundang mereka untuk mengunjungi tempat-tempat indah yang juga saya kunjungi. ''Seolah-olah'' lhoo...
     Yup. Betul. Seperti yang dimuat dalam interview dengan Arman Dhani, disebutkan bahwa semua itu kembali ke tujuan personal seorang pejalan. Apapun penyebutannya, mau bakpacker, flashpacker, traveler, semua punya tujuan masing-masing. Mau traveling dengan konsep minim bajet, mencari pengalaman, mendambakan pleasure semata, atau sekedar pencapaian saja, itu yang diluar kendali kita. Nggak bisa sih kita menghakimi aktivitas tersebut. Mau kita cuma dateng untuk seneng-seneng, liputan, pekerjaan, atau observasi, minimal kita bisa bersikap bijak sama alam dan masyarakatnya. Ini sih yang nggak semua orang bisa. Belajar dari apa yang kita lihat dan alami. 



Selamat Lebaran!
*cium tangan*

06 augustus, 2013

Bermalam di atas Prau


Where?
Gunung Prau, Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah

When?
6-7 Juli 2013

Who?
Tantri, Dimpil, dan Pengok

How to get there?
Naik motor dari Jogja jam 8 pagi melalui jalur Sapuran (Borobudur) dan sampai di Dieng pada pukul 11 siang. Kondisi jalan sekitar Sapuran (Magelang) tidak cukup bagus.
Pulangnya kami lewat Tambi (Temanggung), sepanjang jalan ini kamu akan disuguhi pemandangan perkebunan teh Tambi, Gunung Sindoro dan Sumbing. Tetapi untuk kualitas jalannya sama seperti kondisi jalan di Sapuran, tidak cukup bagus, sayangnya melalui jalur ini maka akan dibutuhkan waktu lebih lama. Kami pulang sekitar pulang 11 dan sampai Jogja pada pukul 4 (sebelumnya mampir ke Pasar dan beristirahat di Temanggung dulu).

Sumatra Pertama kali


Where?
Kepulauan Pahawang, Lampung, Indonesia.

Who?
Tim Ubur-Ubur Beracun

When?
14-16 Juni 2013

Activities:
- Snorkeling di sekitar Kepulauan Pahawang dan Tanjung Putus
- Hopping Island di Pahawang Kecil dan explore sekitar Gosong
- Spend a night in Kelagian, enjoy the sun rise and explore Kelagian in the morning

01 augustus, 2013

Summer is mine



*Happy birthday

           Tepat tanggal 29 kemarin saya berulangtahun. Di awal tahun ini saya memang berandai-andai, kira-kira ulangtahun kali ini akan saya lewatkan dimana ya? Ehem *sombong dikit* Mengingat tiga tahun terakhir ini, saya menghabiskan tiga kali ulangtahun saya tidak di kota asal saya, melainkan di tiga kota yang berbeda, bahkan berbeda pulau, sampai berbeda benua, Alhamdulillah Tuhan tidak henti-hentinya membahagiakan umat-Nya. Tahun 2010. ulangtahun saya jatuh tepat saya masih mengikuti kursus Bahasa Belanda di Jakarta, kali itu teman sekelas menyanyikan lagu lang zal hij leven atau lagu ulangtahun kepada saya, kebetulan sekali materi topik saat itu tentang ulang tahun, setiap orang menyatakan kapan ia lahir. Kemudian tahun 2011, Tuhan memberi berkah kepadaku untuk menghabiskan hari ulangtahun di Zeist, Utrecht, yaitu bertepatan dengan summercourse selama 2 minggu yang saya ikuti, bahkan saya mendapatkan kado karena memang setiap siswa yang berulangtahun saat itu akan mendapat nyanyian serta kado dari panitia. Tahun 2012, ulangtahun saya dirayakan oleh keluarga baru saya, yaitu oleh tim KKN 201a di Amban, Manokwari, Papua Barat. Ada hal spesial tersendiri di setiap momen tersebut. Namun mungkin yang paling spesial justru tahun ini, ketika saya menghabiskan seluruh waktu musim panas saya bersama partner paling baik sedunia, siapa lagi kalau bukan pacar saya! Saya senang, kemarin kami menghabiskan waktu seharian, dari mencari souvenir untuk Maartin dan berdiskusi untuk terakhir kali bersamanya -seorang teman baru yang membawa pengetahuan dan pengalaman banyak bagi gudang ilmu saya selama dua minggu ini-, hingga buka puasa bersama. It's not a big deal sih sebenernya buat saya mau ulangtahun kita dirayain atau enggak, yang terpenting adalah seperti apa kamu akan merefleksikan sisa waktu hidupmu yang semakin sebentar ini?


Ciao!
With love,
Tantri

20 juli, 2013

Mahaloooo!

Mahalo!*

Akhirnya saya kembali menulis. Setidaknya untuk membuktikan, hari ini saya sedikit produktif. Yup! Akhir-akhir ini saya cukup dimabukkan dengan hal-hal duniawi seperti tidur sepanjang pagi...streaming film...menghabiskan waktu bersama kopi, teman, kemudian bergossip ;-) Namun kemudian pekerjaan baru berdatangan, alhamdulillah kalo rejeki nggak kemana hehehe meskipun pekerjaan setahun lalu sudah lama saya acuhkan, yak apalagi kalau bukan si-skripsi. Mungkin cukup setahun saja saya excuse soal tanggungan yang satu itu. Semoga, setelah mengambil cuti 2 bulan dari tempat saya beraktivitas di sebuah LSM, membuat saya lebih fokus dan terarah dalam mengerjakan skripsi *tsaaaah... Kalau dipikir-pikir, memang kita banyak diuntungkan dengan status mahasiswa yang disandang, seperti tawaran beasiswa, kompetisi ini itu, konferensi ini itu, yang rata-rata requirements-nya adalah masih berstatus ''mahasiswa''. Ini seperti bahwa saya masih ingin memanfaatkan banyak kesempatan selama saya masih mahasiswa.
Yup, memang selama ini banyak hal yang terjadi semenjak saya terakhir kali posting cerita di blog. Kini, teman-teman saya satu persatu-satu mulai pergi meninggalkan kampus, hingga akhirnya dari 8 perempuan di jurusan sekarang tinggal menyisakan 3 orang perempuan, termasuk salah satunya saya. Banyak hal sebenarnya yang selalu muncul di pikiran ketika saya dan teman-teman kembali berwacana di sela-sela nongkrong time kami. Tetapi kemalasan selalu berada di urutan terdepan, mengalahkan keinginan saya untuk kembali menuliskan ide-ide, opini yang kemudian menguap begitu saja di kepala. Setelah sekian lama saya menjabat posisi fiktif sebagai layouter di jurnal kampus, kini posisi tersebut kembali difungsikan. Bersama-sama sisa teman satu angkatan kami kembali melanjutkan proses produksi jurnal tahunan kami. Sedikit menyita waktu sebenarnya...tapi saya menikmatinya, seakan bernostalgia pada masa-masa awal kuliah ketika saya punya perhatian khusus pada aktivitas yang mengharuskan saya untuk sering ke kampus dan bertemu dengan teman seangkatan. Apalagi ya? mmm.... Well, pada intinya waktu toleransi untuk membiarkan ide skripsi menguap sudah habis. Saya tidak ada alasan lagi untuk menundanya. Dilematis memang. Empat tahun menguap begitu saja. Rasa-rasanya ada banya hal yang kiranya saya lewatkan, tidak memanfaatkan berbagai peluang yang ada di depan mata dan selalu merasa ''hari esok masih ada'', kini nyatanya ''hari esok'' itu sudah jauh dibelakang. Hmmm yasudahlah...di usia yang semakin menua ini saya hanya ingin stay young and keep my productivity! Sound simple but it's quite hard to do. 
Well well well, semoga Summer kali ini membawa banyak keruntungan bagi saya dan kalian, juga di musim-musim berikutnya!
Hoopla!!!

*Mahalo: bahasa sapaan khas Hawai

Ciao,
xoxo

19 juni, 2013

A piece of heaven on earth: The X-island

      Yup yup yup! Aku kembali tuliskan catatan perjalanan di tahun 2013 ini! Beberapa waktu lalu, pada akhir bulan Maret kemarin, layaknya sebuah ibadah, saya menunaikan perjalanan suci untuk melepas penat dan mencari kebahagiaan, apalagi kalau nggak jalan-jalan. Perjalanan suci kali ini bertujuan ke suatu negeri bernama Pulau X. Where the hell is that? Selalu muncul pertanyaan itu setiap kali saya jawab kalau saya mau pergi ke Pulau ini. Dimana itu? Pulau Sebelah mana? Saya memang sengaja nggak ngasih tau ini dimana, sengaja bikin kalian penasaran. Hahaha! Saya sengaja nggak nyebutin dimana pulau itu sebenarnya, karena nggak bisa dipungkiri lagi saya takut kalau pulau ini makin terekspos dan jadi komersil.
courtesy by Ali
            Dari jogja kami berangkat ber 5 dari stasiun Lempuyangan sekitar pukul 10 malam menuju staisun tujuan hehe. Di Kota tujuan nantinya kami akan berkumpul bersama teman pejalan lain yang ditotal sebanyak 12 orang. Orang-orang ini berasal dari sejumlah kota berbeda di Jawa. Perjalanan kami lanjutkan sore harinya dengan menyebrangi pulau dengan kapal lokal yang hanya berlayar 3 kali seminggu kalau ndak salah.
suasana di dalam Kapal 
       Yang menjadi tantangan berikutnya adalah isi dalam kapal yang akan melaju selama lebih kurang 8 jam ini, yaitu kapal ini lebih sesuai dengan kapal barang! Meskipun ada ruang VIP yang ber-AC, dan kamar tidur berjamaah yang disewakan seharga 25000/bed. Saya sendiri ada dimana? Beberapa teman ada yang duduk di luar kapal, dengan risiko angin pantai yang semriwing dan akan basah kalau hujan karena tidak beratap. Sedangkan di ruang ber-AC itu masih dipungut biaya 10ribu rupiah. Akhirnya seorang teman mengajak untuk memilih tempat di lantai bawah dan menggelar tikar yang dibeli seharga 7ribu saja. Suasana kapal jelas nggak karuan, selain suhunya yang sepanas termos, di lantai bawah ini banyak orang yang membawa keluarganya ikut serta -terutama anak-anak-, juga banyak orang menjajakan dagangan mereka, alhasil suasana menjadi riuh dan resah dimana-mana hahaha Dan kami pun harus rela berbaur dengan berbagai barang bawaan penumpang lain, seperti: karung plastik, bawang, bahan makanan, dan lain-lain, karena memang barang kebutuhan didistribusikan melalui kapal ini.
a piece of heaven on earth
seorang rekan jalan yang sangat menggandrungi dunia bawah laut.

09 juni, 2013

Having a good dinner in K'meals

Hi, folks! Long time no see eh?
Sudah sekian lama sekali saya tidak melakukan aktivitas berbasis waktu luang ini, alias blogging, hehehe....
Hal ini dikarenakan 4 bulan lalu saya punya semacam kerjaan yang cukup rutin, dan meninggalkan PR skripsi, *ngeles* sebenernya browsing masih sering tapi cenderung mager buat ketak ketik di home blog ini :P Apa yang akan saya ceritakan dalam edisi kali ini? Yup! Bulan Pertengahan tahun merupakan bulan-bulan yang sakral bagi saya dan partner. Kenapa? bulan ini si partner ulangtahun, dan bulan depan saya gantian ulang tahun, hihihi nggak penting juga sebetulnya..tapi karena saya orang yang cukup senang dengan sebuah perayaan maka itulah weekend kali ini saya putuskan mengajak partner makan-makan...nomnomnom

Sempat bingung mau makan dimana, secara masih banyak tempat makan di waiting list yang belum dikunjungi. Setelah pusing-pusing browsing dan nelpon 108, akhirnya saya putuskan untuk makan di K'meals. Tempat makan punya chef Kamil asal Perancis ini berkali-kali menyita perhatian saya yang sering wara-wiri di daerah Prawirotaman. Italian and French restaurant ini banyak dikunjungi oleh turis asing lho, disini juga ada Kmeal's guest house, tour n travel, serta Salon n spa. It's quite complete ya! 
Untuk tempatnya ada yang indoor dan semi out door. Sayangnya waktu itu kami pilih tempat duduk yang dekat dengan tanaman, dan nggak tau kenapa banyak nyamuk disitu. That was so disturbing for us. 


Menu. Yup menunya, berragam, dari main course ada makanan duck leg confit, tenderloin steak, chicken braise, tuna n salmon grilled yang kisaran harganya antara 35k - 185rb. Untuk Pizza disini dimasak menggunakan oven yang dipanaskan dengan tungku kayu (wood fired oven pizza), untuk pizza kizaran harga dari 38rb - 48rb. FYI, pizza yang jadi andalan disini yaitu Red Hot Chilli Peppers, dan ini yang kami pilih. Ada bermacam-macam salad, masakan Indonesia seperti nasi kuning, nasi goreng, gado-gado dan rendang. Selain itu untuk pizza ada varian topping yang bisa kita pilih sendiri. Sedangkan dessertnya ada cukup banyak varian menu; creme brulee, choco/strawberry mouse, pancake, apple pie dan ice cream. Pilihan menunya juga variasi, dari beer, milkshake, detox juices, sampai wedang uwuh juga ada! Kisaran harga untuk minumannya yaitu 6k - 19k.
Dan ini menu yang kami pilih:

Red Hot Chilli Peppers 39k

Lasagna Beef 40k

Lemon squash 15k
Wedang Uwuh 8k

Kalo kata partner, pizzanya cukup enak dan nggak bikin enek seperti yang di Aglioo! tempo lalu, kalau menurut saya yang bikin enek itu toppingnya, padahal sih enak-enak aja, cuma karena toppingnya yang banyak yah perut jadi cepat kenyang rasanya... Untuk Lemon squash-nya seger sedikit asem sih, kalau untuk wedang uwuhnya oke, hanya saja partner komentar kenapa jahenya nggak ditumbuk aja biar lebih kerasa rempahnya. Sedangkan Beef lasagna: kalo dimakan tanpa saus, rasanya cenderung plain alias tawar dan partner pun mengiyakan. Secara keseluruhan, menunya oke, cuma mungkin karena posisi duduk kami yang disinggahi banyak nyamuk itu cukup bikin nggak nyaman. Tadinya udah geser di meja sebelah, tapi teteup nyamuknya juga ikutan pindah. -__- apes.

Aurevoir! 
xoxo

07 april, 2013

Selimut Aroma Belerang di Ijen



      Ini adalah cerita trip lanjutan selepas dari Taman Nasional Baluran, masih dengan rombongan yang sama.
Kami lepas pergi dari Baluran sekitar pukul setengah 7 malam dan berkendara kembali dengan elf sekitar 8 jam!Yang normalnya kalo ditempuh dari jalur situbondo (Baluran) -  Bondowoso (Ijen) hanya 4 jam, katanya. Kita sempat nyasar, ban bocor, dan ganti ban... belum lagi niat kita untuk mengejar blue fire kembali gagal, setelah jadwal di hari pertama kami susun ulang dan menomorduakan kawah ijen karena ingin mengejar blue fire-nya yang muncul di tengah malam. Sampai di Ijen kira-kira pukul 4 pagi. Setelah melalui beberapa pintu retribusi, dan mengisi perut yang kosong, serta bongkar muatan :P kami pun mulai nanjak. Kawah Ijen sendiri memiliki ketinggian 2368 meter, dengan kedalaman kawah 200 meter. di dekat kawahnya ini ada sumber belerang yang setiap saat mengeluarkan kepulan asap yang kalo kita hirup lama-lama ga bagus buat pernapasan kita.
        Cuaca masih gelap dan mulai mendingin. Maka jaketpun terus melekat di badan kami, juga senter di masing-masing kepala. Kami mulai nanjak bersama dengan para penambang belerang yang sudah siap dengan keranjang mereka dibahu mereka. Selama perjalanan yang terus menanjak, kami terus diikuti oleh salah seorang penambang yang terus bersama kami hingga di kawah belerang. Ya, mungkin dia sekalian menawarkan jasa, karena penghasilan seorang penambang tidaklah besar.  Saat kami bertemu pengkolan sebelum spanduk himbauan penghentian pendakian, ada sebuah warung kopi yang juga tempat dimana para penambang melepas lelah dan memamerkan souvenir dari belerang. Sebetulnya jalur pendakian untuk mencapai kawah masih ditutup, namun tetap saja para pengunjung terus melakukan perjalanan hingga destinasi utama. Tidak memakan waktu lama untuk sampai ke kawahnya, sekitar 1,5 jam, untuk para traveller yang terbiasa nanjak ya.
view along the way... cured my longing upon mountain :')
itu lupa namanya gunung apa, ada di sebelahnya gunung Ijen ini

    Sepanjang perjalanan nanti kamu akan disuguhkan pemandangan keren dari gunung sebelahnya (ahh lupa namanya!) Uniknya, di kawasan ini kamu akan menemui banyak turis asing yang melancong. woow! Dari yang couple, keluarga, sampai yang solo traveler! Tapi memang keren lho! Warna kawahnya mampu menyihir kekaguman seluruh pengunjung, juga kombinasi warna kuning dari pegunungan belerang yang berada di dekat kawah. 
struggling for a cent
brimstone craft

     Sialnya, kamera dan minuman saya berada di tasnya Tedy, dan mereka berada jauh dibelakang..akhirnya saya cuma mati gaya diajak & mengajak foto teman-teman yang berjalan bersama saya -_-
Tak puas berada di atas kawah, kami memutuskan untuk turun kebawah mendekati kawah, tadinya udah malas dan takut karena beberapakali arah angin membawa kepulan asap belerang kearah kami yang kemudian membuat mata perih dan nafas tersengal-sengal karena baunya. Di dekat kawah ini para penambang nggak semuanya pakai masker! Dan dengan roso (kuat) mereka memanggul rupiah demi rupiah dari sumber belerang ke tempat pengepul. Hmm....yang begini nih yang sering kali kita renungkan tiap kali traveling...jadi berasa kan tiap peser rupiah yang kita miliki itu berharga banget!
mooie Ijen :)
tot ziens, vrienden van reizen!

28 februari, 2013

Mom Trivia

             Beberapa hari ini aku baru saja menimbun banyak fakta yang nggak aku ketahui dari ibu aku sendiri. For your info, ibu aku adalah manusia yang tergolong gagal paham teknologi, kecuali hengpon! Pakai henpon saja, dia masih gak tau gimana caranya nge-save nomor yang ada di sms. Berbagai fakta yang muncul ini kutemui akhir-akhir ini semenjak beberapa kali aku memergoki doi lagi diam seribu bahasa di depan monitor. ditambha lagi sore tadi aku mampir ke kantor buat njemput doi dan menemukan banyak hal yang selama ini aku nggak tau.
     Sebetulnya doi sendiri pernah berinisiatif membeli notebook. Tapi sampai bertahun-tahun dirinya nggak pernah mekek notebook yang ia beli, kecuali untuk event pelatihan atau semacam penataran, dan itu nggak lebih dari 5 kali! Ya karena emang notebook ini lebih sering aku pakai ketimbang doi yang megang. Jadi, ternyata doi ini lagi kegandrungan game house yang itu lhoo nyusun bola berdasarkan warna yang sama...sekelas tetris bukan?? Tapi doi keliatan seneng banget dikenalin mainan begitu, dan ini ternyata udah berlangsung lama di kantornya..dan kemaren aku coba perkenalkan ibu dengan Cooking Dash, dan ternyata itu susah sekali maaaaak buat doi! Ya karena tangan ibu masih suka keseleo buat nggerakin mouse-nya. And here she goes, My Mom Trivia:

1. selama bekerja di tempatnya yang sekarang (hampir 3 tahun) ibu nggak pernah nyalain komputer di mejanya. Padahal komputer ibu adalah satu-satunya komputer yang menggunakan layar datar! -_- Alasannya klise, nggak bisa mekeknya.
2. Pernah sewaktu main game hingga kemudian muncul tulisan "game over", ibu bertanya "ini maksudnya apa?"
3. Saat mau mematikan komputer dengan menekan tombol "turn off", ibu masih menyuruhku untuk mematikan tombol power di cpu, alasannya biar cpu-nya ikut mati juga.
4. Alat presensi pegawai di kantor ibu menggunakan sistem barcode, setiap kali ibu selesai presensi, mesin itu berbunyi dan menyebutkan nama lengkap ibu saya. It's a Wow for me :O
5. Ada satu komputer pegawai yang digunakan ibu hanya untuk bermain game! Padahal dia sendiri punya komputer...

ibu lagi nunjukin game yang suka doi mainin kalo lagi ngantor
ini komputer ibu, yang selama dia ditugaskan disini belum pernah dia nyalakan
   Naah itulah ibu saya. Banyak hal sepele nan mengejutkan yang aku sendiri nggak ketahui hehehe....semoga ibu bisa berproses dengan ini semua, teknologi yang semakin hari makin gilaak!!



Hug you tight, Mom :*
xoxo

27 februari, 2013

Voice of people


A: Ternyata tadi yang kutegur itu anggota DPR
B: oya?
A: Iya, tadi orangnya habis ngadu sama Narto.. Salahnya sendiri, nganggu jalan ya aku tegur biar minggir..eh malah nyinyir.. mentang-mentang anggota dewan, dia kerja kan kita juga yang milih.. Kerja pakai duit rakyat aja belagu...
B: Halah, udah biarin aja...



(percakapan dua orang tukang parkir diantara rintik-rintik hujan langit Jogja)

09 februari, 2013

Signor e Signora mangiano a Aglioo!*

* Tuan dan Nyonya makan di Aglioo!

Ciao a tutti! Come stai? Io? Sto bene =)

     Kali ini aku dan signor punya niatan makan enyaakk~ nyo nyo nyo...
Hooray, akhirnya kesampaian juga niatan kami buat makan di Aglioo! (baca: aliyo) =) Semenjak kami tergila-gila pada Italia, kami terobsesi buat nyobain segala hal berbau Italia..seperti makanannya! Yah, meskipun beberapa kali udah pernah nyobain pizza Italia, nonton Liga Italia, sampe' belajar bahasanya, kali ini -sebetulnya udah lama- pengen nyobain makan di Aglioo. Aglioo terletak di bilangan Prawirotaman, yaitu melting point para wisatawan asing yang sedang berwisata di Jogja. Disini memang berjejer restaurant, cafe, dan pub yang menyajikan masakan nusantara hingga menus Internasional, salah satunya ya Aglioo ini. Oh iya, disini kamu juga bisa menikmati wifi loh! :D
sumber
       Pizza Italia memiliki ciri khas tipis, crunchy di pinggirnya, dan biasanya masih dimasak dengan cara tradisional yaitu dengan tungku. Lihat saja di Nanamia dan Il Mondo, mereka masih pakai tungku juga lhoh! Termasuk di Aglioo! Inilah mengapa saya jauh lebih suka dengan Italian Pizza rather than American Pizza yang meskipun tebal dan enak juga, tapi menurutku taste of culture-nya dapet banget! Fyi: Pizza adalah roti asal Italia yang dulu di konsumsi oleh masyarakat miskin, bahkan dibuatnya pun dari bahan-bahan sisa bikin kue. Makanan ini dijual di pinggiran jalan Napoli, yang juga terkenal dengan tomatnya. Nah, dulu ini ada 3 komposisi yang melambangkan bendera Italia; tomat (merah), basil (hijau), dan keju (putih).  

06 februari, 2013

Baluran National Park is [not] Africa van Java

hutan mangrove di Dermaga Bama
    Inget postinganku sebelum ini? Yap! Soal cerita 5 jam di Surabaya. Nah waktu itu kan aku ke Surabaya sebetulnya dalam rangka jalan-jalan bareng BPI ke Taman Nasional Baluran. Ini dia reportnya ;)
Perjalanan kami ke Baluran dilakukan bersama 11 orang dari beberapa kota berbeda. Rencana kami ini molor dikarenakan kendala yang terjadi saat perjalanan. Sebetulnya destinasi pertama yang ingin kami tuju adalah Kawah Ijen, yap! berangkat malam hari agar bisa lihat blue fire, tapi karena sudah molor beberapa jam maka destinasi kami tukar, Kawah ijen akan kami kunjungi hari berikutnya sedangkan Taman Nasional Baluran (TNB) kami dahulukan. Tadinya kami mau cabut dari meeting point yaitu, Surabaya, pada pukul 9 malam, namun karena molor akhirnya kami baru bisa cabut dari tkp pada pukul 23.30. Well, mobil travello yang cukup nyaman membuatku sukse tidur nyenyak hueehehehe...surga kecil di perjalanan! Kemudian aku nggak ingat deh apa yang terjadi malam itu :P
             TNB merupakan kawasan ekowisata yang memiliki lahan seluas hektar. Beberapa spesies yang bermukim disini antaralain, monyet, burung merak, rusa, banteng yang menjadi ikon Baluran, hingga leopard. Hampir seluruh tipe hutan ada disini, seperti hutan hujan tropis, hutan mangrove, hingga padang rumput savana yang menjadi ciri khasnya. Tak ketinggalan di perairannya juuga kaya akan terumbu karang dan ikan-ikan yang cantik.

05 februari, 2013

What you can do for 5 hours in Surabaya?

Hi guysss... Apa yang bisa kamu lakukan selama 5 jam di Surabaya? Iya, apa??
    Oke aku akan menceritakan ulang perjalanan gembel bersama seorang teman bernama Gelap. Sebenarnya kita lebih kurang 8 jam di Surabaya, namun dalam waktu 5 jam saja, kita sudah berada di 4 tempat! heeheh... Jadi gini ceritanya, beberapa minggu lalu aku, Gelap, dan Tedy gabung di trip Baluran-Ijen bareng temen-temen dari Backpacker Indonesia. Naaah, karena meeting point-nya berlangsung jam 9 malam dan kereta kami sudah sampai di Surabaya pukul 14.30 siang, maka aku dan Gelap memutuskan buat city seeing duluan. Nah lho Tedy kemana??? Alkisah si Tedy ini ketinggalan kereta broooo....alhasil dia ngejar kita naik bus! hahahaha! 

25 januari, 2013

Hari ke-14: Get lost in Girijati

          Beberapa waktu lalu, seusai lunch di sebuah resto angkringan, aku dan pacar secara spontan dan nekat memutuskan untuk jalan-jalan ke sebuah tempat yang sebenarnya aku sendiri nggak tau dimana tempatnya (nah looohh). Posisi uang kami saat itu mepet banget: aku cuma punya 5000, tapi ternyata ada 1000 di saku, sedangkan pacar tidaklah membawa dompet namun mengantongi uang sejumlah 12000. Secara pengalaman kita sering bikin wacana jalan-jalan, tapi nggak pernah kejadian, maka hari itu pun ide gila muncul. Gimana kalau siang itu juga kita jalan ke air terjun yang ada di Girijati? Nggak peduli berapapun uang atau perbekalan yang dibawa. Kamipun sepakat. Tadinya saya ngusulin pulang aja dulu, ganti motor yang bensinnya penuhan gitu, secara waktu itu motorku bensinnya alakadar aja. Pacar menolak. Akhirnya kami memutuskan pergi dari angkringan sekitar pukul 2 siang. Nama Girijati muncul karena waktu itu aku sempat baca tulisan Bekabuluh mengenai tempat-tempat terpencil di Jogja yang punya spot menarik namun jarang tersentuh publik luas. Gobloknya, aku cuma ngasal nge-bookmark tanpa baca full artikelnya, dimana lokasinya, apa aja obyeknya, dan seberapa jauh tempatnya. Aku bilang aja ke doi kalo di Girijati itu ada air terjunnya, sesuai dari foto yang aku lihat di artikelnya Bekabuluh.

22 januari, 2013

Hari ke-13: Menang (lagi)!

Nah, setelah sekian kali mencoba berbagai peruntungan, akhirnya pada kesempatan kuis terakhir ini saya menang (lagi)! Yah, meskipun sebagai penerima hadiah hiburan sih, keak keak :P
Jadi, kuis ini diadakan oleh BKKBN bekerjasama dengan Aliansi Remaja Independen beserta gue tau [dot] com, dimana mereka-mereka ini concern betul dengan persoalan remaja, kesehatan reproduksi, dan HIV & AIDS. Kita harus menjawab pertanyaan yang mereka berikan (multiple choices) dan lebih baik lagi jika kita jawab berulang-ulang sehingga kesempatan menang lebih besar. Nah, sayangnya aku hanya mencoba kuis beberapa kali sehingga belum berhasil mendapatkan hadiah utama seperti, mp3, flashdisk, moodem, hingga Ipad. Hadiah hiburannya sendiri terdiri dari goody bag, beberapa fact sheet soal kesehatan reproduksi, hiv & aids, tembakau, dan kehamilan tidak diinginkan, ada post card, kalender, notes, dan stiker :)
Thanks gue tau atas hadiah hiburan yang kini sudah sampai di tangan mulus aku! hahahahak

17 januari, 2013

Hari ke-12: welkom vakantie!

Hidup itu pilihan.
Memilih antara: ngumpulin tegas telat atau dikumpul seadanya tapi tepat waktu. huuuf
 Dan hari ini aku milih buat menyelesaikan semuanya. Setelah panik mencari pinjaman flashdisk, berpindah-pindah rental komputer untuk print tugas. ya, meskipun terlambat dan harus melobi assisten jurusan Antropologi. Aku tertolong berkat Gloria. Teman semata kuliah yang juga terlambat mengumpulkan tugas. Buat dirinya ini kali ketiga dia terlambat mengumpulkan tugas paper. Terimakasih Gloria, Terimakasih Tuhan, yang masih mengasihaniku.God bless Universe!

somewhere around the tea farm in Karanganyar, Central Java


hari terakhir ujian, teoriku habis (yay!) Hartelijk welkom, vakantie!
xoxo


*Aaahh...kartu perpustakaan saya masih ditahan. Belum bayar denda. delapan ribu. huuh.


14 januari, 2013

Hari ke-11: Regret

    Akumulasi kejadian dalam dua hari ini membawa banyak penyelasan, pun pelajaran bagi kami berdua.  Banyak peristiwa yang telah kami alami dan [masih] kuyakini sebagai bagian dari sebuah proses  belajar. Aku menghargai itu. Penyesalan dibuat untuk menyentil kita bagaimana belajar dari setiap kekeliruan dan tidak lagi mengulanginya. Jadi teringat tweet di timeline tadi malam,
  
Kau tahu kekuatan paling menghancurkan di alam semesta? | nuklir? | penyesalan 

Syukur, kami berdua tidak pernah larut dalam penyesalan. Ya, semenjak kejadian dua hari kemarin. Aku senang melihat dia menggebu-nggebu melupakan peristiwa yang baru saja terjadi . Tentu saja peristiwa yang bikin kami bad mood dan berjumpa pada penyesalan. Semalam, sesaat sebelum mataku terpejam aku berdoa dalam pesan singkatku.


   
    Tuhan, lindungi orang-orang yang kukasihi malam ini, besok, lusa dan seterusnya. Beri mereka kesehatan, bahagia, dan mudahkan semua persoalannya, amin. Karena aku sayang mereka, Tuhan.


Bedankt voor alles, voor jouw geduld, gelach, en lesje. Ik hoop dat we nog blijven leren. Je bent de enige die altijd me 'glimlach' maakt :')
                                           

12 januari, 2013

Hari ke-10: I am what Survives of Me

sebuah danau di dekat Maurits Huis, Den Haag (2011)
            Kutipan di atas berasal dari buku Erikson yang bertitel Identitas dan Siklus Hidup Manusia. Entah di halaman dan paragraf ke berapa tapi sekilas kutipan tersebut cukup mengena. Kalau ditinjau dari arti yang ditulis, bunyinya gini: aku terus hidup karena diriku sendiri. 'Tul nggak? Semua masalah yang bikin kita bisa bertahan sampai detik ini ya karena kita sendiri yang mengendalikannya. Tapi mungkin ada juga 'campur tangan' dari orang lain, seperti pilihan-pilihan yang mereka tawarkan saat kita berada dalam masalah. Ucapan atau nasihat-nasihat oranglain ini yang kemudian kita jadikan bahan pertimbangan dalam menyelesaikan masalah. Aku jadi ingat diskusi di kelas Bahasa Belanda dengan dosen favorit saya, Bu Vini. Beliau waktu itu sharing ke kita gimana cara dirinya dalam menyelesaikan masalah saat dia dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang membingungkan dan bahkan komentar dari orang terdekatnya tidak membantu. Maka dia berkata bahwa sebetulnya kita sering lalai. Kenapa? Saat kita curhat atau bercerita kemana-mana, menanyakan bagaimana sebaiknya langkah yang dipilih kepada beberapa orang, kita seringkali mengambang dibuatnya: tidak tahu mana solusi yang terbaik untuk diambil. Beliau bilang kalau saat terbaik adalah saat dirinya mengurung diri di kamar dan merefleksikan semuanya, karena solusi terbaik atas masalah kita hanya datang dari pikiran dan keputusan kita sendiri. 
           Aku mengamini. Berbagai solusi yang ditawarkan oranglain belum tentu sesuai dengan solusi yang kita inginkan. Karena yang tau gimana baiknya hidup kita ya diri sendiri. Seringkali aku menemui teman yang kalau dapat masalah curhat kemana-mana, mengumpat sana-sini, merasa dirinya yang paling sengsara di dunia ini. Padahal, let's see: banyak orang di luar sana yang bahkan nggak tahu harus makan apa nanti siang, banyak orang kesuulitan air bersih, banyak orang bahkan nggak ngeluh saat desa mereka belum dialiri listrik 24 jam! Hello? Banyak orang dengan problemnya masing-masing. I appreciate how they face it. Tetapi rasa-rasanya kok berlebihan juga ya pake' acara mengumbar 'kesengsaraannya' yang nggak seberapa itu ke khalayak umum dan nggak satu saran pun bahkan ia dengar. Hmm... Let it go with the wind , biarkan semua makhluk berproses dengan masalahnya masing-masing!  

Let us survive, Universe! :))

10 januari, 2013

Hari ke-9: Melumat Jeram Sungai Elo

   Sudah kesekian kalinya aku datang ke tempat ini. Ya, hanya untuk bersenang-senang melumat jeram sungai ini. Dalam berbagai kondisi berbeda, saat panas terik, hujan, bahkan saat jeram tidak begitu besar. Sungai Elo. Berada di dalam teritori bernama Magelang dan selalu kutempuh dengan sepeda motor jika aku kesini, hanya dengan waktu tidak lebih dari 1 jam. Aku pertama kali ke tempat ini saat SMA Kelas dua, bertepatan dengan libur lebaran. Aktivitas mengarungi jeram atau rafting baru pertama kali dilakukan oleh Organisasi Pecinta Alam di sekolah kami saat itu. Kemudian dalam beberapa tahun setelahnya, kegiatan tersebut mulai dilakukan rutin tiap tahun. Lima tahun kemudian, aku bersama orang-orang yang berbeda kembali ke tempat ini. Ya bersama kelompok KKN (Kuliah Kerja Nyata) -ku. Kebetulan salah satu dari teman kami ada yang menjadi guide di sini, doi anak mapala gitu deeeh. Jadilah saat itu kali keempat aku datang kesana. Bermacam paket yang ditawarkan dengan harga yang variasi pula tentunya, tapi kalau jamanku dulu jelas lebih murah hehe karena dapat dukungan dana dari sekolah dan masih di subsidi oleh biaya pendaftaran teman-teman diluar pengurus organisasi keak keak keak xD Waktu tempuh rafting berlangsung selama 2,5 sampai 3 jam dengan jarak perjalanan 12 kilometer. Kawasan basecamp kami sendiri berada di belakang kawasan Candi Mendut.

Rafting pertama kali (2007)
Rafting terakhir (2012)

My boat-mates

breaking time


Ciaooo!