16 oktober, 2014

‘Oh yang kuliahnya belajar fosil sama candi-candi ya?’



‘Habis kuliah mau jadi apa?
‘Oh mau lanjut jadi guru ya?’
‘Eh gimana sih cerita yang bener soal G30SPKI?’
‘Ambil konsentrasi/penjurusannya apa?’


Kutipan-kutipan di atas adalah serentetan pertanyaan yang seringkali saya dengar dan harus dihadapi dengan jawaban yang sama. Setiap kali saya ditanya ‘kuliah apa? Dimana?’, tak jarang diikuti dengan bombardir pertanyaan yang (kadangkala) harus saya jawab dengan sederhana atau bahkan panjang lebar sampai penjelasan saya tidak digubris sama sekali. Hahahaha Namun saya selalu enjoy menghadapi beragam pertanyaan orang-orang dengan perspektif mereka yang juga berbeda-beda.
Nah, semenjak saya mengambil kuliah di jurusan sejarah, saya jadi tahu nih perspektif orang dalam melihat ‘Mahasiswa Sejarah’ atau ‘Sejarawan’.

1.    Sejarah = Arkeologi

‘Kuliah jurusan apa, sis?’
‘Aku jurusan sejarah aja, sis..’
‘Oh yang kerjaannya neliti fosil sama gali-gali kuburan candi ya?’
‘bukan sis, itu astrologi..’
‘Plis deh! Itu Arkeologi keleusss…
‘Nah, sendirinya tauk! -_____-’

Banyak orang yang mengira kalau jurusan sejarah itu kerjaannya ngubek-ngubek fosil manusia purba atau menggali tanah (ekskavasi) untuk menemukan candi. Padahal tidak sama sekali. Mungkin orang hanya lupa kalau ada cabang ilmu lain yang bernama ARKEOLOGI. Dulu di kampus saya memang ilmu Arkeologi merupakan cabang dari program studi ilmu sejarah, yang mempelajari sumber-sumber material seperti bangunan, artefak, atau fosil. Namun seiring berjalannya waktu Arkeologi memisahkan diri dari Ilmu Sejarah dan menjadi prodi sendiri.
Nah, lalu apa dong yang dipelajari mahasiswa sejarah? Buanyak BANGET! Dari yang wajib dipelajari seperti Sejarah Indonesia, Sejarah Asia, sampai Sejarah Eropa. Selain itu juga syarat wajib jadi mahasiswa ilmu sejarah itu harus hobi baca, baca, dan baca! Banyak yang nggak tau juga kalo mahasiswa sejarah juga harus bisa baca teks berbahasa belanda! *ketawa setan*
Kegiatan perkuliahan yang lain misalnya, lawatan sejarah atau kunjungan ke tempat-tempat bersejarah seperti candi, bangunan cagar budaya, atau berkunjung ke kantor kearsipan. *biasa bro, kerjaannya ngubek-ngubek masya lalu*
Dan lagi sejarah yang diajarkan sangatlah berbeda dengan yang kita pelajari di bangku sekolah! Karena di sini kita akan banyak baca buku, berdiskusi, dan hal ini akan memperkaya perspektif kita. Berbeda dengan yang tertulis di buku pelajaran sekolah yang hanya memberikan satu perspektif saja sehingga kita cenderung ‘menghafal’ daripada ‘memahami’ atau bahkan sudut pandang kita sengaja ‘dibentuk’ sesuai dengan rezim pemerintah saat itu *nah loh*

2.    Menjadi Guru Sejarah adalah (mungkin) satu-satunya pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi sejarah.

‘Oh kuliah di jurusan sejarah..? Besok kalau lulus mau jadi guru ya?’
‘Iya kak. Jadi guru kehidupan buat kamu..’

Berbeda dengan program studi populer yang sudah jelas arah pekerjaannya setelah mahasiswa lulus (misalnya anak ekonomi kerjanya di bidang perbankan, anak teknik sipil kerja di perusahaan kontraktor, anak komunikasi kerja di advertising, anak tukang bubur pergi naik haji, dan lain-lain), anak sejarah biasanya ‘diklaim’ akan menjadi guru setelah lulus nanti. Padahal di kampus saya tidak ada prodi ‘pendidikan sejarah’, yang ada hanyalah ‘ilmu sejarah’. Artinya seseorang yang akan menjadi guru, biasanya akan menempuh prodi pendidikan dan harus memiliki akta 4 untuk bisa mengajar, meskipun bisa juga lulusan ilmu sejarah menjadi guru. Meskipun begitu, banyak lulusan sejarah yang kemudian bekerja tidak sesuai dengan bidang studinya, misalnya bekerja di Bank, di perusahaan retail, atau jadi entrepreneur alias pengusaha. Kalau ini sih kayaknya nggak Cuma di sejarah aja ya, karena sekarang sudah banyak orang bekerja tidak sesuai dengan bidang studinya. Lowongan pekerjaan yang terbuka bagi jurusan sejarah antara lain: ilmuwan/peneliti di lembaga swasta atau pemerintah, dosen, wartawan, penulis, pegawai negeri (Kemendikbud), Arsip Nasional, dan lain-lain.

3.    Mahasiswa Sejarah = Orang yang Serba Tahu Tentang Sejarah Apapun!

Jujur, saya bukanlah orang yang tahu sejarah setiap peristiwa yang ada di muka bumi. Kami bukanlah buku ensiklopedia sejarah yang tahu tentang segala hal yang terjadi sejak nenek moyang kita masih abg. Selain masing-masing mahasiswa punya interest yang berbeda-beda, selera bacaan masing-masing pun beragam, maka jika ada satu peristiwa sejarah yang kalian tanyakan belum tentu pula kami mampu menjawab atau menguasainya *ngeles abi3zst* Akan tetapi pertanyaan yang tidak terjawab itu akan mejadi tantangan bagi kami untuk mencari tahunya *tsah tsah tsaaahh*

4.    Konsentrasi dalam Prodi Sejarah hanya mencakup konsentrasi spasial/teritori saja

Tidak jarang saya mendapat pertanyaan: ‘Kamu ambil konsentrasi apa? Sejarah Amerika? Sejarah Korea?’ saya bingung juga menjawabnya, karena di prodi kami tidak ada lagi penjurusan atau konsentrasi studi seperti dalam disiplin ilmu lain (Misalnya di ilmu komunikasi ada konsentrasi media massa, public relation, komunikasi strategis, atau broadcasting). Akan tetapi kita bisa memilih mata kuliah sesuai minat kita, baik berdasarkan regional atau tematik. Sejarah regional atau kawasan terdiri dari Sejarah Australia & Pasifik, sejarah asia timur/barat/tenggara, dan Sejarah Eropa, Untuk tema sejarah sebenarnya luas sekali, kamu bisa ambil atau nulis tentang sejarah kesehatan, militer, politik, ekonomi, perempuan, seni dan budaya, dsb. Jadi, sejarah itu nggak melulu belajar tentang sejarah kawasan atau tata pemerintahan suatu Negara saja. Artinya kita bisa mengambil mata kuliah dari disiplin ilmu lain yang mendukung minat kita. Seru kaaaan?? Sebetulnya dalam prodi sejarah, untuk memperdalam konsentrasi atau penjurusan yang lebih spesifik biasanya akan diarahkan saat jenjang pendidikan magister atau S2.

5.    ‘Pakai Metode Kualitatif apa Kuantitatif?’

Menjelang semester akhir, maka kemudian kamu akan ditanya soal skripsi kamu. Deng deng deng!

‘Udah lulus?’
‘hehe.. belum sis, masih sibuk skripsian aja’
‘Wah, nulis tentang apa skripsinya?’
‘Aku nulis tentang perkembangan industri batik di Serawak dari abad V masehi sampai awal abad XX, kak.’
‘Pakai metode kualitatif apa kuantitatif? Trus ambil sampelnya berapa? ’
‘___________’

Nggak jarang kita harus menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana metodologi sejarah itu. Yang membedakan sejarah dengan disiplin ilmu lain adalah adanya pembatasan ruang (spasial) dan temporal (waktu) dalam penulisan sejarah, selain sama-sama menggunakan studi literatur. Jadi di sini kamu bisa nulis tentang sejarah apapun asal spasial atau terotori yang kamu pilih itu punya keunikan dari daerah lainnya, dan dibatasi dalam rentang waktu tertentu. Sesederhana itu aja kok :’)


Buat anak sejarah yang lain, mohon koreksinya kalau ada poin-poin saya yang salah atau bisa ditambahkan juga fenomena-fenomena menarik lainnya yang kamu temui selama jadi mahasiswa sejarah!

Ciao a tutti!

11 oktober, 2014

One Step Forward?



Hi, peeps!
Waaakk udah lama nggak ngeblog.
Biar kelihatan sok sibuk dengan dunia factual gitu? Hahahha
Kabar gembira bagi kita semua…! Kini aku udah bersiap menyandang gelar sarjana, Alhamdulillah


Jumat minggu lalu, tepatnya 3 Oktober aku baru saja mengikuti pendadaran, guna mendapatkan gelar sarjana 1 jurusan ilmu sejarah. Antara puas nggak puas dan percaya nggak percaya. Nggak puas karena ngerasa nggak maksimal ngerjainnya, puas karena akhirnya bisa menyelesaikan akhir masa studiku, lalu nggak percaya kalau aku bisa menaklukan diri sendiri buat menuntaskan tugas Negara.
Tapi meski belum apa-apa alias belum resmi diwisuda, kegalauan baru melanda benak ini *tsah tsah tsah* Mengingat gerbang pertarungan dalam lembaran hidupku baru saja dibuka. Yap. Mencari pekerjaan. Dulu aku pernah punya kepinginan, kalau suatu saat

“aku pingin kerjaan yang mencariku lebih dahulu bukan aku yang harus mencari-carinya.”

 Alhamdulillah, keinginan tersebut setidaknya pernah terlaksana, meskipun itu ‘’cuma’’ poin keciiiilll yang belum bisa kubanggakan karena aku berhenti mengerjakannya di tengah jalan. Sayang sekali.
Sejak masa-masa pengerjaan skripsiku, sebenarnya aku cukup excited dengan banyak hal yang ingin kukerjakan begitu selesai kuliah.

Belajar bahasa belanda lagi, belajar writing in English, kembali menulis cerita pendek,

pokoknya masih pengen belajar dan menghasilkan karya. Tetapi di satu sisi ada hal lain yang ingin dikejar, income. Siapa sih yang mau nganggur habis kuliah?? Terlebih lagi kebutuhan jalan-jalan sudah menunggu lama untuk dipenuhi. Lantas mau kerja apa dong? Hihihi saya pun masih bingung. Sama seperti pacar, kami belum tertarik untuk menjadi pegawai pengabdi Negara, atau bekerja di Bank, dimana bukan jurusan yang kami pelajari di bangku kuliah tetapi banyak diminati oleh rekan-rekan kami. Kalau ditanya pengennya dapet duit dari mana ya saya pengennya makaryo di bidang jurnalistik, tulis menulis atau di NGO dengan isu-isu yang saya concern.

Di sisi satunya lagi, tawaran untuk melanjutkan studi ke jenjang magister cukup menarik, dengan alasan saya sih masih pengen belajar banyak hal terutama di area studi Asia Tenggara, baik itu sejarah, persoalan sosial, atau budayanya. Interesting! Tapi yang jelas saya belum mau lanjut studi magister dengan biaya sendiri apalagi orangtua dan satu-satunya jalan ya mencari beasiswa!

Well, I will let you know soon.


*Kuss kuss*

28 augustus, 2014

Biar Jadi 'Orang'

Sebuah artikel bikinan media online dengan segmentasi pembaca anak muda, cukup bikin aku geli malam ini. Judulnya "13 Cara Biar Lo Jadi Kayak 'Orang'"

Bagaimana tidak? Artikel itu memuat beberapa ciri perilaku manusia yang biasa dilakukan agar kelihatan seperti 'orang'. Diantara sejumlah ciri perilaku tersebut antara lain: 
1. mengunggah foto kaki saat traveling di pantai,
2. foto makanan yang akan kita makan dan mengunggahnya di sosmed, 
3. suka olahraga (dari lari, pilates, yoga, dan muangthai), 
4. hobi traveling, 
5. gemar wisata kuliner, 
6. bermain ukulele, dan 
7. berambut pendek (bagi cewek), serta 
memelihara kucing masuk list perilaku-perilaku tersebut. 
(Tiga catatan yang terakhir tadi jujur aku baru tau dan agak kaget)

Pada intinya perilaku-perilaku tersebut adalah apa yang sering dilakukan oleh para hipster atau ya kira-kira sekumpulan orang yang punya hobi atau gemar melakukan hal-hal yang lagi ngeheits masa kini. Ini berdasarkan kata artikel tersebut lho. Komentar aku cuma satu: geli

Aku nggak terlalu ngikutin trending topic saat ini, sampai-sampai aku baru tau kalo berambut pendek jadi ciri-ciri biar jadi 'orang', karena aku sendirinya sudah lama berambut pendek dan nggak tau harus berkata apa soal opini itu. Ditambah lagi memelihara kucing dianggap sebagai perilaku yang menandakan seseorang telah jadi 'orang' hahahaha karena aku salah satu dari golongan ini, meskipun sekarang kucingku sudah jadi kucing liar.
Membaca artikel ini bikin aku keingetan sama obrolan bareng pacar belum lama ini. Tetiba doi ngomongin soal deskripsi dirinya yang nggak pernah terseret arus untuk mengikuti gaya yang lagi ngetrend atau membeli barang-barang/aksesoris yang lagi ngehits. Semua yang ia gunakan dan ia beli adalah berdasarkan kenyamanan dan kebutuhan dirinya. I'm totally agree with him. 
Sama halnya di ujung artikel tersebut, tulisanku kali ini cuma mau klarifikasi kok kalo kami bukanlah kelompok yang demikian? kelompok yang berusaha keras buat jadi 'orang'! hahahahahaha

"Hipster itu tuh semacem gaya hidup yang selalu pengin menjadi beda dari orang kebanyakan. Nah, tapi istilah hipster tuh dianggap sebagai ejekan. Maka dari pada itulah, untuk jadi kayak orang yang mencoba menjadi beda tapi dengan cara yang sama itu, lo harus risih kalau ada yang bilang lo hipster. Tiap ada yang ngejek lo hipster lo harus jawab, "nggak kok, ini gue apa adanya kaliii."

Tapi kalau dipikir-pikir, pada intinya aku termasuk dalam sekumpulan manusia-manusia ini. Ini berdasarkan kriteria perilaku aku yang sesuai dengan daftar-daftar dalam artikel tersebut: berambut pendek, melakukan olahraga (seperti lari, yoga, namun untungnya berenang tidak termasuk dalam list tersebut), memelihara kucing, dan traveling. Mau aku nyangkal apa juga orang yang percaya artikel itu bakalan mengklaim kalau aku termasuk dalam sekumpulan orang-orang ini.

Oh, dunia, hidup kok makin dibikin ribet ya...


Ciao!

Making Money

Hai, pals!

Seminggu terakhir kemarin saya sedang disibukkan dengan segala kerempongan dan prekentengan dalam rangka berjualan di stand Pasar Kangen Jogja 2014. Ini kali pertama saya jualan makanan hasil olahan sendiri dan harus melayani pembeli yang cukup membludak.
'Cari duit itu gak gampang', adalah hal yang selalu terngiang di kepala saat harus menjual sebuah produk demi satu tujuan: menyejahterakan isi dompet. Sebenarnya ini bukanlah kali pertama saya berjualan. Riwayat berdagang saya dimulai semenjak SD kelas 4 dimana saya mulai menjajakan aksesoris milik tetangga nenek saya, mulai dari bros, peniti jilbab, tuding alquran, sampai tasbih. Jazakillah ya ukhti :) Buat anak seumuran saya waktu itu punya duit hasil jualan sendiri, seberapapun pendapatnya pastilah sudah senang. Beberapa tahun kemudian semasa SMA saya ikut teman jualan pin dan stiker yang saat itu lagi nge-heits di kalangan remaja (sampe sekarang dagangannya masih saya bawa hehehe...) Oiya selain itu di rumah saya punya warung, jadi berurusan dengan hal-hal berbau niaga sebetulnya sudah tidak asing lagi, meskipun kerap kali saya tidak terampil atau cekatan saat melayani customer. Menginjak masa perkuliahan, saya tertarik buat jualan kamera plastik, kamera yang terbuat dari plastik dan masih menggunakan film negatif untuk mengambil gambar. Lagi-lagi benda tersebut lagi nge-heits pada jamannya ketika kamera lomo dan kawan-kawannya menjajah pasar anak muda. Keuntungannya sangatlah lumayan, karena saya menjadi reseller dan supplier saya masih memasang harga yang sangat rendah. Namun lama kelamaan -mungkin- supplier saya sadar bahwa ''barang ini makin nge-heits dan saya harus mengoptimalkan keuntungan''. Jadilah harga jual reseller dinaikin hampir setengah persen sehingga saya juga males ambil barang.
sumber: tralalaaa

Memasuki masa akhir-akhir kuliah, yang seharusnya lekas berakhir, saya kembali melihat peluang untuk berjualan baju-baju 2nd hand yang merupakan dagangan seorang teman. Sebut saja Juwita, dia dan teman-temannya membentuk sebuah kongsi dagang yang menjual baju-baju 2nd namun seiring dengan kesibukan mereka, maka kongsi dagang ini sudah tidak ada lagi aktif berjualan. Maka saat ada event garage sale saya coba menghubungi teman saya ini dan hasilnya saya diijinkan menjual kembali barang-barang mereka. Terhitung sudah 3 kali saya menjual barang mereka di event semacam itu. Keuntungannya lumayan, pengalaman dan rekan baru pun saya peroleh.
Hal yang mungkin banyak mahasiswa lakukan saat di bangku perkuliahan mereka adalah berjualan untuk mencari pendanaan sebuah event atau program. Sering kita melihat di perempatan anak-anak muda menjual bunga, atau ngamen di tempat-tempat makan pinggir jalan. Biasanya mereka sedang mencari dana untuk membiayai KKN, makrab (malam keakraban untuk mahasiswa baru), atau fund raising buat pensi mereka. Kalau saya waktu itu sempat ngalamin yang namanya ngamen di sepanjang jalan kaliurang (sebelah barat GSP), kemudian jualan makan dan minum saat pendaftaraan ulang mahasiswa baru, sampai mau bikin trip keliling jogja naik sepeda tapi akhirnya gagal. Tujuannya macem-macem, ada yang buat dana KKN atau bikin acara buat maba. Susahnya nyari duit versi jualan ginian itu, capek dan nggak gampang nyari customer yang datang ke kita, karena kita model jualannya jemput bola alias keliling datengin orang satu-satu buat njajain barang kita. Nah hal ini cukup berbeda dengan event yang saya ikutin kemarin.
Nah event yang terakhir saya ikutin kemarin ini adalah event tahunan yang dengan mudah dibanjiri pengunjung. Namanya Pasar Kangen. Banyak penjual yang menjajakan barang-barang jadul, makanan dan minuman jadul, majalah bekas, kerajinan tangan, dan lain-lain. Selain letaknya di tengah kota dan dekat dengan tempat wisata maka faktor ini menjadi pengaruh yang signifikan terhadap ramainya pengunjung setiap hari terutama weekend. Bedanya dengan jualan-jualan saya periode sebelumnya, jualan di Pasar Kangen, ga usah rempong-rempong nyari pembeli karena dengan sendirinya mereka datang ke venue, beda dengan model jualan ngamen atau jemput bola.
Apa yang kita jual? Saya dan seorang teman, sebut saja Linggar, berjualan es jamu, Sate Keong, sate usus, sate telor, ceker mercon, dan spicy wing. Awalnya kita harus melalui perdebatan panjang hanya untuk memutuskan barang apa yang akan kita jual. Dari mau jualan roti cane, mendoan bakar, es setup, dan lain-lain. Mendekati hari H, saya kepikiran buat jualan sate keong dan teman saya mengusulkan ceker mercon, kebetulan dia bisa masaknya. Event ini berjalan selama 1 minggu, jadi cukup sangat menyita waktu saya apalagi 'me time' saya :(
Hari pertama dan kedua temen saya yang memasak ceker mercon, mulai tidak kuat lagi maka kami berbagi beban mau tidak mau, bisa tidak bisa saya harus mencoba memasak! Sebenarnya bukan soal berani atau malas memasaknya, tetapi kali ini porsi yang disuguhkan dalam skala besar dan harus layak jual! Sehari-hari masak nggak enak pun tetep dilahap juga. Sialnya lagi, kompor saya yang nyala cuma satu doang, padahal saya harus memasak berkilo-kilo sayap dan ceker ayam (padahal cuma 2 kilo aja!) Hasilnya tidak begitu buruk. Ceker dan sayap kita tetep ada yang beli dan mereka malah reorder lagi alias suka! Meski banyak yang bilang juga terlalu pedas sampai bibir mereka moncor-moncor hehehehe
Kerempongan demi kerempongan pun berdatangan, dari tiap pagi saya harus sudah belanja di pasar, siang hari mulai masak, mulai bikin packaging alias pincuk, sampai pada sore hingga petang hari mulai berjualan. Banyaknya customer yang datang ke stand kita cukup bikin rempong, karena kita hanya bertenaga 2 orang dan harus melayani segala macam pembeli dari yang annoying sampai yang nyenengin hehehehe tapi semua itu jadi pelajaran yang berharga banget! Gimana kita harus ngapalin order masing-masing pembeli, mencari mereka yang tiba-tiba menghilang saat pesanan sudah jadi, ceker dan sate yang seringkali jatuh dari panggangan, kesel juga kalo inget semua itu tapi sangat beruntung bisa mengalami itu semua.. cieee cieee cieee Untungnya nggak lumayan lagi! Tapi yang jelas bikin nggak manyun! hahahahaha Oiya, malahan beberapa kali customer kami udah ada yang nanyain dimana warung kita biasa buka, padahal ini adalah debut pertama kami berjualan makanan hehehehe... Saya heran juga ada beberapa customer bahkan banyak dari mereka yang tidak hanya jajan ke tempat kami satu atau dua kali saja tetapi hampir tiap hari bahkan beli dalam skala yang tidak kecil, misal beli buat dibawa pulang sampai 5 porsi, sampai saya hapal 'dia lagi dia lagi yang dateng' tapi dalam arti postifi, alias seneng banegt! Karena mereka telah mempercayakan kesejahteraan lidah dan perut pada kami! hahahahaha
Dari semua pengalaman di atas, hal yang paling tidak bisa dihindari adalah percekcokan rumah tangga dengan rekan bisnis kita. Jadi persiapkan mental, rohani, dan jasmani kalian sehingga pada waktunya kalian berjualan semua hal yang enak dan tidak mengenakkan dari partner kita bisa diatasi. Ingat, jangan sampai walkout ya! hehehehe

Oke, sekian dulu pengalaman kali ini semoga memberi pencerahan bagi kita semua.

Grazie belle!
 

03 augustus, 2014

For those who love love swimming a lot!

         Kemampuan yang patut saya banggakan selama setahun terakhir ini adalah berenang. Kenapa harus ''bangga''? Ya, setelah saya tahu ternyata banyak juga yang belum bisa berenang. *no offense
Tekad buat berenang muncul seiring dengan kecintaan saya akan laut, pantai, dan kolam. Butuh tekad kuat buat belajar berenang. Ternyata tekad kuat dan percaya akan kemampuan sendiri bikin kita cepat bisa belajar lho. I experienced it. hehe nggak sampai sebulan, yah, hanya 2-3 kali nyebur kolam alhamdulillah bisa berenang, tak lain berkat bantuan dan dorongan para sahabat :)

        Kali ini saya mau bagi-bagi info tempat berenang di Jogjakarta. Sharing is caring, r8?
Sebenarnya kalau mau informasi lengkap bisa tengok disini . Tetapi saya mau share sedikit review dari kolam-kolam yang pernah saya coba saja. Enjoy!

1. Kolam Tirta Sari Hotel Brongto
Lokasi: Hotel Brongto
HTM: Pelajar 7000 (bonus Teh Botol)
Open: jam 6 am - 6 pm
Di sinilah saya pertama kali belajar berenang ditemani Aura. Yang nggak enak dari tempat ini, kalau weekend atau weekdays (sore hari) bakal banyak anak-anak kecil yang berenang sehingga cukup padat dan riweuh apalagi kalau banyak orang dewasa juga yang lagi renang. Timing yang tepat ya pagi hari karena suasananya masih sepi. Terdiri dari dua kolam anak dan dewasa meskipun ukurannya tidak terlalu besar namun yang menarik minat banyak orang barangkali harganya yang murah meskipun terletak di dalam hotel. Di sini juga disediakan penyewaan pelampung bagi mereka yang belum bisa berenang.

2. Salsabiela
Lokasi: SD Budi Mulia, Seturan, Depok, Sleman
HTM: Pelajar 8000
Open: dari pagi s.d. jam 8 malam
Kolam renang yang dirancang memang untuk kegiatan berenang massal, karena untuk pelajaran berenang bagi murid-murid SD BM, sehingga memiliki kolam yang cukup luas hingga kedalaman 1,75 meter. Di sini disewakan baju berenang, kacamata, dan pelampung, jadi memang lokasi yang tempat bagi mereka yang masih belajar berenang atau belum punya peralatan renang.

3. The Club House Casa Grande
Lokasi: Perum Casa Grande, Ringroad Utara
HTM: 15000
Open: dari pagi sampai malam (jam 8 mungkin ya)
The Club House merupakan kompleks gym yang diperuntukkan bagi penduduk Casa Grande dan publik. Selain ada gym di sini juga disediakan kolam renang. Kolam yang dikelilingi pepohonan membuat suasana rindang dan sejuk meskipun seringkali dedaunan dan rantingnya berjatuhan mengotori kolam. Ada dua kolam renang, untuk dewasa dan anak-anak. Di sini sepertinya tidak disewakan peralatan renang namun ada cafetaria yang siap mengisi perut yang kosong selepas berenang. Untuk mencari lokasi Club House tidaklah sulit, dari gerbang perumahan langsung masuk saja lurus mengikuti jalan utama sampai menemukan persimpangan, di situlah Club House berada. 

rooftop pool at The Cube
4. The Sahid Rich Hotel
Lokasi: Hotel Rich Sahid, Jalan Magelang
HTM: Member Only
Hanya karena seorang teman yang menjadi member, saya bisa berenang di sini. Pertama kalinya saya berenang di ketinggian gedung. Tempatnya nyaman dan kolamnya cukup luas.
The Rich Sahid
5. Depok Sport Centre (DSC)
Lokasi: Sebelah Superindo Seturan
HTM: 15000
Selain memiliki kolam yang cukup luas, ada 2 kolam (indoor dan outdoor), di DSC kamu juga bisa menikmati olahraga lain seperti beladiri, badminton, dan gabung di klub-klub tersebut. Untuk kolam renang outdoor ukurannya lebih luas dibanding yang indoor. Bagi yang nggak mau kepanasan renang di siang hari, bisa mencoba indoor pool di DSC meskipun saat itu saya rasakan airnya lebih dingin! brrr

6. Hotel Jambuluwuk Malioboro
Lokasi: Hotel Jambuluwuk Jogjakarta
HTM: Member 175000 /bln (coorporate 5 persons. Include swimming, gym, aerobic, yogalates, & sauna)
Baru nyobain gabung jadi member satu bulan selama puasa kemarin. Menurut saya harga coorporate member yang ditawarkan cukup murah dengan fasilitas yang lumayan disamping bonus diskon spa buat member yang mendaftarkan diri di atas 3 bulan. Kolam renangnya cukup sejuk dengan dikelilingi pepohonan yang membuat rindang sehingga tidak begitu panas jika renang di pagi hari. 
Hotel Brongto pool

7. Infinity Pool a la The Cube Hotel
Lokasi: The Cube Hotel, Jalan Parangtritis, Yogyakarta
HTM: 30000 (include towel & soft drink)
Hotel ini mencantumkan label ''infinity swimming pool'' sebagai salah satu fasilitas yang di tawarkan. Meskipun pemandangan di atas kolam tidak semenarik infinity pool ''sesungguhnya'' dengan suguhan pemandangan laut atau pantai. Selain itu kolamnya juga tidak luas, tetapi untuk ukuran kota Jogjakarta, pool di Cube Hotel bisa menjadi alternatif bagi mereka yang hobi hunting kolam renang. Dari sini anda bisa melihat suasana kota Jogja dengan pemukiman yang cukup padat dengan belum banyaknya gedung-gedung tinggi seperti di Ibukota.

Untuk referensi berikutnya, kolam renang di Rumah Budaya Tembi sedang menunggu untuk dicoba. See you there soon! And dont forget to let me know where is your favorite pool?

02 augustus, 2014

Catatan 23

Hasrat untuk menulis tidak bisa dibendung lagi, padahal entah mau menulis soal apa. Oiya, bagaimana kalau menulis soal hal-hal yang berkaitan dengan pergantian usia kita, seperti ritual para penulis pada umumnya, para blogger setidaknya, yang sering membuat catatan atau posting di usia baru mereka. Tepat satu hari setelah hari raya Idul Fitri, usia saya bertambah satu tahun lagi, 23. Bukanlah usia yang tidak lagi muda juga belum juga tua. Anyway, Alhamdulillah, masih diberi usia sampai detik ini. Harapannya sih semoga bisa mencapai hal-hal baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan sekitar. Anyway, bicara mengenai usia baru pastilah bicara tentang pencapaian-pencapaian yang sudah kita buat sampai pada detik kita menghirup nafas saat ini. Kalau saya sih, tentu belum cukup puas dengan perjalanan saya, namanya juga manusia. Nggak akan pernah puas. But literally, saya memang belum melakukan 'apa-apa' sejauh ini, kecuali -masih- berusaha menuntaskan tugas akademis terakhir saya. Semoga lekas selesai ya. Amin.Tahun ini saya juga tidak melakukan banyak pekerjaan yang menghasilkan materi namun setidaknya saya punya pertemanan baru dan pengalaman. 

Selain hal-hal yang kurang memuaskan itu, untunglah ada hal-hal baru yang bisa saya capai, meskipun tidak besar. Setidaknya membuat saya bahagia dan tetap bersyukur. Saya masih bisa melakukan perjalanan, ke tempat-tempat baru, melihat keindahan alam dan budaya negeri orang dan negeri sendiri. Patut disyukuri. Sisanya, saya masih bersyukur, masih memiliki keinginan dan keberanian untuk menulis. Mungkin itu semua masih berupa 'hal-hal kecil' namun paling tidak saya masih bisa bersyukur dan bahagia dapat melakukannya.

Hal lain yang patut disyukuri ialah didampingi oleh orang-orang baik di sekitar meski saya kadang saya luput untuk bersyukur atas kehadiran mereka. Salah satunya, pacar saya. Yang tetap sabar dan terus menenangkan saya saat kegelisahan dan kekhawatiran melanda. Grazie, ti amo per sempre sara. Tentunya teman-teman dekat saya, yang meskipun sudah tersebar di kota lain dan beberapa yang tinggal di Jogja, masih bisa meluangkan waktu hanya untuk saling bertemu. Those are priceless! 

Banyak hal-hal baru yang saya lakukan satu tahun sebelum menjelang usia 23. Saya kembali rutin workout, gabung di klub gym dengan teman SMA yang tidak diduga sebelumnya, kembali berenang meski kadangkala sendirian, dan mencoba yoga dan zumba dengan para sahabat. Harapannya aktivitas ini akan menjadi gaya hidup, tidak hanya sementara saja seperti sebelum-sebelumnya hehehehe... Oiya, saya kembali terlibat dalam aktivitas volunteering, meskipun baru sesekali waktu, saya ikutan program Save Turtle. Yup, sudah lama saya ingin bergabung di organisasi atau aktivitas penyelamatan lingkungan seperti itu. Semoga berlanjut dan mendapat manfaat. Amin.


Semoga di usia saya yang baru ini saya banyak mencapai hal-hal bermakna lainnya yang bisa terus saya syukuri dan saya senangi. Amin.

28 juli, 2014

Film-film tentang Perjalanan

          I want to talk about my current habits these days, old matters but I quite enjoy it rite now. Yep yep. I can watch movie online all day and back to my childhood habit, reading comic. I can spend a whole day by watching 2-3 movies then continue by reading comics. Until this day I can say that I have watched 10 movies, since about 3-4 days ago. Yup, semenjak waktu yang cukup luang sembari menunggu libur lebaran berakhir dan bertemu dosen pembimbing, maka menonton film menjadi aktivitas pilihan untuk mengisi waktu luang. Accidentally I got curious about an Indonesian movie called 99 Cahaya Di Atas Langit Eropa, 99 Lights above The Sky of Europe, since it's broadcasted many times in the tv. This movie talks about the journey of its author and her partner while they lived for 3 years in Vienna, Austria. The main issue that caught my attention is about the author's journey through some places in Europe where the Islamic history left. There I said, I love those movies that tell about journey, stranger on the road, new places, etc. Since I saw this movie then I looked for another movie which has common issue: journey. Tadinya sempat googling film-film apa yang bertemakan tentang perjalanan atau traveling, tapi beberapa sudah pernah saya tonton seperti Into The Wild, 270 hours, Life of Pi, dan lain-lain. Selain itu film lain yang direkomendasikan tidak begitu menarik bagi saya, saya ingin yang ada drama dan ringan ceritanya. Ya yang saya suka aja, biasanya berdasarkan dari desain poster atau sinopsisnya. First of all, I'd like to say deeply sorry because I can't afford to buy the real dvd of these movies or rent them, fyi: I only can see it through online streaming. Here I list numbers of those movies bellow. Let's check them out! 

1. 99 Cahaya di Langit Eropa party 1 dan 2
     Yang saya suka dari film ini adalah benturan-benturan budaya yang pada awalnya membuat tokoh utama, Hanum, merasa tidak kerasan tinggal di negeri orang, namun pada akhirnya berkat ''pengajaran-pengajaran'' yang didapatkan dari suami dan sahabatnya, Fatma, membuat Hanum betah tinggal di Eropa bahkan mampu mendapatkan pekerjaan yang ia idamkan. Menurut saya, film ini mengajarkan bagaimana perbedaan bukanlah halangan untuk tetap melanjutkan hidup sesuai dengan keyakinan dan nilai-nilai kemanusiaan kita.
Setting: Vienna, Paris, Cordoba, dan Istanbul.

2. Laura dan Marsha
    Randomly saya menemukan judul film ini dari googling 'film-film terbaik Indonesia'. Dramanya sih kurang suka tapi kisah perjalanan atau petualangan kedua sahabat, Laura dan Marsha, yang berbeda karakter ini cukup menarik. Seperti kebanyakan cerita soal persahabatan, klimaksnya ada pada konflik 2 tokoh yang ternyata memiliki tujuan masing-masing dalam perjalanan yang sama. Selain itu disini juga digambarkan bagaimana mereka harus survive di negara orang meskipun keduanya tidak lagi melanjutkan perjalanan akibat konflik tersebut.
Setting: Amsterdam, Bruhl (Jerman), Innsbruck (Austria), Verona, dan Venezia.

source: disini
3. Letters to Juliet
    Saya baru lihat film ini tadi pagi. Main idea dari ceritanya sih kalo saya simpulkan serupa sama cerita-cerita ftv di Indo gitu. Cowok yang nyebelin, Charlie, yang pada akhirnya jatuh cinta sama tokoh utama, Sophie, karena terlibat dalam sebuah perjalanan mencari cinta sejati nenek Charlie. Yang saya suka sih setting lokasinya, gambaran perkebunan anggur, gang-gang kecil di kota Verona, dan gestur bahasa Italianya! :) Konflik film ini yaitu tentang perjalanan yang ditempuh untuk mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati dan bukan hidup bersama kesenangan semu atau palsu *tsah tsah tsah* 
Setting: Italy (Verona, Sienna), New York.

4. The Family
    Tokoh utama dari film ini lah yang membuat saya tertarik melihatnya, Robert De Niro, yang gak kalah hot dengan George Clooney. Sebelumnya saya melihat Taxi Driver, versi mudanya Robert, kalau yang disini dia berperan sebagai seorang mafia yang kemudian harus hidup nomaden bersama keluarganya karena berada dalam program perlindungan saksi. Ending ceritanya bikin kecewa, tidak sesuai ekspektaksi. Saya kira Robert akan berhadapan langsung dengan musuh yang mengintainya, ternyata tidak dan hanya berakhir dengan scene perkelahian yang tidak lama dan cukup sederhana. Tetapi yang menarik yaitu adanya perbedaan tradisi yang harus dihadapi keluarga Robert dimana di Perancis tidak mudah mendapatkan selai kacang seperti di Amerika dan bagaimana menghadapi stereorip yang diberikan orang Perancis terhadap Yankee.
Setting: Perancis (Normandy)
 
5. How I Live Now
  Film ini berjalan dengan alur yang lambat tetapi yang saya senangi hanya bagian awal-awal saja dimana romantisme Eddie dan Daisy, yang dingin dan jutek, mulai tercipta. Daisy yang tidak memiliki rasa percaya diri, introvert, dan tidak ingin keluar dari zona nyaman akhirnya dapat mengubah hal-hal buruk tersebut semenjak kehadiran sosok Eddie dan keterlibatannya dalam perang yang sedang terjadi di Inggris. Daisy berasal dari Amerika yang kemudian menghabiskan liburan musim panasnya di Inggris. Disana ia tinggal bersama sepupu mereka dan mengisi waktu luang dengan berenang, bermain, mancing, dan aktivitas alam lainnya yang sangat tidak disenangi oleh Daisy. Saat Daisy mulai menikmati hari-harinya bersama Eddie, tiba-tiba konflik terjadi di negara mereka. Daisy dan adik perempuan Eddie harus berpisah dengan Eddie. Eddie berpesan pada Daisy agar dirinya berjanji untuk kembali.
Setting: di suatu pedesaan dan hutan di Inggris.

sumber: disini
6. Tiga Hari Untuk Selamanya
Film garapan ini bercerita tentang seorang perempuan, Ambar, bersama sepupunya, Yusuf, yang diluar rencana melakukan perjalanan Jakarta - Jogja menggunakan mobil. Jogjakarta menjadi tujuan perjalanan mereka karena mereka harus mengikuti prosesi pernikahan kakak Ambar. Yusuf pada awalnya memang diberikan tugas untuk mengantarkan peralatan makanan untuk prosesi midodareni, namun Ambar yang terlambat bangun dan ditinggalkan oleh keluarganya meminta untuk pergi ke Jogja bersama Yusuf. Waktu yang ditargetkan satu hari perjalanan molor menjadi tiga hari karena Ambar yang ingin melipir ke Bandung. Tak hanya itu saja mereka harus menghadapi konflik-konflik dalam perjalanan mereka yang pada akhirnya menjadi proses pendawasaan bagi Ambar. Film ini menarik untuk diikuti karena kejutan-kejutan kecil yang tidak diduga dalam beberapa adegan seperti saat mereka secara tiba-tiba 'kehilangan' mobil mereka saat menginap di rumah penduduk. Selain itu di sela-sela obrolan tokoh utama seringkali tersisipkan hal-hal berbau seksualitas dan juga pembicaraan tentang masa depan.

Well, masih banyak film-film lain yang belum saya temukan dan tonton semoga dengan segera bisa dinikmati ya! Dont forget to enjoy your summer holiday and let me know your suggestion about journey-themed-movie!
Ciao!

08 juli, 2014

Mangrove Barros: Alternatif Wisata Alam dan Edukasi

      Yogyakarta bisa dikatakan tidak akan pernah kehabisan tempat menarik untuk dikunjungi. Terletak duapuluh lima kilometer selatan Kota Yogyakarta, tepatnya di Dusun Barros, Kecamatan Kretek, Bantul, Anda bisa menikmati keindahan alam yang mungkin belum banyak diketahui oleh banyak orang. Memang bukan tempat wisata populer yang ramai dikunjungi seperti Pantai Parangtritis atau Pantai Depok. Ya, di Barros Anda akan menjumpai lokasi konservasi mangrove yang berdampingan dengan muara Sungai Opak, yaitu sungai yang menampung aliran sungai-sungai kecil dari wilayah Yogyakarta bagian timur. Selain dapat dicapai melalui jalur darat, lokasi mangrove Barros ini dapat ditempuh dengan melintasi muara Sungai Opak. Berangkat dari Pantai Samas Anda bisa menggunakan kapal nelayan yang khusus dipesan untuk perjalanan ke Barros.  Jadi selain mengunjungi Barros, Anda juga dapat mampir ke beberapa pantai yang berada di sekitarnya seperti Pantai Gua Cemara, Pantai Pelangi, Pantai Baru Pandansimo, dan Pantai Samas.
 
mangrove yang baru ditanam

area outbond
           Mangrove yang ditanam di Barros ini merupakan mangrove buatan yang penanamannya dimulai tahun 2003 oleh Keluarga Pemuda Pemudi Barros (KP2B) didukung lembaga swadaya masyarakat RELUNG dan juga mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM. Secara mandiri konservasi mangrove kemudian dikelola oleh KP2B dibawah divisi konservasi. Penanaman mangrove sempat terhenti namun dilanjurkan lagi setelah terjadi gempa bumi pada 27 Mei 2006. Selain menahan abrasi, mangrove juga berfungsi sebagai penghalang angin atau wind barrier dan mencegah terjadinya intrusi air laut.  Kegiatan KP2B ini meliputi penanaman dan pemanfaatan mangrove sebagai objek wisata alam, wisata pertanian, wisata perikanan, dan outbond sehingga lokasi ini seringkali dikunjungi oleh murid-murid taman kanak-kanak hingga sekolah menengah sebagai wisata edukasi. Tidak hanya berkunjung para wisatawan juga mendapat kesempatan untuk ikut melakukan penanaman mangrove. Bagi mereka yang hobi memancing Barros adalah tempat yang tepat untuk menyalurkan kegemaran mereka. Kata guide rombongan kami, Mas Dwi, di muara Sungai Opak di Barros ini memang menjadi spot memancing favorit. Jika Anda mengunjungi muara Sungai Opak ini pada pagi hari maka Anda akan berjumpa dengan nelayan yang sedang melaut.
      Ada empat jenis mangrove yang dibudidayakan disini yaitu jenis rizopora, brueguera, avicenia, dan nipah. Jenis mangrove yang paling banyak adalah mangrove avicenia dengan persentase 60 persen, sedangkan yang paling sedikit yaitu mangrove nipah dengan persentase sebesar 10 persen. Selain mangrove disini juga dibudidayakan kepiting dalam keramba dan itik mangrove. Ada 48 spesies yang mengisi ekosistem di mangrove Barros sehingga kita dihimbau untuk tidak membuat kebisingan agar tidak mengganggu ekosistem yang ada. Selain disuguhi pemandangan yang indah, padang rumput, dan angin laut yang bertiup kencang, jangan kaget jika Anda juga akan menjumpai banyak sampah di area mangrove ini. Hal ini dikarenakan sampah-sampah tersebut merupakan sampah yang dibuang oleh masyarakat Yogyakarta yang terbawa arus laut. Jadi, tolong pikir ulang ya kalau mau buang sampah di laut karena masih ada ekosistem yang seharusnya bisa kita lindungi. 
muara Sungai Opak

Africa for awhile
       

28 juni, 2014

What I miss most when I stop traveling

"the most hated thing while we travel is when we trapped in the discomfort zone, but who knows that is the one I miss most" (self-note)

source
Ada banyak hal yang nggak bisa kita beli begitu saja hanya dengan uang: kebaikan orang, kebahagiaan, kenangan. Mungkin saya akan membicarakan hal yang terakhir. Seringkali teman-teman saya yang hobi jalan-jalan, mengungkapkan kerinduannya akan momen-momen perjalanan setelah mereka vakum traveling. Yap, kenangan. Barang termahal yang nggak bisa begitu saja terbingkai dalam frame foto. Banyak orang yang menghabiskan uangnya bukan untuk membeli barang-barang mahal atau terkini, tapi justru hanya untuk membeli kenangan itu.
Kenapa saya tetiba ngomongin soal kenangan ini? Barusan seorang kawan posting salah satu sudut jalan di Khao San road, Bangkok, dimana disana lebih banyak dipenuhi orang-orang asing daripada orang lokalnya sendiri. Saya jadi ingat satu momen saat saya berada di sudut jalan yang sama. Saat tiba pertama kali di Khaosan road, saya dan teman-teman bersusah payah menenteng backpack dipunggung mencari penginapan dengan harga semurah mungkin. Jalan berratus-ratus meter dan bertanya sana sini hanya untuk mencari kenyamanan yang hanya akan disinggahi sesaat saja. Ketidaknyamanan. Ya, hal tersebut saya alami ketika itu dan sudah saya sadari bahkan jauh sebelum memulai perjalanan. Dimanapun kita akan menemui ketidakpastian, dan ketidakpastian itu akan berujung pada ketidaknyamanan. Karena orang semacam saya akan terus keep thinking, memikirkan hal-hal yang belum pasti saat berada dalam perjalanan. Hal ini berakibat buruk, saya jadi khawatir, ketakutan, hingga tidak enjoy saat melanjutkan perjalanan. Bertemu orang asing, seorang diri dalam perjalanan, ketakutan akan seorang kriminal, hal tersebut lazim terjadi saat kita berada jauh dari rumah, atau katakanlah jauh dari zona nyaman kita. Tetapi tiap kali saya teringat momen-momen itu justru semakin saya rindu. Beradu cepat dengan waktu untuk mengejar kereta, sebisa mungkin menghindari calo, berusaha sebisa mungkin percaya diri diantara orang-orang asing, dan mencoba tenang disaat segala hal tidak sesuai dengan rencana semula, sulit beradaptasi dengan teman seperjalanan, sulitnya menempatkan diri di tengah lingkungan baru adalah sejumlah hal yang sering membuat saya tidak nyaman yang ujung-ujungnya bikin saya nggak menikmati perjalanan. But the most important thing is how we solve all those things. Disitulah kita menemukan diri kita yang sesungguhnya, bagaimana kejadian-kejadian tersebut pada akhirnya membentuk jati diri kita. Tentunya masing-masing orang punya pengalaman yang berbeda sehingga hal inilah yang ikut membentuk karakter seseorang. Di perjalanan lah, sifat seseorang yang sesungguhnya akan muncul, tidak lagi ada kepura-puraan atau pembentukan citra diri. Tak sedikit orang yang justru lebih sering bertengkar dengan travel mate mereka karena seringkali tidak sejalan atau sependapat ketimbang menikmati perjalanan itu sendiri. Makanya tidak heran kenapa orang lebih memilih solo traveling daripada bepergian dengan beberapa orang.
Hadapilah ketidaknyamananmu karena sampai kapanpun kamu akan menemuinya. Biasakanlah sampai ketidaknyamananmu itu menjadi kenyamanan yang baru bagi dirimu. *macak Mario Teguk* Dare your self!