05 februari, 2014

Obrolan Sore Kemarin

           Menjelang senja dengan diselimuti udara dingin sehabis hujan mengantarkanku ke tempat yang sudah tak asing bagiku. Tujuanku kesana apalagi kalau bukan menyelesaikan apa yang harus diselesaikan di akhir masa studiku ini. Sebuah tempat dengan labirin buku yang mengelilinginya. Perpustakaan. Sempat dibuat repot oleh mesin pencari nomor buku akibat koneksi yang melambat, hal ini membuat aku bolak-balik dari satu lemari ke lemari yang lain kemudian kembali lagi ke mesin katalog. Seorang petugas sempat menanyaiku buku apa yang kucari. Agak jarang ditemui petugas yang cukup aware dengan pengunjung seperti itu. Benar saja, petugas ini memang berbeda. Agaknya dia senang mengobrol dan mencari teman bicara di sela-sela waktu kerjanya. Benar saja. Waktu saya akan membaca buku yang sudah saya temukan, petugas itu mengajak saya bicara. Dari menanyakan identitas saya hingga profil keluarga masing-masing. Komentar demi komentar terlontar pada diri saya sampai masa studi saya yang menjadi bahan 'tertawaan', tapi sayang -sekali lagi- saya sudah kebal dengan 'guyonan' semacam itu.

           "Saya punya tiga anak. Semuanya lulusan ______ (universitas terkemuka di Yogya). Yang satu lulusan sarjana hukum, tapi nggak mau jadi pegawai negeri, malah buka toko kelontong, sekarang justru jadi paling kaya (di keluarga). Yang kedua sudah lulus tahun 2011 jurusan Farmasi, sekarang sudah bekerja (pegawai negeri) kalau sore masih nyambi di _______ (perusahaan multinasional farmasi). Tapi sayang yang kedua kalau pulang nggak mau ngasih uang ke ibunya, katanya mau ditabung buat beli mobil saja...." 

          Ceritanya pun masih sedikit berlanjut tentang anggota keluarga yang lain. Petugas ini ternyata sudah akan memasuki masa pensiun bulan Mei tahun ini. Bisa saya lihat dari perawakannya yang sudah tidak muda lagi namun juga tidak tua-tua amat, barangkali karena rambutnya yang masih hitam. Entah maksud apa yang ia ingin sampaikan pada saya, yang jelas obrolan sore itu kembali membuka jendela pikiran saya. Yang saya dengar dari cerita-cerita si petugas, nampaknya dia sudah bangga dengan apa yang dicapai oleh anak-anaknya, meskipun kekecewaan masih merundung. Kemapanan hidup atas buah  dari pendidikan yang tinggi menjadi hal yang benar-benar diharapkan oleh kebanyakan orangtua. Siapa sih yang ingin hidup susah? Disisi lain masih ada harapan untuk menerima kembali apa yang telah dikeluarkan dengan jerih payahnya.


Selamat Pagi!            
       

Geen opmerkingen:

Een reactie plaatsen