09 oktober, 2012

You don't have any business with my body

Kok kamu gemukan siH? Coba deh makan pepaya, biar langsing
Emang kenapa kalo langsing?
Ya kan kalo langsing cantik gitu..
Siapa yang bilang kalo cantik itu langsing?

   
           Kutipan percakapan diatas mungkin sudah sering wara-wiri di telinga saya. Meskipun secara perasaan saya sedang di-bully, tapi saya nggak pernah ambil pusing. Atau bahkan -terpaksa- saya anggap joke belaka dan saya ikut tertawa. ha-ha-ha. Kenapa? Karena bagi saya selintingan bahkan selontongan (segede lontong) perkataan2 seperti itu worthless banget buat didengerin... Apa yang  dianggap masyarakat pada umumnya bahwa cantik itu harus langsing, tinggi, dan putih itu adalah apa yang disebut dengan body image, sedangkan orang gemuk, item, atau pendek itu punya setereotype jelek, nggak menarik, dan hal ini yang sering kita denger sebagai bahan cemoohan  orang-orang. Nah loh, kalo ngomongin cantik dari warna kulit, jelas teman2 kita yang di timur Kepulauan Pasifik sana sudah terdiskriminasi. Dan dari fenomena ini para kapitalis mulai memfungsikan dirinya, bagaimana membuat produk kecantikan yang selalu menomorkan satukan jaminan kulit putih, atau produk makanan yang menjunjung tinggi asas low fat dan langsing is beautiful. Padahal nih ya di beberapa daerah ada yang menganggap kalau cewek berbadan besar itu cantik, atau semakin hitam semakin cantik. Parahnya nih kalau kita selalu menganggap serius semua perkataan orang2 tentang seperti apa seharusnya tubuh kita, kita nggak akan pernah jadi diri kita sendiri apalagi mau menghargainya. That's so cruel, isn't it? Ini nggak lagi ngomongin pembelaan tentang seperti apa tubuhku, tapi bagaimana seharusnya kita menghargai tubuh kita sendiri dan tubuh orang lain, karena memang we have no right to judge people's body. Ya karena emang nggak perlu kok kita ngomentarin fisik orang lain. Yaaaahh lagi-lagi semua ini kembali ke tipikal orang Indonesia (not generally) yang sangat punya banyak waktu luang untuk ngomongin fisik atau keadaan orang lain. Pernahkah kalian mendengar berita seorang anak gantung diri karena dicemooh atas tubuhnya yang gendut? atau seseorang yang menarik diri dari pergaulan karena tidak diakui eksistensinya atas tubuhnya yang hitam? How miserable!

            Jadi ingat kuliah antro saya minggu lalu. Waktu itu kita lagi ngobrolin soal permainan anak dan keluarlah statement kalau laki-laki itu cenderung suka 'main-main' bahkan sampai dirinya dewasa. Dari situ kemudian dosen memberikan contoh beberapa perilakunya (diluar perbedaan jenis kelamin ya) yang baginya itu dianggap main-main, misalnya lelucon yang mencemooh fisik seseorang, suku, ras, atau bahkan agama. "Kan cuma main-main". ni kalau orang Indonesia itu paling suka sama slapstick, atau lelucon yang cenderung kasar. "Ahh dasar cebol!" "Item lu!" "Heh mbrot gembrot...!" Terus dosen saya itu menambahkan coba kalau kita ngomong kaya' gitu di luar negeri, bisa jadi kita kena tuntutan atas perbuatan yang tidak menyenangkan apalagi kalau udah ngomongin warna kulit (racism). Nggak usah jauh-jauh coba kita lihat tayangan komedi yang rutin disiarkan di televisi kita, kalau nggak ngatain fisik lawan mainnya, paling main dorong-dorongan badan... ya kembali ke main fisik lagi. Kembali lagi ke body image, mungkin sudah banyak yang tahu ya apa itu dan bagaimana seharusnya kita menghargai serta mengapresiasi bentuk tubuh kita. Jadi, poinnya sih mulailah mengenali dirimu seperti apa (physically) menerimanya, mengapresiasinya, dan bagi kamu yang masih saja komentar soal 'seperti-apa-seharusnya-tubuh-orang' itu berhentilah mencela, menghina, dan mengolok-olok fisik orang lain, karena tanpa kamu sadari kamu telah melakukan bullying dan kontrol atas tubuh seseorang.
         

“The human body is the best work of art.”
― Jess C. Scott

2 opmerkingen:

  1. everyhuman body is the best work of art. -Nurul Ashari

    BeantwoordenVerwijderen
  2. tiga empat kali, lawakan hanya jadi bahan candaan, lima dan seterusnya, bisa jadi dogma. ngeri buosssss! >:D

    BeantwoordenVerwijderen