28 juni, 2014

Pilpres teaches me many things



Kali ini saya mau ngomong serius. Tidak seperti postingan2 sebelumnya yang asal share beberapa aktivitas yang saya lakukan akhir2 ini. Otak saya baru saja memikirkan hal-hal yang saat ini sedang bikin ruwet suasana. Suasana di sekitar kita. Ya, ternyata energy kita banyak terbuang dengan percuma selama ini, khususnya di saat hiruk pikuk pilpres seperti sekarang. Sudah sering kita jumpai banyak status di sosial media yang mengeluhkan beberapa temannya sibuk dukung sana-sini, ngejelekin sana sini, yang berujung pada membanjirnya timeline mereka dengan hal-hal yang berbau capres-capresan atau newsfeed yang lebih banyak dipenuhi dengan berita2 pemilu. Ingat ada berapa orang lain juga yang sebetulnya jengah juga membaca keluhan Anda (mungkin saya salahsatunya). Seakan kita jengah dan malah ikut tersulut emosi. Bahkan fenomena ini berakhir pada sikap saling ‘unfriend’ teman mereka yang gengges banget tiap kali update status. Wajar sekali kalo seseorang sampai risih banget dengan sikap2 seperti di atas. Berita dan status di sosmed yang sering terupdate berulang-ulang membuat kita jenuh. Nonton tivi ketemunya berita itu-itu lagi, buka sosmed juga isinya itu-itu juga. Jadi wajar saja kalau kita bosan.
Tetapi sesungguhnya ada hal-hal yang menurut saya tidak perlu ditindaklanjuti sejauh itu (unfriend temen, ngeblock temen, atau bales2an argument soal siapa capres yg lebih unggul).
1.       Unfriend temen yang gengges di sosmed belum tentu keputusan yang benar
Kenapa? Kadang ada cara simple yang bisa lakukan tanpa harus melukai relasi kita dengan seorang teman melalui unfriend atau ngeblock akun lain. Misalnya dengan apa? Kita bisa mute setiap tweet mereka misalnya, atau tidak memunculkan update status mereka di newsfeed kita. Kenapa? Karena kita nggak tau lho kalau suatu saat kita ternyata masih butuh komunikasi dengan orang tersebut. Misalnya kita butuh si X ini dalam pekerjaan atau tugas kuliah kita, eh kita udah ga punya kontak dia lagi, kan susah juga kan? Mungkin secara sikap politik si X ini emang nyebelin tapi di sisi lain ada kemampuan dia yang kita butuhkan suatu saat. Jadi pikirkan baik2 kalau mau delete dia dari kehidupan kita, apalagi kalau kita emang nggak punya konflik yang berart. Ingat: jangan sampai Cuma beda pendapat, bikin kita putus hubungan dengan dia, lagian sifat orang2 yang nyebelin ini kan Cuma bersifat musiman atau sementara aja, ya Cuma pas musim pemilu kayak gini.
2.       Percuma buang tenaga dan pikiran buat nasihatin orang-yang-ga-bakal-berubah-sikap-dan-pikiran-hanya-dengan-ndengerin-ucapan-kita-terlebih-kalau-dia-adalah-publik-figur.
Ngetuit, mensyen, nyinyirin orang itu hak tiap individu. Tapi kadang kita nggak sadar, kalau pendapat kita ini nggak akan berefek banyak buat orang yang kita nyinyirin, terlebih lagi kalau kita nyinyirin public figure yg jelas2 udah banyak orang lain yg mensyen dia dan belum tentu dibalas pula. Di tengah hiruk pikuk pilpres sekarang ini, banyak artis, politisi, tokoh masyarakat, yang tingkahnya sering bikin betek kita, tak jarang menuai hinaan, makian, dari followernya. *udah tau nyebelin kenapa masih juga follow* niat hati pengen ngingetin, negur, atau maki2 tingkah laku mereka, tapi lihat deh, apa iya mereka bakal baca teguran kita di sosmed? Oke, mereka baca, tapi apa iya dibales? Kalopun dibales apa iya sikap mereka akan berubah hanya karena baca nasihat/pendapat kamu? Sebenernya bukan masalah besar sih mau dibales apa enggak, tapi ingat berapa menit waktu yg kamu habiskan buat ikut ngurusin kehidupan dia? berapa kalori yang kamu habiskan buat maki-maki dia? kecuali kalo hal tersebut bisa bikin perubahan signifikan sih oke-oke aja (missal akibat makianmu thd AHMADDhani karena video klip yang kontroversialnya itu bikin dia minta maaf sama public dan ngasih ganti rugi sama musisi yang lagunya udah dia jiplak itu). Tak jarang saya pun mudah tersulut sama sikap2 publik figure yang bodohnya nggak habis2. Tapi saya pikir2 ulang buat maki2 atau sekedar negur dia sosmed, “orang ini public figure. Sudah biasa dengan pro-kontra di sekitarnya. Mau dia dimaki sejuta followernya di timeline, hal itu bakal masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Artinya mau saya maki2 dia, ngata2in dia, nggak akan ada yang berubah dari dirinya” Jadi kadang saya suka senyum2 dalam hati saja kalo lihat orang bodoh yang nggak ada habisnya di negeri ini. Emang suka gemes mau nyinyirin orang macam itu, tapi kadang saya pikir2 lagi, nanti saya bisa2 ikutan “gila”. 
3.       Don’t take what media says seriously

 “Television is a box of toxic that may fill our mind any time by spreading hateful news and cheesy drama.” 

Like a toxic, we should detox it. Saya mungkin bukan satu2nya jengah sama siaran tv di Indonesia. Tapi gimana dong? Buat pasang tv kabel saya belum mampu, satu2nya hiburan kalo sinyal internet lagi ga ada yam au ga mau liat tivi. Tetapi selama kita masih bisa filter ataud detox hateful news di televise, it’s Ok lah ya… untungnya sekarang2 ini ada beberapa stasiun tv yang isi beritanya (katanya) nggak tendensius atau memihak salah satu capres (sebut saja Kompas tv atau rajawali tv).

Untuk hidup tenang di tengah hiruk pikuk pilpres tahun ini, masih mungkin kok. Harapan itu masih ada. Tinggal bagaimana kita bisa bersikap bijak untuk tidak senggol sana-sini and don’t take those hateful things seriously! Demi kenyamanan dan ketenangan hati tiap2 individu mari kita wujudkan kebebasan untuk memilih dan sikap saling toleransi satu sama lain. Salam 2 jari! (^-^)v *teteup*

oiya, semua poin-poin di atas saya tulis dengan segala kerendahan hati buah pikiran saya, tidak maksud buat menyinggung atau menyerang siapapun. Jadi tolong jangan diambil hati ya kalo ada salah2 kata :))

Geen opmerkingen:

Een reactie plaatsen