05 juli, 2010

open old melodies

Well, sempet syok begitu iseng membuka Official-Twitter dari Band idola yang telah lama saya elu-elukan semasa SMA, The Upstairs. Kemarin malam saya baru tau kalo mereka mau manggung di Jogja Expo Center malam besoknya..uwaaw! #secara band semacam mereka jarang banget singgah untuk sekedar nge-gigs di kota kami ;) Alhasil langsung saya sms-in para gadis brutal like ; Elak, Dyah, and Nesti, but Nesti unfortunately couldn't come bcoz she had to go to Surabaya for vacation. And of course I didn't forget to tell this sudden news to Deph and Lona, old pals that we got from the 1st The Upstairs' gig that we saw in Jogja, minus Tere, the other Modern Darlings. 
Jimmy - Olah suara

Kubil Idris - Tata petik guitar

Beni Ardyanthoro - Penggebuk
Jadi, begitu sampai di TKP kami masih perlu meragukan apakah kita berada di venue yang salah atau bukan?! Pasalnya disitu acara Jogja Fair juga ada, padahal rumornya itu mereka bakalan maen di event semacam clothing carnival. Setelah malu-malu bertanya kepada bagian informasi, kita dapatkanlah venue yang cocok, yaitu di sayap sebelah timur. Beli karcis, masuk, dan tersesat di dalam gedung. Banyak umat disana dan nggak jelas panggungnya ada disebelah mana, pasca si Elak dapet wangsit kita jalan kea rah belakang gedung, dan terpanggillah namaku (ihiiiiirrr eksim, eh, ekseeeessss!) disitulah kami bertemu dengan Devi! Bersama pacarnya tanpa si Lona yg konon nggak boleh pergi. Nah FYI, Lona dan Devi yang berjarak satu tahun lebih muda dari kita, sebenernya masih ada satu lagi namanya Tere yang satu tahun lebih tua dari kita, kita ketemukan saat nonton The Upstairs pertamax, waktu di UNY. Ngobrol sana-sini setelah bertemu Tito dan cukup lama nunggu Upstairs main. Setelah MC mulai bacot dan langsung manggil Upstairs maen. Unfortunately, personil aselinya tinggal tiga, Jimmy, Beni, dan Kubil, nggak tahu yang laen kayaknya masih additional gitu. Satu yang megang synthesizer dan bassist adalah personel Morfem juga, band baru yang juga digawangi oleh Jimmy itu. Sungguh sedi rasanya (preeeettt) mengetahui kalo Dian si suara latar dan the charmest, Alfi Chaniago harus resigned dengan alasan yang belum saya ketemukan hingga sekarang. Sebenernya saya sudah tau fenomena itu pada malam sebelumnya saat ngobrak-abrik kembali halaman2 The Upstairs di Twitter dan Facebook. Oke move to the stage. 
Aksi The Upstairs tentu tak luput dari Modern Darlingsnya, yap betul, semalam memang ada para MD yang meski nggak begitu banyak dan penonton juga gak gitu rame, mereka berdansa dengan kostum yang menyolok mata. Berbeda jauh dengan tampilan Sang Artis yang saat itu hanya mengenakan jins casual dan kemeja dan beberapa kaos lengan panjang dengan motif garis2. ya, tampilan mereka sudah jelas kontras dengan tampilan mereka beberapa tahun kepungkur (haha..), selain dari jumlah personil dan kostum tentunya, terlihat mereka mencoba lebih dewasa dan elegan. Selain itu beberapa waktu yang lama lalu saya menyimak komentar Jimmy di salah satu televisi saat pameran tunggalnya diliput, menurutnya corak warna2 yang mencolok mata which is he used to wear, sudah banyak dikonsumsi oleh masyarakat saat ini dan menjadi one of the popular culture (kalau nggak salah menyimpulkan), jawabnya saat ditanya mengapa sudah tidak lagi mengenakan baju warna/i. Back to the satge, lagu pertama yang dibawain…(lupa) yang jelas ada Modern Bob dan Apakah Aku ada di Mars, dilanjutin Gadis Gangster, Amatir, Mosque of Love. Mereka juga sempat memainkan satu buah tembang dari sahabat mereka sendiri, Goodnight Electric, yang mengusung judul Rocketship goes by. Begitu tau kalau tembang itu yang akan dimainkan, saya berimajinasi sejenak wah, pasti bakal seru nih maen synthesizernya, tapi ternyata jauh dari khayalan saya, si pemain tambahan dari Morfem tadi justru meninggalkan synthesizer-nya dan segera mengambil basisnya. Rocketship mereka bawakan Dengan nuansa yang selooow sedikit gloomy dan sepertinya tanpa gebukan drum Beni Ardhiantoro. Alunan lagu dari Album Magnet!MagnetMagnet! tak lupa dibawakan, seperti: Kudengar Dia Panggil Namaku, Kami Datang Untuk Musik, Tembang – tembang berikutnya mampu membuka memori – memori masa SMA saya dan sekaligus deretan lagu favorit seperti; Matraman, Dansa Akhir Pekan, dan Terekam (tak pernah amatir) yang menjadi temban pamungkas gig malam itu. Selesai pentas kami lanjut keluar gedung dan syit! Jogja diguyur hujan. The gig was so nice though it wasn’t seemed like they used to be. And as you know that they’ll become another everlasted-legend in my music library yeahhhhhs!




Geen opmerkingen:

Een reactie plaatsen