24 januari, 2014

seni bertahan hidup

           Akhir-akhir ini telinga saya seringkali terganggu dengan keluhan ibu soal karirnya. Pasalnya masa pensiun ibu yang harusnya jatuh tahun deoan menjadi mundur dua tahun, yaitu 2017. Jelas ibu uring-uringan karena beliau memang sudah merasa jenuh dan lelah dengan rutinitasnya itu. Beberapa tahun belakangan ini ibu memang sering pulang sore dan masih menanggung pekerjaan kantor saat tiba di rumah. Beliau juga jadi sering minta tolong soal pekerjaan pada bapak atau saya, mengingat bahwa ibu masih gaptek mengoperasikan komputer. Bisa saja ibu mengajukan pensiun dini namun selisih gaji yang diberikan juga cukup signifikan jika dibandingkan dengan pensiun tepat waktu. Hmm... yang saya takutkan selama ini pun terjadi. 
          Memilih pekerjaan yang sesuai dengan keinginan atau hasrat memang dilematis. Di satu sisi penawaran akan kemapanan dan nominal gaji kadang berbanding terbalik dengan hasrat kita akan pekerjaan itu. Berbagai kemapanan yang ditawarkan sebagai pegawai negeri menjadi pilihan banyak orang untuk berebut pekerjaan ini. Tidak hanya itu, menjadi pekerja pemerintah seringkali menjadi prestige atau tolak ukur keberhasilan seseorang. Hal serupa sering kita temui di lingkungan sosial, seperti keluarga. Ibu saya pun pernah berkomentar kalau menjadi pegawai negeri bukanlah pilihan pekerjaan yang harus diraih anak-anaknya, tetapi saya juga tidak tahu kalau -mungkin- didalam ucapannya itu terkandung  kekecewaan. Pasalnya usia bagi kakak-kakak saya untuk mendaftarkan diri sebagai pegawai negeri sudah tidak memungkinkan lagi. Pendapat tersebut dilontarkan ibu setelah salah seorang kerabat kami "sukses" menuntun anak-anaknya menjadi pegawai negeri.
             Rutinitas, beban kerja, dan tekanan dari lingkungan kerja pasti akan dialami oleh setiap orang. Entah itu berprofesi di lahan pemerintah, swasta, atau menjadi freelancer sekalipun. Kadang kita berpikir untuk berpegang teguh pada idealisme kita untuk ingin bekerja sesuai dengan kemampuan dan keinginan, tetapi seringkali tawaran pekerjaan yang menggiurkan datang tanpa menghiraukan hasrat kita. Seorang teman juga pernah berkomentar bahwa kita tidak bisa selamanya se-idealis. Dalam hati saya mengiyakan. Banyak hal harus dipertimbangkan.
            Dulu saya pernah berkali-kali berpikir soal pilihan pekerjaan apa yang betul-betul diinginkan. Namun pilihan menjadi seorang pegawai negeri hampir-hampir tidak pernah hinggap dalam benak saya. Mungkin selain saya berkaca pada rutinitas kedua orangtua saya. Berangkat pagi pulang sore begitu terus selama enam hari dalam seminggu. Belum lagi melihat pekerjaan yang masih harus dikerjakan di rumah dan keluh kesah yang dikicaukan. Saya yang tidak menempuh sekolah kejuruan atau vokasi pun masih bingung apa yang sebetulnya saya ingin kerjakan. Menjadi seorang freelancer pun cukup menyenangkan namun juga tidak mudah dilakukan dan banyak hal harus dipikirkan seperti jaminan kehidupan jangka panjang.
               Kemapanan memang hal yang diincar oleh banyak orang tetapi kemapanan itu sendiri punya risiko yang secara tidak sadar kita alami. Bekerja sesuai dengan hasrat dan kata hati memang jadi keinginan semua orang tetapi perlu juga untuk menyadari risiko pekerjaan yang ditimbulkan. 

Bukankah hidup itu adalah seni untuk bertahan hidup?

Lalu, apakah pekerjaan impianmu? Let me know by giving comment on my post :p

Geen opmerkingen:

Een reactie posten