17 februari, 2011

"Susahnya" jadi anak bapakku


hallo sodarah sebangsah dan setanah air...

         Saya mau melacur nih, alias melakukan curhat! Well, salah besar kamu kalau mengira saya akan berkeluh kesah masalah asmara apalagi kisah cinta Nicky Tirta –Depe yang beberapa jam lalu sempat membuat saya kehilangan kesadaran selama lima menit dan berhenti bernafas selama 29 hari *abaikan* meski demi apapun sungguh saya bertanya-tanya pada diri sendiri dan rumput yang berdisko: itu kelilipan apa ya matanya Niki Tirta sampe mau menggandeng Depe jadi kekasihnya? A. Bus Patas antar-kota antar propinsi B. Truk gandeng pengangkut material dengan tulisan “Pulang malu, tak pulang rindu” C. Batuan dan debu vulkanik Gunung Merapi. Errrrgh..entahlah kenapa saya selalu menganggap semua pria yang berhasil digandeng Depe terlihat plengeh dan seperti kehilangan seperempat kemampuan otaknya *oh no, God! No more umpatan, cacian, hujatan dan makian*      

         Sampai dimana tadi? Oh ya, jadi ketenangan hati saya mulai terancam akhir-akhir ini, terror yang dilakukan ayah saya tiap pagi semakin menjadi. Ini semua berawal semenjak ayah berkenalan dengan juragan Gula dari Madura itu, konon saya akan dikawinkan dengan koleganya itu jika saya tidak menuruti apa kemauannya *sorri, out of topic. Jadi ini semua berawal dari ritual bapak tiap pagi, yakni “menerror” kami, putra-putrinya yang selalu tidur ngebo agar dibangunkan untuk shalat subuh. Awalnya kakak saya yang pualing susah poll dibangunin buat solat subuh, sampai saya tau dia sering bohong, ngaku udah solat padahal bangun dari kasur aja belom. Naaahhh entah kenapa dua hari terkahir ini, si bapak semakin annoying dan menganggu tidur pagi saya, meneriaki nama saya jutaan kali, dan berujung pada tindakan menggedor-gedor pintu sampe bathin saya terganggu ketenangannya errrr....dan jangan salahkan saya kalo saya sampai berbohong kepada mereka, (orang tua saya) tentang apa yang saya tidak lakukan tapi seolah-olah saya lakukan. Seperti, saya pura-pura keluar kamar, masuk kamar mandi, dan berakting seolah-olah sedang wudhu, kembali masuk kamar dan zzzzz tidur lagi! yap membuat alibi seolah-olah saya sudah mengerjakan ibadah, padahal...hell! Itu juga gerak-gerik yang saya tangkap dari kakak-kakak saya, tetapi bukan berarti saya mengadopsi cara mereka, atau meniru kelakuan mereka, ini pure karena saya m-a-l-a-s!



         Saya tau dan saya yakin ini semua demi kebaikan kami, menyelamatkan putra-putrinya dari api neraka yang siap melahap kami jika kami tidak segera melaksanakan ibadah wajib itu, toh ini merupakan tanggung-jawab dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin dan pembibmbing dalam keluarga. Oke ini sepele buat aku, kamu, dia, dan mereka *apa deh* tapi saya semakin bertanya-tanya; Bukannya kita sudah akil-baligh? Semua tanggung jawab lahir dan bathin sudah mulai kita pikul sendiri? Bukankah segala hal yang kita yakini dan kemudian kita lakukan itu hendaknya berasal dari hati yang ikhlas dan bukan dari paksaan orang tua?? Oke, pengetahuan agama saya sangat amat tiarap, duduk di sekolah dasar yang berbasis agama tidak membuat saya hafal al-quran apalagi paham dengan ajaran agama saya. Dan yang terpenting lagi, sungguhpun jujur agama yang saya anut sekarang adalah agama orang tua saya, bukan karena pilihan saya sendiri. Jadi semua yang saya terima sampai saat ini hanya sebuah culture yang secara bertahap memaksa saya untuk membudayakannya.  Seperti penggunaan jilbab, sampai sekarang saya menganggap itu pure culture yang harus diterima dari keluarga saya, tapi syukurnya saya percaya akan esensi pemakaian jilbab itu sendiri meskipun 100% kelakuan saya masih dekat dengan kata nista. Kadang saya suka bertanya: lebih baik mana: Seorang perempuan dengan hijab tapi nggak pernah shalat atau perempuan tanpa hijab tapi perilakunya ahli sorga???? *wuuusss*
        Well, saya percaya Tuhan itu ada, masalah agama hanyalah sistem yang akan menggiringmu kepada jawaban siapa Tuhan itu, apa esensi hidupmu, bagaimana kamu menghindari neraka dan terus tetap berada di jalan-Nya sehingga kamu dapat mencapai surga itu. Ada ungkapan yang beberapa waktu lalu tertangkap telinga saya, tapi apa itu saya lupa (--,) dan itu membuat saya mempertanyakan esensi adanya Tuhan dan penciptaan semesta ini. Emang nggak ada habisnya kalo ngomongin agama dan keyakinan, sedangkan saya bukan ahli di bidangnya.
        Oke, sekian dulu curhatan tolol saya...tapi gimana ya? besok pagi daku harus bagaimana? apa saya harus pura-pura ke kamar mandi lagi??  sungguh saya takut dan malas sekali menghadapi “terror” Bapak setiap pagi...errrrghhhh... Semoga Tuhan mengutus hamba-Nya untuk memberikan siraman rohani pada saya dalam waktu dekat ini, haaaamiiiinnnn sungguhpun saya masih takut akan datangnya kiamat.
Have a good day people, do what u believe!

4 opmerkingen:

  1. lha bukane kalo sudah akil balik itu orang tua wajib 'ngoyak2' anaknya untuk sholat, & kalo nggak mau dibolehkan untuk memukul anak tsb.

    err.. masih mending loh, kalo orang tuanya peduli nasib anaknye. Terbanyang nggak kalo mereka yg "meneror" kamu itu sudah tiada? :)

    BeantwoordenVerwijderen
  2. iya memang seperti itu (pasca akil balig wajib dipukul anak apabila tidak mau sholat)
    tapi kan essensinya ibadah itu sndiri jd beda: antara beribadah tulus karena Tuhan sama beribadah karena takut diuring-uring orang tua. Saya justru sangat bersyukur sekali malahan setiap pagi ada yg mengingatkan kami (saya dan kakak2)untuk ibadah, oke, kesannya mungkin baik, beribadah dgn paksaan, tp bukannya sesuatu kalo dilakukan karena paksaan dan tanpa keikhlasan malah tidak baik?

    *makasih sudah mau mampir dan berkomentar :D

    BeantwoordenVerwijderen
  3. ada benernya juga sih,
    hmm... tapi gimana ya? lha itukan salah satu bentuk tanggung jawab beliau sebagai orang tua.
    hmm..mungkin cara beliau yg belum 'kurang ngetaste', tapi kita sebagai orang yg lebih muda & terpelajar, #halah. kan mestinya kita dapet mengambil esensi dari tindakan beliau itu. mungkin kita perlu cari komunitas yg membuat keimanan kita mnjadi meningkat :),

    http://is.gd/untuktantri

    BeantwoordenVerwijderen
  4. iya, sebagai anak muda (apalagi yg masih labil) emang belum dapat melihat tindakan beliau dari sisi bijaksananya, tapi saya tau pasti itu dilakukan untuk kebaikan anaknya, hehehe...

    BeantwoordenVerwijderen