25 januari, 2013

Hari ke-14: Get lost in Girijati

          Beberapa waktu lalu, seusai lunch di sebuah resto angkringan, aku dan pacar secara spontan dan nekat memutuskan untuk jalan-jalan ke sebuah tempat yang sebenarnya aku sendiri nggak tau dimana tempatnya (nah looohh). Posisi uang kami saat itu mepet banget: aku cuma punya 5000, tapi ternyata ada 1000 di saku, sedangkan pacar tidaklah membawa dompet namun mengantongi uang sejumlah 12000. Secara pengalaman kita sering bikin wacana jalan-jalan, tapi nggak pernah kejadian, maka hari itu pun ide gila muncul. Gimana kalau siang itu juga kita jalan ke air terjun yang ada di Girijati? Nggak peduli berapapun uang atau perbekalan yang dibawa. Kamipun sepakat. Tadinya saya ngusulin pulang aja dulu, ganti motor yang bensinnya penuhan gitu, secara waktu itu motorku bensinnya alakadar aja. Pacar menolak. Akhirnya kami memutuskan pergi dari angkringan sekitar pukul 2 siang. Nama Girijati muncul karena waktu itu aku sempat baca tulisan Bekabuluh mengenai tempat-tempat terpencil di Jogja yang punya spot menarik namun jarang tersentuh publik luas. Gobloknya, aku cuma ngasal nge-bookmark tanpa baca full artikelnya, dimana lokasinya, apa aja obyeknya, dan seberapa jauh tempatnya. Aku bilang aja ke doi kalo di Girijati itu ada air terjunnya, sesuai dari foto yang aku lihat di artikelnya Bekabuluh.

               Perjalanan kami tempuh lebih kurang 45 menit dengan posisi pacar yang membonceng dan aku di depan kemudi. Akhirnya kami mampir beli bensin begitu sampai di daerah Jalan Parangtritis kilometer sekian. Karena panasnya siang itu amat menyengat banget, aku minta pacar yang nyetir di depan dan aku ganti membonceng. Eeehhh nggak lama kemudian, permintaan aku ini berujung pada malapetaka ketika kami menemukan sejumlah ACAB (sebutan pacar untuk 'all cops are bastard') yang sedang mengadakan razia pengendara motor. Pacar yang panik parah, karena nggak punya sim (sim doi udah expired 2 tahun alias hangus!) dan males banget berurusan dengan polisi. Akhirnya aku tukeran duduk di depan, namun hal ini juga tidak berhasil karena pacar tetap diminta SIM nya. ergh. Hingga akhir kata aku minta sidang saja daripada bayar di tempat juga kita makin nggak bisa pulang, duitnya lagian mana cukup buat bayar denda! Kita pun melanjutkan perjalanan dengan meninggalkan Stnk kepada para cecunguk tadi. Begitu capcus dari tkp, kita pun istirahat minum sambil berdiskusi soal gimana kelanjutan perjalanan ini. Biaya dua gelas es teh saat itu 4.000 (@ 2000), dan dibayar dengan uang pacar, alhasil duit doi tinggal 8000.

                Beberapa lama kemudian sampailah kami di tempat pemungutan retribusi Pantai Parangtritis. Yup, jika akan ke desa Girijati, destinasi kami, memang harus melewati TPR Parangtritis dan berdasarkan kesepakatan kami, kalau total tiket masuknya lebih dari uang sisa kami alias 8ribu rupiah, maka kami tidak jadi pergi ke tempat tujuan. Sesampainya di TPR:

Petugas: Yak, sepuluh ribu *nyodorin tiket masuk*
Aku     :Lah gak jadi pak gak jadi....*langsung mundurin motor teratur*
Petugas: Lho lho...kenapa?
Aku: Kita cuma punya lapan ribu, pak
Petugas: Yaudah yaudah gak papa *nyodorin tiket dan nyomot duit dari tangan pacar*
Aku: *tau gitu ngaku aja cuma punya tiga ribu!!!!*
    
             Alhasil secara resmi uang kami telah habis! Setelah itu kami melanjutkan perjalanan sesuai arahan informasi yang kami dapatkan dari orang-orang tentang Desa Girijati. Desa Girijati terletak beberapa kilometer di sebelah timur kawasan Pantai Parangtritis. saat kami telah memasuki dusun tersebut, kami mencoba bertanya maksud tujuan kami yaitu, air terjun Girijati. Ternyata banyak yang nggak familiar sama yang kami maksud, namun mereka menunjukkan Kali Guntur, yaitu tempat yang memiliki air terjun di dusun ini. Ada juga yang menanyakan kami ini sedang mencari rumah siapa? Setelah muter-muter melewati jalanan yang cukup curam di dalam desa, akhirnya kami menemukan air terjunnya!!! Nggak begitu worth it sebenernya dengan perjalanan kami yang cukup lama, tapi cukup okelah air terjun (mini)-nya buat ngademin kaki yang udah terpanggang seharian!
hayo stalagmit atau stalagtit?
   Kali Guntur ternyata memiliki aliran air terjun yang juga mengairi sawah di dusun ini. Namun karena kondisinya yang tidak begitu diperhatikan, banyak tanaman talas di sekitarnya dan bambu-bambu serta potongan-potongan tumbuhan sehingga penampakannya tidak begitu menarik. Oh ya, ada juga stalagtit yang menjuntai panjang di antara air terjun. Coba sedikit tertata rapi dan bersih maka air terjun ini cukup pantas jadi tempat pelarian yang ciamik! :))



      Usai semuanya, kami putuskan untuk pulang, meskipun tahu kami bakalan kehabisan bensin karena uang tinggal seribu rupiah aja. Bisa apa dengan seribu?? Akhirnya betulan deh pas nyampe di daerah Imogiri gitu, motor aku macet kehabisan bensin! Hufft...alhasil kita,  eh, si pacar ndorong motor sekitar 100 meter dan kita udah nemu warung bensin. Siaaalnyah si penjual bensin ini tidak menerima jaminan KTP akooohh, terpaksalah dan dengan berat hati...SIM aku yang harus jadi jaminan. Lengkaplah sudah perjalanan hari ini! Uang, SIM dan STNK pun tak ada..tinggalah perut kosong yang tertinggal. hiikss Tapi yasudahlah... 

because this is journey, it's not about the destination, isn't it? ciao!

Geen opmerkingen:

Een reactie plaatsen